Senin, 29 Agustus 2016

BUKAN APA YANG TELAH DIA AMBIL DARIMU TAPI APA YANG TELAH DIA BERI



Suggestion: Membaca artikel ini akan lebih menyenangkan jika diiringi dengan mendengarkan musik yang tenang dan meditatif.





Setiap individu memiliki pandangannya sendiri-sendiri mengenai hidup dan kehidupan. Ada yang memandang hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang menuju sebuah kehidupan baru di akhir nanti, ada yang memperumpamakan hidup ini sebagai sebuah roda yang terus berputar, kadang diatas dan kadang dibawah dan akan terus seperti itu. Ada pula yang merasakan hidup ini sebagai sebuah ladang, apa yang kita tuai adalah apa yang kita tanam. Akan tetapi pada dasarnya pandangan setiap individu akan hidup dan berkehidupan adalah berdasarkan pengalaman pribadi masing-masing.
Namun demikian pengalaman hidup tidak lantas  membuat semua orang menjadi “berpengalaman”, masih tetap saja ada satu diantara kita yang terus mengulangi kesalahan yang sama, dan menghadapi masalah yang sama dengan cara yang sama seperti di masa  lalu, sama-sama tidak menuntaskan. Yah memang pada dasarnya setiap kesalahan pastilah menghasilkan kekecewan.  
Berbicara mengenai kekecewan, memang tidak ada manusia yang akan luput darinya. Orang Jawa mengatakan “cuwa, lali, apes lan gela miliking manungsa” mudah kecewa, mudah lalai, sering bernasib sial, suka berputus harapan adalah bagian dari kehidupan manusia. Banyak orang yang larut dalam kekecewan dan kesedihan hingga putus asa dan mengutuki kehidupannya. Padahal tidak akan ada asap jika tidak ada api. Tidak akan ada kesusahan jika kita  tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan kesusahan itu sendiri.
Quran mengatakan “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”. Jadi sekiranya jika kita ditimpa kesukaran dalam hidup, tidak perlulah kita menyalahkan siapapun, apalagi hingga mengutuki nasib, karena kalau kita mau flashback ke belakang pasti ada sesuatu yang kita sadari atau tidak yang tidak tepat kita lakukan. Tapi bukan berarti juga disaat saat seperti itu kita harus meratapi masa lalu dan menangisinya, apalagi terus mengorek-ngorek dimana kesalahan kita hingga Tuhan memberi balasan seperti ini. Yang kita butuhkan cukuplah berintrospeksi diri, toh Tuhan selalu memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Buddha mengatakan ketika seekor burung hidup, dia akan memakan banyak semut, tetapi ketika si burung mati, maka semut-semut akan memakannya. Dan Yesus bersabda orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. Musibah dan kesusahan sebetulnya adalah sebuah kelegaan, karena berarti Tuhan sudah menjatuhkan hukuman atas kesalahan kita dimasa lalu dan mungkin yang sudah kita terima balasannya tidak akan kita terima lagi, kecuali kalau kita mau mengulangi lagi. Tapi pada dasarnya manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu dan ngeyel,  mereka akan bertanya-tanya apakah berarti kita tidak boleh melakukan kesalahan?, dan bagaimana jika kesalahan itu tidak disengaja? Maka jawabannya adalah… “Ya sudah… toh kita adalah manusia yang tak luput dari kekhilafan”, maka berharap saja Tuhan mengampuni kesalahan kita. Jika kita dalam hidup ini selalu punya niatan yang baik, maka pasti ada kebaikan yang kita dapatkan dari hidup ini.
R. Ng. Ranggawarsita seorang pujangga mengatakan dalam Serat Kalatidha “Ndilalah kersa Allah, beja-bejaning kang lali, luwih beja wong kang eling lan waspada” yang jika ditafsirkan kurang lebih seperti ini “Pastilah Tuhan menghendaki, seberuntung-beruntungnya (seenak-enaaknya hidup) orang yang lalai (pura-pura khilaf atau mengkhilafkan diri) masih lebih beruntung orang  yang selalu ingat (eling) dan menjaga diri dari kesalahan (waspada)”
Pada akhirnya musibah, kesukaran, kesulitan, kesedihan dan kesusahan bukanlah mengenai apa yang Tuhan ambil dari kita, melainkan apa yang Tuhan beri, agar kita tidak lupa bahwa ternyata dalam hidup ini ada banyak hal yang tidak kita syukuri.

Solo, 29 Agustus 2016
R. Shantika Wijayaningrat


pictures/illustrations by google