Minggu, 16 Agustus 2020

Bertimbal Balik

6 bulan yang lalu, seorang tetangga meminta password Wi-Fi rumah kami. Saya pun memberikannya, karena toh meskipun kami membayar langganan setiap bulan, tapi jarang kami pakai karena kami jarang di rumah, jadi sering over kuota. Toh juga mereka tetangga yang baik, tidak ada salahnya berbagi.

Kemarin saat saya pulang, tetangga saya ini ada di depan rumahnya. Saya pun ngobrol beramah tamah seperti biasa, dan dengan gembira dia bercerita bahwa mereka sekarang berlangganan Netflix. Mendengar ceritanya sayapun ikut bergembira, sambil bercanda saya mengatakan "Wah kalo aku sih jarang di rumah ya, hampir nggak sempat nonton TV, tapi boleh lah ya kapan-kapan pinjem passwordnya, siapa tau ada yang mau ditonton". Tapi suara saya terpotong oleh oleh sebuah suara yang terdengar dari kejauhan, ternyata istrinya, yang duduk di dalam mobil yang menyala "Waduh gimana ya kayanya belum bisa, kami bayarnya lumayan mahal"

Dan suasana pun hening!

Suaminya berusaha mengalihkan pembicaraan, mungkin karena merasa tidak enak hati atas perkataan istrinya. Begitu istrinya masuk ke rumah, dia meminta maaf dan meminta jangan dimasukan ke hati. Saya katakan santai saja tidak perlu diperpanjang. Kami lanjut mengobrol lagi sampai saya pamit masuk ke dalam rumah. Tapi dia masih tetap di terasnya sambil menyiram tanaman.

Tak lama kemudian, istrinya keluar untuk memanggilnya, dia tampak kebingungan, mengatakan TV nya rusak, saya hanya melihat dari jendela. Setelah beberapa menit, dia dan istrinya mengetuk pintu rumah saya dan memberi tahu bahwa Wi-Fi tidak jalan, passwordnya tidak bisa masuk. Saya tersenyum melihat mereka dan berkata, "Passwordnya aku ganti, kami bayarnya lumayan mahal, jadi belum bisa bagi-bagi ". 

Wajah istrinya memerah dan mencoba mengatakan sesuatu, tapi tak ada satu katapun yang keluar. Mereka pun berbalik dan pulang menutup pintu.

_______________________________

Cerita ini bukan cerita saya, tapi ada pelajaran yang saya ambil, bahwa hidup ini haruslah saling bertimbal balik. Kamu tidak bisa terus mengambil tanpa memberi, persahabatan haruslah saling bertimbal balik, cinta haruslah saling bertimbal balik, kasih sayang haruslah saling bertimbal balik.

Mungkin saja kamu bisa terus mengambil tanpa merasa harus memberi, tapi ingat semesta ini selalu menyeimbangkan, pasti akan ada saja yang diambilnya darimu, bahkan sesuatu yang kamu genggam erat, karena takut akan kehilangan.

Tetapi jika kamu terus memberi dengan harapan akan mendapatkan kembali, mungkin kamu akan sering kecewa, karena sumber kekecewaan terbesar umat manusia adalah ekspektasinya sendiri. Namun begitu semesta ini selalu menyeimbangkan, akan mengembalikan pemberian yang telah kamu lupakan.

Jika di tahun 2020 ini kamu banyak kehilangan, maka janganlah bersedih, karena bisa jadi itu adalah timbal balik dari apa yang telah kamu ambil di tahun-tahun sebelumnya. Tetapi jika di 2020 ini kamu mendapatkan lebih, sementara orang disekitarmu kekurangan, bisa jadi itu timbal balik atas apa yang kamu berikan di masa sebelumnya yang kamu sudah tidak ingat, dan jangan lupa untuk memberi yang kekurangan kemudian lupakan pemberianmu. Kita tidak pernah tahu kapan masa sulit akan datang lagi, bisa jadi pemberianmu yang akan menyelamatkanmu. Gusti mboten sare dan semesta ini akan terus menyeimbangkan.


Surabaya, 16 Agustus 2020

R. Shantika Wijayaningrat

Sabtu, 25 Juli 2020

Bahagia Kita Tidak Sama

 "Kasihan ya, mereka udah nikah 5 tahun tapi belum punya anak"

"Itu lho yang yang belum nikah, padahal umurnya udah 40, kasihan"
"Owalah, kok nggak coba ikut CPNS aja?"
"Udah enak-enak kerja di situ, gaji 20 juta, malah resign. Bodoh namanya"
"Ngapain beli rumah jauh di sana, mbok ya nyari yang deket-deket sini aja"

Dan masih banyak lagi.....

Mungkin kamu pernah dihadapkan pada salah satu situasi di atas? Mungkin sebagian bisa menjawab, tapi sebagian yang lain bingung harus mengatakan apa.

"Kasihan ya, mereka udah nikah 5 tahun tapi belum punya anak"
Padahal mereka memang belum ingin punya anak, ingin fokus berkarir, atau bahkan memang mereka nggak pengen punya anak, ingin hidup bahagia berdua saja. Mereka tidak sedih dengan hal itu, dan tidak ingin dikasihani.

"Itu lho yang belum nikah, padahal umurnya udah 40, kasihan"
Padahal memang itu pilihan hidupnya sendiri, dia merasa bahagia dengan kesendiriannya. Karirnya bagus, hubungan dengan keluarganya juga baik, dia punya banyak saudara, keponakan dan sahabat. Tidak masuk klasifikasi harus dikasihani.

"Owalah, kok nggak coba ikut CPNS aja?"
Tidak semua orang di dunia ini ingin menjadi PNS, banyak anak muda yang lebih menginginkan karir yang dinamis, dengan dinamika yang lebih menantang, yang tidak mengkerdilkan kreatifitasnya. Atau bahkan tidak ingin terkekang oleh sesuatupun seperti menjadi orang kantoran.

"Udah enak-enak kerja di situ, gaji 20 juta, malah resign. Bodoh namanya"
Padahal dia berencana untuk berwirausaha, dengan modal dari tabungannya yang sudah cukup. Dia sudah punya rencana hidup yang diperhitungkan dengan matang. Dan dia bukan orang bodoh.

"Ngapain beli rumah jauh di sana, mbok ya nyari yang deket-deket sini aja"
Kemampuan finansial untuk membeli rumah setiap orang berbeda-beda, mungkin memang dia menginginkan rumah yang dekat dengan tempat bekerja, atau dengan dengan keluarga induk, tapi apa daya kemampuan finansialnya tidak memenuhi. Atau mungkin memang dia menginginkan rumah yang jauh dari hiruk pikuknya kota. Hanya yang memutuskan yang tahu.

Kita sering kali membandingkan semua hal dengan sudut pandang kita sendiri. Banyak yang asal bertanya atau berkomentar tanpa mengetahui alasan dibalik semua keputusan yang mereka ambil. Hanya karena kita merasakan bahagianya punya anak, bukan berarti kita bisa menilai mereka yang tidak punya anak hidupnya menderita.

Atau hanya karena kita merasa bahagia karena sudah menikah, bukan berarti kita bisa menilai mereka yang belum menikah hidupnya sengsara, atau nggak laku.

This is our society, banyak orang menggunakan standartnya untuk mengukur kebahagiaan hidup orang lain. Apa yang di luar ukuran kebahagiaanya, pastilah orang lain itu dianggap menderita dan perlu dikasihani. Begitu pula dengan keputusan hidup, jika seseorang membuat keputusan hidup yang berbeda dengan yang dia ambil, pastilah dianggap bodoh atau aneh.

Kita kadang terlalu sibuk untuk menilai dan mendikte orang lain untuk berbahagia menurut cara kita.
Padahal yang menjalani hidup ya orang lain, cara mereka bahagia hanya mereka yang tahu. Selama tidak melanggar hukum dan merugikan orang banyak mengapa kita harus mengasihaninya. Padahal sendiri tidak tahu akhir dari kehidupan kita sendiri. Bisa jadi di akhir hayat malah hidup kita jauh dari ketenteraman, karena kita selalu menghakimi dan menilai orang lain agar sama dengan ukuran kita.


Surabaya, 25 Juli 2020
R. Shantika Wijayaningrat

Sabtu, 20 Juni 2020

Pohonmu Tidak Berbuah Hari Ini

Pada tahun 1558 Kyai Gede Pamanahan beserta seluruh keluarga dan pengikutnya melakukan hijrah dari kota Pajang di Solo menuju hutan Mentaok yang sekarang disebut Yogyakarta. Iring-iringan itu cukup besar dan perjalanannya cukup melelahkan apalagi hanya dengan berjalan kaki sedangkan barang-barangnya diangkut menggunakan gerobag sapi dan kerbau. Ketika sampai di sebuah desa dekat Prambanan, rombongan Kyai Pemanahan beristirahat ditepi sungai Opak, sesepuh desa setempat yang disebut Kyai Gede Karanglo memberikan makan minum dan tempat istirahat kepada Kyai Pemanahan dan semua pengikutnya. Meskipun Kyai Karanglo bukanlah orang yang kaya raya, tetapi dia menjamu para musafir itu dengan keikhlasan. Setelah hilang kepenatan, Kyai Pemanahan beserta rombongan melanjutkan perjalanan dan membangun pemukiman baru yang disebut Mataram.

Pada tahun 1750, Paku Buwono III, raja Keraton Surakarta menikahi seorang gadis desa anak penjual arang di Pasar Singosaren bernama Rara Beruk. Awalnya Rara Beruk dititipkan ayahnya untuk menjadi abdi di keputren, karena cantik dan cerdas, Rara Beruk kemudian dijadikan badhaya semacam korp penari di keraton. Dan siapakah ayah Rara Beruk ini? ternyata dia adalah keturunan dari Kyai Karanglo yang pernah menolong Kyai Pamanahan, leluhur Paku Buwana III hampir 200 tahun sebelumnya.

__________________________________________

Mungkin kisah ini terlihat kebetulan saja, tetapi tidak mungkin Tuhan bermain dadu, melakukan sesuatu secara acak. Kebaikan yang dilakukan oleh Kyai Karanglo tidak langsung dibalas oleh Tuhan saat itu juga, butuh hampir 200 tahun untuk Kyai Karanglo menerima balasan atas kebaikannya, bahkan mungkin Kyai Karanglo tidak berekspektasi apapun saat itu. Kini keturunan Kyai Ageng Pamanahan yang juga keturunan Kyai Ageng Karanglo memerintah sebagai raja-raja di Solo dan Yogya, Tak terhitung berapa banyak yang menjadi orang besar di negeri ini, berapa banyak yang menjadi pahlawan nasional. 

Sahabatku, jika hari ini kita mendapatkan kemuliaan dan terbebas dari penindasan, bisa jadi itu memang karena usaha kerasmu. Tapi kebaikan yang dilakukan oleh orang tuamu, kakek nenekmu bahkan leluhurmu juga telah menuntunmu ke dalam karma yang baik. Kita tidak pernah tau.

Jangan melupakan leluhurmu, tanpa mereka, kamu bukanlah kamu yang ada saat ini.


Surabaya, 20 Juni 2020
R. Shantika Wijayaningrat

Selasa, 28 April 2020

Control Your Self

Memasuki bulan Ramadhan bagi kaum muslim memiliki banyak makna, ada yang bermakna ganjaran setiap ibadahnya akan dilipatgandakan, ada memaknai sebagai sarana pembersihan dosa, atau ada yang mengartikan sekedar nggak makan sama minum. Tentunya setiap orang memiliki pemahaman dan motivasi sendiri-sendiri dalam memaknai bulan Ramadhan.

Bagi yang memahami betul hakikat berpuasa, berpuasa bukan sekedar berhenti makan dan minum di siang hari, tetapi juga kontrol terhadap diri sendiri sepenuhnya. Di hari biasa kalau kita haus, tinggal ambil air minum, kalau lapar ya tinggal makan, emosi ya tinggal meluapkannya dengan kemarahan. Tapi di bulan puasa ini, kita diwajibkan untuk mengontrol tindakan kita, ucapan kita, bahkan sekedar pikiran kita. Bayangkan siang-siang punya pikiran mesum saja sudah bisa membuat puasa jadi sia-sia.

Tapi kali ini kita tidak akan membahas mengenai puasa ramadhan dan amalan-amalan yang diyakini untuk dikerjakan. Tapi kita bahas mengenai pentingnya pengendalian pikiran dalam hidup.

Pangeran Siddharta pernah mengatakan "If you can control your mind, you can control your life". Ternyata apa yang selama ini terjadi dalam hidup berasal dari pikiran kita sendiri. Kita meyakini kebenaran hukum tabur-tuai, dimana jika kita menanam padi maka kita akan memanen padi, sementara jika kita menanam ilalang, maka yang kita panen adalah ilalang.
Ternyata begitupun dalam pikiran ini, jika kita dipenuhi pikiran positif, maka semesta akan merespon dengan mendatangkan hal-hal positif dalam hidup kita. Sementara jika kita dipenuhi pikiran negatif, maka hidup ini seolah ada-ada saja masalahnya, selesai masalah satu ganti masalah yang lain.

Bahkan Tuhan berfirman dalam sebuah haditz qudsi “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” [HR. Muslim 4832, 4851; Tirmidzi 3527, Ahmad 7115] 

Sabtu, 21 Maret 2020

Coklat Dari Yerusalem


Senin pagi kemarin saya bangun dalam keadaan capek, mood jelek dan mager, saya butuh setengah jam untuk mengumpulkan motivasi untuk mandi dan sarapan. Tidak biasanya memang Senin pagi nggak mood seperti ini, mungkin tensi sedang tinggi mengingat beberapa hari sebelumnya tensi saya sempat mencapai 139/86, cukup tinggi untuk orang seusia saya. Di tas seharusnya ada persediaan coklat dairy milk kecil-kecil untuk memperbaiki mood, tapi ternyata coklat terakhir sudah saya makan dua minggu sebelumnya dan lupa belum men-stock lagi.Yasudah-lah, nanti saja beli sambil jalan” pikir saya. Ternyata sampai siang saya tidak sempat mampir ke minimarket, karena dikejar titipan dokumen dari kantor Gresik ke kantor Surabaya. Baru ingat begitu masuk parkiran di basement “Oiya tadi mau beli coklat” dan lagi-lagi saya menghela nafas “Yo wis lah…”.

Saya masuk kantor dan bekerja seperti biasa, biarpun masih agak “nggak mood”. Menjelang sore, seorang teman kantor masuk ke ruangan membawa tas plastic besar, sambil mengatakan “ada oleh-oleh dari boss, pulang dari Holy Land (Yerusalem/Baitul Maqdis)”. Dan apa oleh-oleh itu? Ternyata coklat satu kantong besar.

Saya yakin tidak cuma saya yang pernah mengalami kejadian semacam ini, dalam Bahasa Inggris disebut Serendipity terjemahannya mungkin “kebetulan yang menyenangkan”. Tapi pernahkan kita berpikir mengapa kebetulan semacam ini bisa benar-benar terjadi?

Di zaman yang serba modern ini, kita terbiasa dengan hal-hal yang instan. Pengen makan mie, tinggal bikin mie instant, cuma 5 menit, nggak pake lama. Cuma orang yang niat banget mungkin yang beli terigu sama telur lalu dicampur kemudian membuat mie sendiri. Apapun kini serba instan, mau makan apapun, kalo mager tinggal food delivery. Hal yang serba instan inilah yang membuat mindset kita menginginkan apapun serba cepat. Disadari atau tidak hal-hal instant mendidik kita untuk berorientasi pada hasil akhir. Kita tidak mau tahu prosesnya, yang penting kita tahu hasilnya.

Dulu waktu sekolah, kita pengen cepet lulus lalu kuliah. Setelah kuliah, kita pengen cepet wisuda lalu kerja. Begitu bekerja, kita pengen cepet naik gaji/naik jabatan. Ada juga yang  pengen cepet nikah. Setelah menikah pengen cepet punya anak. Setelah punya anak, pengen cepet anak gede biar bisa sekolah dan seterusnya. Kita mau semuanya pengen cepet, bahkan baru hari Senin pun kita pengen cepet hari Jumat. This is our society. Dan apa yang terjadi? Ketika sesuatu melambat dan tidak sesuai dengan ekspektasi, yang datang adalah kekecewaan dan frustasi.

Ada berapa banyak ibu rumah tangga muda yang frustasi karena merasa tidak kunjung punya anak. Ada berapa banyak orang kantoran di luar sana yang nglokro karena merasa tidak kunjung naik gaji/naik jabatan. Ada berapa banyak pengusaha pemula yang banting setir kanan banting setir kiri karena merasa tidak kunjung sukses. Padahal waktu dan usaha yang dilakukan belum tentu sudah maksimal.

Enjoy the Process

Di saat ini banyak sekali orang yang mengeluhkan betapa lambatnya perkembangan hidup mereka, rasanya hidup kok gini-gini aja ya. Kok rasanya segala target dalam hidup ini jadi terlihat menjauh. Sementara itu, masifnya social media membuat generasi ini makin tidak bisa berhenti untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain, bahkan dengan orang yang tidak mereka kenal sekalipun di Instagram/facebook.

Seolah-olah hidup ini haruslah seindah timeline Instagram orang-orang itu. Padahal kita punya jalan hidup sendiri-sendiri yang dikehendaki oleh Tuhan.

John Pemberton penemu Coca Cola, hingga usia 56 tahun belum menemukan formula yang pas untuk minuman fenomenal ini. Colonel Sanders pendiri KFC, hingga usia 65 tahun, masih belum menemukan restoran yang mau menerima ayam gorengnya. Sementara itu Jack Ma, pengusaha terkaya nomer 3 di China, baru mendapatkan kerja setelah lamarannya ditolak 33 kali. Di sudut pandang yang lain, Nabi Zakariya, baru dikaruniai anak setelah istrinya berumur 98 tahun

Mungkin kamu tidak akan se-tua John Pemberton atau Colonel Sanders untuk mencapai kesuksesan, karena kamu tidak memulai sebagaimana mereka memulai. Atau kamu tidak perlu ditolak bekerja hingga 33 kali seperti Jack Ma karena saat inipun kamu sudah bekerja. Kamu yang menginginkan punya anak juga tidak perlu menunggu hingga berumur 98 tahun karena kamu bukan se-level nabi dalam menerima ujian Tuhan. So be present, and enjoy the process.

Semakin kita menikmati setiap proses dalam hidup, entah itu keberhasilan 1 langkah maupun kegagalan 1 langkah, maka kita semakin bersyukur dengan perjalanan yang telah kita tempuh, dan kita semakin fokus untuk menemukan jalan menuju apa yang kita tuju. Bukan malah mengutuki nasib atau berputus asa karena Tuhan tak kunjung mengabulkan doa kita.

Waktumu tidak sama dengan Waktu-Nya

Ada banyak diantara kita yang merasa doanya tidak kunjung dikabulkan Tuhan, baru berdoa tadi malam, tapi ingin dikabulkan besok pagi. Kehidupan serba instant di zaman ini seolah membuat kita meminta Tuhan untuk melakukan keajaiban-keajaiban secara instant juga, bahkan kadang men-dikte Tuhan. Kita tidak ingin tahu prosesnya bagaimana, pokoknya pengen cepet jadi.

Jika dikehendaki, bagi Tuhan mengabulkan doamu adalah hal gampang. Kamu berdoa ingin kaya raya, dalam semalam Tuhan bisa mengisi kolong ranjangmu dengan uang. Tapi bisa jadi Tuhan menunda mengabulkan apa yang kamu inginkan karena memang kamu belum membutuhkannya. Atau bisa jadi Tuhan merencanakan sesuatu yang besar daripada apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Kita tidak pernah tahu waktunya Tuhan.

Kamu yang ingin membeli rumah karena sungkan hidup ikut mertua, kamu tidak tahu mungkin saat ini pengembangnya sedang nego harga dengan pemilik tanahnya. Atau kamu yang ingin pergi haji, kamu tidak tahu mungkin pesawat yang membawamu ke sana sedang di rakit di suatu tempat di Jerman sana saat ini. Kita tidak tahu apa yang sedang dikerjakan-Nya untuk mengabulkan doamu.

Seperti coklat dari Yerusalem, Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah direncanakan oleh Tuhan. Karena segala sesuatu ada waktunya.

Surabaya, 21 Maret 2020
R. Shantika Wijayaningrat






Sumber Referensi
Byrne, Rhonda. 2006. The Secret. USA: Atria Book
Koch, Richard. (2019). The 80 / 20 Principle. London: MIC 
Paksi, Yopi Jalu. 2010. 101 Tips Kilat Barpikir Positif dan Berjiwa Besar. Yogyakarta: Media Pressindo
Ranggawarsita, R.Ng. (1873) Serat Sabdajati. Karaton Surakarta Hadiningrat: Sasana Pustaka
Suseno, Franz Magnis. (1984Etika Jawa: Sebuah analisis falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa, Jakarta: PT Gramedia

Sabtu, 29 Februari 2020

Hidupmu dan Pikiranmu


Kepercayaan menentukan hal yang kamu capai dalam hidup. Orang yang percaya bahwa dirinya tak bisa melakukan hal- hal yang besar, tidak akan pernah melakukan hal-hal yang besar. So, saat ini apa yang kamu percayai tentang diri kamu sendiri? Apakah kamu memandang keadaan kamu saat ini adalah sesuatu yang permanen dan tak bisa diubah? Atau berpikiran “Hidupku ya gini-gini aja, biasa-biasa aja.”?

Memang ada beberapa hal yang tak bisa kita ubah dalam hidup ini, tapi itu bukan berarti kita pasrah dengan keadaan hidup yang tidak menyenangkan. Kita dibekali kemampuan untuk mengubah keadaan hidup itu dengan alat yang dinamakan Pikiran”. Pïkiran inilah yang menentukan seberapa baik perjalanan hidup kita.

Setiap orang adalah produk dari pikirannya, dengan percaya hal-hal baik kepada diri sendiri, maka segala sesuatu yang baik pasti akan terjadi .

Setiap orang pasti menginginkan hidupnya baik. Namun, banyak yang tak tahu cara meraihnya. David Schwartz, penulis buku The Magic of Thinking Big mengatakan bahwa keadaan yang baik itu diawali dari pikiranmu yang baik. Senada, Rhonda Byrne dalam The Secret yang fenomenal itu mengatakan  bahwa apa yang paling kamu pikirkan atau fokuskan akan muncul dalam hidupmu. So, pikirkanlah hal-hal yang baik agar hidup yang kamu jalani ini baik dan dipenuhi dengan kejutan kejutan yang baik.

Surabaya, 29 Februari 2020
R. Shantika Wijayaningrat



Sumber Referensi
Byrne, Rhonda. 2006. The Secret. USA: Atria Book
Koch, Richard. (2019). The 80 / 20 Principle. London: MIC 
Paksi, Yopi Jalu. 2010. 101 Tips Kilat Barpikir Positif dan Berjiwa Besar. Yogyakarta: Media Pressindo
Ranggawarsita, R.Ng. (1873) Serat Sabdajati. Karaton Surakarta Hadiningrat: Sasana Pustaka
Schwartz, David J. 1959. The Magic of Thinking Big. USA: Wilshire Book Co
Suseno, Franz Magnis. (1984Etika Jawa: Sebuah analisis falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa, Jakarta: PT Gramedia


Kamis, 30 Januari 2020

Pindah Ibukota? Not The First Time

From : Historia
Wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta kembali ramai dibicarakan usai Presiden Joko Widodo menggelar rapat tertutup di Kantor Presiden, Jakarta, akhir bulan lalu. Salah satu alasannya, wilayah Jakarta sudah penuh disesaki 30 juta penduduk atau lebih dari 10 persen populasi Indonesia.

“DKI Jakarta kini memikul dua beban sekaligus: sebagai pusat pemerintahan dan layanan publik, juga pusat bisnis. Banyak negara memindahkan ibu kotanya, sementara kita hanya menjadikannya gagasan di setiap era Presiden. Menurut Anda, di mana sebaiknya ibu kota negara Indonesia?” tulis Jokowi di akun Twitter-nya

Ini bukan pertama kalinya presiden Indonesia mempertimbangkan untuk memindahkan ibu kota. Proposal untuk pemindahan ibu kota ke Palangkaraya muncul awal 1950-an, di era Soekarno. Pun pemerintahan Jokowi sudah mempelajari kelayakan pemindahan ibu kota ke Palangkaraya sejak 2017.

Jauh sebelum masa itu, memindahkan ibu kota negara sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi, khususnya dalam sejarah Jawa. Namun pada masa lalu, keputusan itu sering kali disebabkan karena adanya invasi musuh.

Epigraf Boechari dalam tulisannya, “Shift of Mataram’s Centre of Government”, menyebut hal itu masuk akal. Sebab, orang Jawa mempercayai keraton yang telah diserang musuh sudah tak suci lagi dan harus dipindah.

Ada pula kepercayaan terhadap siklus yuga. Dalam ajaran Hindu ada empat jenjang masa dalam siklus yuga, yaitu Dwaparayuga, Tretayuga, Satyayuga, dan Kaliyuga. Zaman Kaliyuga disebut pula zaman kegelapan. Berdasarkan itu, penguasa yang berada di generasi keempat diharuskan untuk memindahkan kerajaannya ke tempat lain agar terhindar dari kekacauan.

Hal itu terlihat ketika Sultan Agung memindahkan ibu kota ke Karta. Dia mewakili penguasa ke-4 dari Ki Ageng Pamanahan, sang pendiri dinasti. Amangkurat I juga memindahkan ibu kota dari Karta ke Plered. Dia merepresentasikan generasi ke-4 dari Panembahan Senopati, penguasa pertama Mataram Islam.

Sebelum Mataram Islam, beberapa kerajaan kuno pernah memindahkan ibu kota kerajaannya, di antaranya sebagai berikut:

Mataram Kuno
Ibu kota Mataram Kuno atau Medang misalnya, paling tidak pernah pindah dua kali pada periode Jawa Tengah. Buktinya dalam Prasasti Siwagraha (778 Saka/856 M) dan Prasasti Mantyasih I (829 Saka/907 M) disebutkan Mamratipura dan Poh Pitu sebagai ibu kota.
Dalam Prasasti Siwagraha disebutkan Dyah Lokapala ditahbiskan pada 778 Saka di Keraton Medang di Mamaratipura. Sementara Prasasti Mantyasih I mengisahkan seorang raja pada masa lalu yang tinggal di Keraton Medang di Poh Pitu.
Boechari menjelaskan ada beberapa desa bernama Medang tersebar antara Purwodadi-Grobogan dan Blora di bagian utara Jawa Tengah sekarang. Namun apakah dulunya desa-desa itu bagian dari pusat Kerajaan Mataram Kuno pada masa lalu, itu belum bisa dibuktikan.
Pada era Mpu Sindok atau Sri Isyana Vikramadhammatunggadeva sekira 929 M, kerajaan ini dipindahkan ke Jawa bagian timur. Banyak pendapat soal alasan kepindahannya.

Kahuripan
Airlangga pendiri Kerajaan Kahuripan, pernah memindahkan kerajaannya dua kali. Ibu kota pertama dibangun ketika dia ditahbiskan menjadi raja setelah hancurnya pemerintahan Dharmawangsa Tguh. Lokasinya di Wwatan Mas, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Cane (943 Saka/1021 M). Dalam Prasasti Kamalagyan (959 Saka/1037 M), Kahuripan disebutkan sebagai lokasi keraton Airlangga.
Boechari berpendapat, perpindahan ini disebabkan adanya invasi musuh. Pendapatnya didasarkan pada Prasasti Terep dari 954 Saka (1032 M).
Ada kemungkinan juga kerajaan ini kembali dipindahkan ke Dahana(pura). Itu ditunjukkan dengan kemunculan kata “dahana” yang diukir dalam aksara kuadrat besar pada Prasasti Pamwatan (964 Saka/1042 M). Namun tak ada bukti soal alasan kepindahan ibu kota yang kedua ini.

Majapahit
Kerajaan Majapahit kemungkinan juga telah berpindah-pindah ibu kota beberapa kali. Penguasa pertamanya, Wijaya, membangun kerajaan di Tarik atau Trik yang ada di delta Sungai Brantas, sebelah timur Kota Mojokerto saat ini. Pendirian itu dikisahkan dalam naskah Pararaton, Nagakartagama, Kidung Ranggalawe, Kidung Harsawijaya, serta diabadikan dalam Prasasti Kudadu (1294 M) dan Prasasti Sukamrta (1296 M).
Sedikit sekali dari ibu kota pertama Majapahit ini yang tersisa sampai sekarang. Namun, belum lama ini, warga mendapati bekas bangunan bata, fosil kayu, dan hewan di areal persawahan dan makam di Dusun Kedungklinter, Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Sidoarjo. Diduga situs ini merupakan cikal-bakal Kerajaan Majapahit.
Berbeda dengan ibu kota pertamanya itu, lebih banyak bukti arkeologis ditemukan di Trowulan, Mojokerto. Hal ini yang menambah kemungkinan untuk menunjuk wilayah itu sebagai ibu kota Majapahit berikutnya.

Mataram Islam
Babad Tanah Jawi memberi bukti adanya perpindahan ibu kota pada masa Kerajaan Mataram Islam. Ki Ageng Pamanahan membangun sebuah permukiman di Kuta Gede, di mana Kota Gede, Yogyakarta kini berada. Kemudian anaknya, Panembahan Senapati, penguasa pertama Mataram, membangun tembok di sekelilingnya.
Cucu Panembahan Senapati, Sultan Agung, membangun keraton baru di Karta. Sementara anak dan pewaris takhta berikutnya memindahkan lokasi keraton ke Plered.
Pada 1677, ibu kota baru itu diserang pasukan Trunajaya yang memaksa Amangkurat melarikan diri ke barat dan tewas di Tegalarum. Setelah serangan itu, ibu kota baru dibangun di Wanakarta yang kemudian diberi nama baru Kartasura.
Pada 1724, Kartasura digempur oleh Cakraningrat IV dari Madura. Kemudian setelah takhta dikuasai Susuhunan Pakubuwono II, sebuah tempat baru dibangun di Surakarta pada 1744.