Senin, 27 Februari 2017

The Chronicle of Krendawahana



Jalan masuk menuju Situs Krendawahana
Mungkin tidak banyak yang pernah mendengar nama Krendawahana, kecuali para penggemar wayang kulit dan orang-orang yang aktif di dunia spiritual Jawa. Krendawahana merupakan nama hutan yang terletak di sebelah utara Kota Solo yang luasnya saat ini tidak lebih dari 1 hektar dan terus berkurang akibat padatnya pemukiman. Saya tertarik untuk menulis mengenai Hutan Krendawahana ini karena masih banyak yang masih salah paham mengenai hutan ini, meskipun situs ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang memiliki peran penting sebagai patok kosmologi Kota Solo disebelah utara.
Krendowahono/Krendawahana secara etimologi bermakna ‘berkendaraan kereta jenasah’ (Krenda - Keranda = Kereta Jenasah, Wahana = Kendaraan). Tidak ada yang tahu pasti mengapa hutan ini disebut demikian, karena tidak ditemukan catatan yang memadai dari naskah-naskah kuno mengenai asal mula hutan ini. Namun demikian sumber dari Keraton Surakarta menyebutkan bahwa hutan Krendawahana identik dengan Hutan Pasetran Gandamayit tempat tinggal Bathari Durga dari dunia pewayangan.
Durga
Bathari Durga adalah manifestasi (avatara) Bathari Uma atau Parwati yang merupakan permaisuri Bathara Guru (Shiva) dalam mitologi Jawa Kuna. Dewi Uma adalah seorang dewi yang berparas cantik dan memiliki banyak kesaktian. Kesaktian-kesaktian Dewi Uma ini kemudian diwujudkan dalam banyak manifestasi yang disebut Mahavidhya dalam  10 perwujudan.
Dhumawati menaiki kereta jenazah
Tidak banyak yang tahu bahwa Durga juga memiliki gelar sebagai Dewi Dumawati (Dhumavati) yang bermakna “janda dari tempat berkabut”. Dewi Dumawati digambarkan sebagai seorang wanita tua renta dengan pakaian serba putih sebagai symbol duka cita di zaman kuno, dia menaiki kereta jenazah yang dikelilingi banyak burung gagak. Dewi Dumawati merupakan manifestasi dari Durga sebagai pelindung kaum yang berputus asa, kehilangan harapan dan ketidak berdayaan. Karena itu Dumawati digambarkan sebagai wanita renta yang menaiki kereta jenasah.
Jika ditarik sebuah benang merah, bisa jadi Hutan Krendawahana memiliki hubungan erat dengan ritus pemujaan Dewi Dumawati di era Hindu-Buddha meskipun tidak ditemukan bukti-bukti arkeologis yang memadai. Namun kesimpulan ini cukup kuat mengingat hingga saat ini Hutan Krendawahana dianggap sebagai sebuah sanctuary atau monument pertemuan dengan Dewi Durga.
Durga dalam wujud Dewi Kali (tantra)
Lebih jauh mengenai Dewi Durga dan Dumawati, dalam mitologi Hindu Dumawati hanya dikenal dalam aliran tantra, yaitu sebuah aliran esoteric yang dianut terbatas oleh kalangan tertentu di masa Hindu-Buddha. Masyarakat umum biasanya menganut alira shaiva atau Siwa-isme yang cenderung moderat, namun kalangan tertentu  menganut aliran tantra yang bersifat isoteric atau mistik. Salah satu tokoh penganut aliran tantra yang terkenal adalah Raja Singhasari terakhir yaitu Raja Kertanegara. Dia menganut agama Buddha aliran tantrayana yang bersifat mistik yang umumnya dipenuhi dengan ritual-ritual pengorbanan yang diyakini sebagai jalan pintas untuk memutus rantai karma. Namun nampaknya hingga era peralihan Hindu – Islam, aliran tantra masih bertahan di daerah-daerah terpecil  di Jawa Tengah & Jawa Timur, hal ini terbukti dengan temuan-temuan arkeologis yang bersifat tantra di candi-candi lereng Gunung Lawu (Sukuh-Cetho dll) yang berasal dari dari abad 15-16.
Arca Durga Candi Menggung Tawangmangu
Hutan Krendawahana nampaknya juga memiliki kaitan dengan candi-candi tantra di lereng Gunung Lawu. Candi Sukuh & Candi Cetho memiliki relief yang bercerita mengenai Sudamala, dimana tokoh sentral dalam cerita ini adalah Sadewa (bungsu Pandawa). Dalam kisah ini Sadewa diculik oleh Ranini Dewi Durga untuk dikorbankan supaya Dewi Durga yang berwujud raksasa bisa kembali menjadi dewi yang cantik dan kembali tinggal di kahyangan. Setelah berhasil menculik Sadewa, Dewi Durga kemudian mengikat Sadewa disebuah pohon di Hutan Sentra Ganda Mayit. Namun sebelum Sadewa berhasil dijadikan korban persembahan, Sadewa berhasil diselamatkan oleh Bathara Guru yang merasuk ke dalam tubuhnya. Setelah selamat Sadewa pun meruwat Dewi Durga dan mengembalikan ke wujud aslinya yang cantik kemudian kembali ke kahyangan.
Sadewa diikat di pohon oleh Durga (relief Candi Sukuh Karanganyar)
Di situs Hutan Krendawahana dapat ditemukan pohon beringin putih yang dinamakan punden, yang menurut legenda merupakan pohon tempat Dewi Durga mengikat Sadewa sebelum dikorbankan. Setiap tahun, Keraton Surakarta mengadakan upacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung, dalam upacara ini dilakukan penanaman kepala kerbau lawung, yaitu kerbau jantan khusus yang masih belum kawin dan belum dipakai untuk bekerja.
Penanaman kepala kerbau ini semakin menguatkan hubungan hutan ini dengan Dewi Durga, mengingat dalam mitologi Hindu, Dewi Durga digambarkan berkendaraan kerbau yang kepalanya dipenggal yaitu Mahesasura (Arca Durga Mahisasuramardini). Upacara Mahesa Lawung sendiri  menurut literature kuna merupakan upacara Raja Weda dari masa kerajaan Hindu-Buddha  yang diformat ulang oleh wali songo sehingga menjadi upacara yang lebih Islami.
Upacara Mahesa Lawung oleh Keraton Surakarta

R. Shantika Wijayaningrat
Artikel ini ditulis dari sudut pandang pribadi penulis sebagai penggemar sejarah dan spiritualitas.
Sekiranya diperlukan sebuah penelitian yang lebih mendalam untuk menguji hipotesis yang disampaikan dalam artikel ini.