Minggu, 29 September 2019

Kamu Tidak Harus Memuaskan Semua Orang

Tepat satu tahun yang lalu saya menulis mengenai mengapa tidak harus menjadi "Be Yourself" melainkan "Be the Best Version of You", menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri. link di sini Be Yourself ! (Be Careful). Entah kenapa satu tahun kemudian saya mendapatkan "sasmito" untuk menulis kembali kelanjutan dari link tersebut, tapi dari sebuah sudut pandang yang berbeda.

Dalam perjalanan menjadi manusia yang lebih baik, kita tidaklah boleh berhenti belajar dan menerima masukan dari siapapun. Bagi seorang spiritualis, hal-hal kecil yang terlihat di jalanan saja bisa disadari sebagai sebuah "petunjuk" tergantung seberapa peka kita bisa menerima itu sebagai sebuah hikmah/petunjuk/lessons/sasmito dari semesta kepada kita. Bahkan apa yang dikatakan seseorang tak dikenal di depan kantor sekalipun bisa menjadi sebuah masukan untuk kita menjadi lebih baik.

Namun demikian, dalam perjalanan menjadi manusia yang baik itu tadi seringkali kita tersesat dalam sebuah pemikiran bahwa manusia yang baik adalah manusia yang disenangi oleh semua orang. Sehingga dalam melakukan tindakan kita menjadi sangat hati-hati dan berusaha untuk menyenangkan semua orang. Kita berusaha membuat orang tua kita senang, kakak kita senang, adik kita senang, paman kita senang, bibi kita senang, pacar kita senang (kalau punya), teman kantor senang, atasan kita senang, atasan kita di atasnya atasan kita senang, tetangga sebelah kanan senang, tetangga sebelah kiri senang, pak RT senang, satpam kompleks senang. Pokoknya semua orang yang kenal dengan kita harus senang kepada kita.

Disinilah arah orientasi menjadi manusia yang lebih baik menjadi berubah, kita move on tidak berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik, melainkan kita move on untuk berusaha menyenangkan orang lain (semua orang). Tapi memang sah-sah saja jika itu pilihan hidup yang kamu ambil, tapi ada alasan bahwa apa yang kamu kerjakan untuk bisa menyenangkan semua orang mungkin akan sia-sia.

Tidak semua orang punya pikiran yang sama
Kamu harus ingat bahwa setiap orang punya pikiran dan pandangan yang berbeda dalam menyikapi hidup, tergantung dari seberapa luas wawasan dan seberapa banyak pengalaman hidup. Ayahmu menginginkanmu menjadi tentara, ibumu menginginkanmu menjadi dokter, kakakmu menginginkanmu menjadi atlet, pamanmu menginginkanmu menjadi pengusaha dan lain lain. Jika kamu ingin menyenangkan hati semua orang, kamu akan menjadi dokter tentara yang berprestasi dalam bidang olahraga yang juga sukses sebagai pengusaha. Tapi tentu saja itu butuh perjuangan, dan itu baru hati 4 orang yang kamu senangkan, belum yang lain.

2.     Standart kepuasan hidup setiap orang berbeda
Mungkin kamu sudah merasa cukup dengan memiliki rumah sederhana tanpa harus kontrak rumah atau kos, tapi ada juga orang yang baru merasa cukup jika memiliki rumah yang luas, berlantai 3, dan ada juga yang baru merasa cukup jika tinggal di kastil dan bernyanyi dari balkon kastilnya setiap pagi. Begitu juga jika kamu mau menuruti kepuasan mereka semua, maka perjuanganmu tidak akan ada habisnya.

3.      Semua orang bertanggung jawab atas hidupnya masing-masing
Tetanggamu sebelah kanan listriknya diputus karena tidak mampu bayar listrik, semenjak dia di-PHK. Tetangga sebelah kirimu terancam bercerai karena sering bertengkar mengenai orang ketiga. Teman kantormu harus naik angkot setiap hari karena kendaraannya dicuri orang. Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, dan setiap orang juga bertanggungjawab atas hidupnya masing-masing. Jika kamu ingin menyenangkan semua orang, tentunya kamu tidak akan membiarkan mereka semua dalam masalah. Tapi ingat, kamu bukan Superman, atau juga bukan Al Masih yang menjadi juru selamat atas penderitaan semua orang. Tuhan memberikan ujian kepada setiap individu yang tentu saja sudah diukur sesuai kemampuan masing-masing. So, jangan bebani hidupmu dengan permasalahan orang lain, jika kamu ingin membantu orang lain maka bantulah sesuai kemampuanmu.

4.     
Banyak orang yang senang melihat kamu jatuh
“Banyak” disini bersifat subjective, tergantung seberapa baik lingkunganmu berada. Jika kamu berada dilingkungan kompetitif, maka hukum rimba seolah berlaku disini, siapa yang kuat maka dia-lah yang akan bertahan hidup, maka jangan heran jika ada saja orang yang menginginkan kamu lemah dan jatuh. Kelemahanmu akan mereka jadikan pijakan untuk melebihimu.

5.      Banyak pendapat yang hanya sekedar pendapat
Mungkin tidak semua, tetapi banyak sekali di dunia ini orang yang memberi nasehat tapi tidak mengaplikasikan apa yang katakan untuk dirinya sendiri. Seseorang mengatakan “Kamu itu jangan moody, ada orang kok gampang emosi” tapi dia sendiri mengatakan itu dengan emosi dan nada tinggi. Banyak juga yang memberi masukan kepadamu tapi juga sekedar masukan saja, dia tidak terlalu peduli apakah kamu akan benar-benar mengerjakan masukan darinya atau tidak.

6.      Orang bisa membenci tanpa alasan
Aku nggak suka kamu karena kamu sok ‘yes’ !” atau bisa juga “aku nggak suka sama dia karena nggak suka aja” , “nggak sukanya kenapa?”, “ya pokoknya nggak suka aja
Well, jangan dikira orang seperti itu tidak ada, setidaknya ada satu diantara 10. Sekeras apapun kamu mencari simpati orang seperti ini, tetap saja akan ada yang kurang dari mu di mata-nya. Lain lagi ceritanya kalau ada orang bilang “aku nggak suka sama kamu karena mukamu ngeselin” So, there’s nothing you can do?

7.      Nabi saja punya musuh
Sedih mah kalo inget banyak nabi-nabi terdahulu yang baik-baik dan pasti masuk surga tapi dimusuhi oleh kaumnya sendiri. Nabi Muhammad SAW saja sampai berpindah ke Madinah karena terus akan dibunuh oleh penduduk kampung beliau sendiri di Mekkah. Bahkan Nabi Isa AS yang menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati saja diperbolehkan untuk dibunuh oleh para alim ulama jaman itu (Yahudi). Apalagi kamu yang punya banyak keterbatasan, lupa nyuci gelasmu sendiri saja, sudah bisa bikin OB (office boy) kantor cemberut sama kamu.

Jika mau disebutkan lebih banyak, maka akan menjadi sebuah disertasi, tapi 7 alasan di atas sudah cukup untuk mewakili yang lain.

Ada banyak alasan mengapa kamu harus tetap focus memperbaiki diri, tapi tentu saja tidak termasuk supaya kamu disenangi semua orang. Semakin kamu berubah menjadi lebih baik, semakin mudah impian hidup kamu capai, dan semakin cepat kesialan hidup menghindarimu. Dan kabar baiknya efek dari perubahan hidupmu yang lebih baik, akan mendatangkan simpati orang di sekitar kepadamu. Setidaknya kamu tidak perlu memperhatikan satu orang yang membencimu jika kamu punya sembilan orang yang mencintaimu. Life is not that hard, isn’t it?

Surabaya, 30 September 2019
R. Shantika Wijayaningrat




Sumber Referensi

Amalia, Farizza Nour  (2018) Cara Mengubah Kebiasaan Buruk. Jakarta: Anak Hebat Indonesia
Edgerton, Franklin (1965The Panchatantra. Translated from the Sanskrit. London: George Allen and Unwin Ltd.
Koch, Richard. (2019). The 80 / 20 Principle. London: MIC 
Ranggawarsita, R.Ng. (1873) Serat Sabdajati. Karaton Surakarta Hadiningrat: Sasana Pustaka
Suseno, Franz Magnis. (1984) Etika Jawa: Sebuah analisis falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa, Jakarta: PT Gramedia