Minggu, 31 Juli 2016

MERAH PUTIH: THE SACRED SECRET



Menjelang bulan Agustus, banyak sekali penjual bendera merah putih dan pernak pernik merah putih kita temui di jalan, hal ini mengingatkan saya tentang betapa besar perjuangan bangsa ini untuk bisa mengibarkan Sang Dwi Warna, bahkan dengan mengorbankan darah dan nyawa. Sangat sedih rasanya ketika baru-baru ini beredar di media sosial ada beberapa abege atau bocah kemarin sore yang melecehkan Sang Saka Merah Putih dengan mengacungkan jari tengahnya. Yah mungkin mereka tidak tahu betapa besar makna Merah Putih bangsa ini.
Berdasarkan pengertian yang perkenalkan oleh pemerintah, merah berarti berani dan putih berarti suci. Namun bagi masyarakat Jawa, warna merah dan putih memiliki makna tersendiri jika ditinjau dari sisi budaya dan mitologi. Merah dan putih memiliki makna sangkan paran, atau asal-muasal kehidupan. Merah bermakna ibu sedangkan putih bermakna ayah, nampaknya pemaknaan warna oleh masyarakat Jawa ini merupakan sebuah penggeseran makna dari maskulin-feminin yang berasal dari tradisi Hindu. Dalam tradisi Hindu, maskulin-feminin diwujudkan dalam bentuk lingga-yoni yang berupa symbol kelamin laki-laki dan perempuan yang menyatu. Simbol ini sebetulnya melambangkan Dewa Siwa dan Dewi Parwati  (Uma). Nah penyatuan laki-laki dan perempuan inilah yang merupakan asal mula kehidupan manusia. Sekarang menjadi lebih mudah mengkorelasikan antara warna putih dengan kelamin laki-laki dan warna merah dengan kelamin perempuan.
Bubur Sengkala
Dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal adanya bubur sengkala, atau jenang abang putih, yaitu bubur beras di sebuah piring yang diberi gula jawa hingga berwarna merah ditumpangi dengan bubur beras putih. Bubur sengkala ini hampir selalu hadir dalam setiap sesaji dan selamatan. Selain itu warna merah dan putih juga diwujudkan pada upacara pernikahan dengan kain sindur, yaitu sebuah kain dengan warna merah ditepian dan putih dibagian tengahnya. Kain sindur biasanya dipakai sebagai ikat pinggang ayah mempelai berdua dan sebagai kain kemben ibu mempelai pengantin. Warna merah dan putih ini memiliki makna yang begitu besar bagi masyarakat Indonesia.
Kain Sindur dalam upacara pernikahan adat Jawa
Ada sebuah fakta menarik mengenai Bendera Sang Saka Merah Putih. Selama ini sejarah selalu menyebutkan bahwa bendera merah putih berasal dari bendera Imperium Majapahit yang pernah berkuasa di Nusantara pada abad 13-15, dan dimunculkan lagi sebagai bendera kebangsaan pada masa pergerakan nasional awal abad 20. Seolah ada sebuah mata rantai yang hilang (missing link) antara Majapahit abad 13 dengan pergerakan nasional abad 20 dalam hal penggunaan bendera. Semoga rantai yang hilang ini bukan hal yang sengaja ”dihilangkan” dari sejarah. Namun faktanya, pasca kemunduran Majapahit pada abad 15, penggunaan bendera merah putih sebagai bendera Negara sudah tidak dilakukan lagi. Berdasarkan catatan sejarah dan cerita-cerita babad, Kesultanan Demak yang mengklaim sebagai penerus Majapahit mengibarkan bendera dominasi warna hijau sebagai bendera negaranya, sedangkan Kesultanan Pajang menggunakan bendera dominasi warna kuning. Pada era Mataram diceritakan dalam Babad Tanah Jawi, bahwa pasukan Sultan Agung membawa panji-panji berwarna merah yang diselingi warna putih ditengahnya sebagai penanda. Ketika Mataram terpecah menjadi dua kerajaan pasca perjanjian Giyanti. Keraton Yogyakarta memilih menggunakan bendera dengan dominasi warna kuning sedangkan Keraton Surakarta mempertahankan penggunaan bendera merah putih, dan tradisi ini terus bertahan hingga saat ini. Sebuah foto yang diambil pada bulan Juni 1945 (sebelum Proklamasi Kemerdekaan) memperlihatkan bendera merah putih berdampingan dengan bendera Jepang disebuah gerbang di Gapura Gladak Solo untuk menyambut penobatan Susuhunan Paku Buwono XII. Fakta mengenai Karaton Surakarta yang mengibarkan Sang Dwi Warna selama ratusan tahun hingga saat ini seolah terlupakan (atau memang sengaja dilupakan).
Bendera Merah Putih berkibar berdampingan dengan bendera Jepang pada bulan Juni 1945 (Sebelum Proklamasi Kemerdekaan)

Solo, 31 Juli 2016
R. Shantika Wijayaningrat 

Pictures/illustrations by google

Kamis, 30 Juni 2016

Indonesian Nowdays

Segala sesuatu yang kearab-araban adalah islami
Segala sesuatu yang kebarat-baratan adalah moderen
Segala sesuatu yang kejawa-jawaan adalah klenik

Senin, 30 Mei 2016

Life is Sawang Sinawang


Dalam sebuah kesempatan, saya berkenalan dan mengobrol dengan seorang pegawai Bank Indonesia, bukan pegawai biasa tetapi sudah berpangkat pejabat eselon dan pendapatnya selalu didengarkan di instansi tersebut. Kesederhanaan dan keluwesan menjadikan beliau mudah bergaul dengan semua orang, semua umur dan semua status sosial. Karena itu beliau menjadi orang yang sangat memahami keadaan riil orang-orang di sekitarnya.
Banyak hal yang kami bicarakan, mulai membahas Kota Solo, membahas pilgub Jakarta hingga sharing mengenai pandangan hidup. Jujur saya banyak belajar dari beliau, pengalaman hidup beliau selama lima puluh tahun cukup menginspirasi saya dalam menata hidup supaya tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Karena setiap keputusan menghasilkan sebuah konsekuensi, dan setiap keputusan menentukan arah hidup kita ke masa depan, apakah itu menjadi baik atau buruk? Menjadi benar atau salah? Menjadi mudah atau sulit?
Ada satu hal yang cukup menarik untuk saya bagi, yaitu mengenai hidup yang sawang sinawang. Jujur saja saya mengalami kesulitan dalam menerjemahkan sawang sinawang dalam Bahasa Indonesia, apalagi Bahasa Inggris. Mungkin padanan yang agak nyerempet adalah “rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”.
Kadang kala kita sering iri melihat kehidupan orang lain, selalu ingin menjadi seperti mereka dan selalu ingin memiliki kehidupan seperti mereka. Jutaan anak muda Indonesia ingin menjadi seorang selebritis yang selalu menjadi sorotan media dan mereka rela melakukan segala cara untuk mencapainya. Tidak aneh juga, siapa sih yang tidak ingin bergaya hidup glamor, bergaul dengan orang-orang terkenal, pokoknya hidup yang fine dining & wine tasting seperti di televisi.
Sebagian besar karyawan juga pasti ingin menempati posisi tertinggi di tempat mereka bekerja dan menjadi bos karena melihat para bos dengan leluasa memerintah karyawannya, gajinya lebih besar, fasilitas yang mewah dan kehidupan yang menyenangkan. Ya memang sifat dasar manusia juga sih yang tidak ingin hidup susah. Sebagian besar mahasiswa bercita-cita bekerja di sebuah kantor dan berstatus orang kantoran karena melihat orang kantoran punya gaji yang memadai, selalu memakai pakaian yang enak dilihat, bekerja didepan meja, di gedung yang megah dan bisa menyebutkan nama sebuah instansi/perusahaan ketika orang bertanya “bekerja dimana?”
Sementara di sebuah dimensi yang berkebalikan arah, para selebritis berjuang dengan darah dan airmata supaya tetap bisa muncul di televisi dan jangan sampai publik melupakannya demi menjaga gengsi dan gaya hidup, walaupun para selebritis itu sadar betul bahwa banyak anak muda calon selebritis di luar sana yang sedang bersiap-siap melengserkan popularitasnya. Ada juga para bos atau direktur yang ingin segera pensiun atau bahkan mengundurkan diri karena tekanan pekerjaan dan hal-hal yang sudah dikorbankan seperti kesehatan, keluarga dan kehidupan sosial yang tidak bisa diganti dengan gaji yang besar dan fasilitas yang mewah. Sementara itu, sejuta orang kantoran di dalam gedung-gedung ber-AC memalingkan wajahnya dari komputer dan menatap jauh ke luar jendelanya berharap bisa bekerja bebas di luar, melakukan hal-hal yang mereka suka tanpa terikat waktu dan tidak terkurung di kantor.
Orang biasa ingin menjadi selebritis yang terkenal dan selalu tampil di televisi, sementara para selebritis berharap kembali mengulang waktu dan menjadi orang biasa yang tidak kenal dengan namanya gengsi-gengsian. Para karyawan ingin menjadi bos yang terhormat di saat para bos ingin bekerja di rumah, dekat dengan keluarga dan bebas tekanan jabatan. Dan para mahasiswa berjuang di kampus supaya nanti bisa menyebutkan nama sebuah instansi/perusahaan ketika orang bertanya “bekerja dimana?” di waktu orang-orang kantoran ingin berwiraswasta atau ber-freelancer, bekerja bebas sesuai passion, tidak terikat jam kantor dan tidak terkurung di gedung megah ber-CCTV.
Mungkin saat ini hanya segelintir anak muda yang ingin menjadi petani yang tinggal pedesaan, mereka memilih bercita-cita menjadi orang hits di kota besar. Padahal di kota-kota besar, banyak sekali para bos dan pejabat yang berharap mereka adalah petani sederhana di pedesaan yang begitu menikmati menanam sayur dan memetik buah di kebun, dan menikmati udara segar tanpa polusi.
Bapak pejabat Bank Indonesia ini menceritakan bahwa selama bertahun-tahun menempati jabatan strategis di Jakarta sudah berkali-kali beliau mengajukan mutasi ke kota Solo atau Jogja, tapi karena tanggung jawabnya yang besar di kantor pusat manjadikan hal tersebut tidak pernah terlaksana hingga mendekati masa pensiun. Pengajuan mutasi ke kota Solo atau Jogja ini bukannya tanpa alasan, beliau menjelaskan bahwa dua kota ini amatlah indah dan menyenangkan. Orang-orang mudah diajak bekerjasama dan tidak gampang emosi, sehingga tekanan macam apapun akan terasa ringan dan bisa dinikmati. Berbeda dengan Jakarta, orang-orangnya begitu self-centered sehingga semua tekanan terasa semakin berat, karena itulah sebagian besar pejabat BI ingin dipindah ke Solo atau Jogja. Namun demikian beliau juga tahu betul bahwa banyak orang Solo yang ingin bekerja di Jakarta karena terlihat begitu keren dan high salary. 
Semua cerita beliau mengingatkan saya akan sebuah ayat Alquran, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak” (Al Baqarah 216).
Kadangkala kita melihat hidup orang lain begitu enak dan indah, karena ya memang yang enak dan indah itulah yang terlihat oleh kita, hingga kita sendiri tidak sadar bahwa kita juga dilihat orang lain memiliki hidup yang menyenangkan dan sempurna, hingga orang lain ingin hidup seperti kita.
Itulah sawang sinawang, segala sesuatu yang terlihat sesungguhnya hanyalah “kelihatannya”


Selasa, 26 April 2016

FOMO : Fear of Missing Out


Dalam ilmu psikologi diakui memang rasa ingin tahu adalah sifat alami manusia, bahkan salah satu sifat dasar. Sifat inilah yang mengantarkan manusia kepada kemajuan peradaban, dalam hal filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang saat ini. Seorang Issac Newton mungkin tidak akan dapat menemukan teori grafitasi bumi jika tidak memiliki rasa ingin tahu yang mendalam mengapa buah apel jatuh ke bawah, bukan meluncur ke atas. Nabi Muhammad SAW mungkin juga tidak akan pernah dikenal dan dinobatkan sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia versi The 100 (Michael H. Hart) jika tidak memiliki rasa ingin tahu yang besar mengenai alam semesta dan kehidupan yang membuat beliau bermeditasi dan mendapatkan wahyu di goa Hira’.

 Kita tidak bisa memungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semaju saat ini berawal dari sifat keingin tahuan manusia selama ribuan tahun, dan hubungan antar individu yang begitu erat juga disebabkan oleh rasa saling ingin tahu antar individu. Namun demikian kita tidak dapat memungkiri bahwa rasa ingin tahu juga membawa Amerika Serikat dan Rusia ke dalam Perang Dingin jilid II selama satu dekade terakhir ini, dimana Rusia siap angkat senjata melawan Amerika Serikat demi melindungi Edward Snowden “si pembisik” atau pemberi tahu segala rahasia gelap Pemerintah Amerika Serikat.



Kepo Sometimes is Annoying

Selama berabad-abad, perasaan ingin tahu manusia memberikan dampak yang begitu besar terhadap peradaban dunia, kehidupan bangsa, kehidupan bertetangga, kehidupan berumah tangga bahkan kehidupan pribadi. Sumbangan kemajuannya berbanding sejajar dengan kerugian yang dihasilkan. Meskipun saya tidak pernah melakukan survey, saya yakin pasti banyak kasus perselingkuhan di luar sana yang berawal dari rasa ingin tahu akan lawan jenis yang bukan hak nya. Apalagi zaman sekarang kemajuan teknologi dan sosial media seolah memberi fasilitas bagi mereka yang memiliki perasaan ingin tahu yang berlebihan untuk mengeksplorasi kehidupan orang lain sampai sedetai-detailnya. Yah… bukan salah path sih, atau instagram, atau facebook, toh memang aplikasi ini dibuat untuk membagikan informasi mengenai dirinya sendiri dan kehidupannya, dan bukan salah mereka juga yang tiba-tiba tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang kehidupan orang lain karena membuka media sosial.

Yang menjadi permasalahan dikemudian hari adalah ketika orang lain berusaha ingin tahu sesuatu dari kita, yang kita sendiri tidak ingin mereka tahu. Disinilah banyak norma dan etika yang ditabrak. Dan ketika norma dan etika ditabrak, maka konflik tidak bisa dicegah (teori Sosiologi). Bayangkan jika seorang laki-laki tertarik kepada seorang perempuan yang sudah menikah, maka dia menghalalkan segala cara demi mengetahui lebih dalam mengenai perempuan tersebut, bahkan sampai mencampuri urusan rumah tangganya, What in the sam hill is going on? It’s privacy… really inappropriate. 

Oke… mungkin urusan rumah tangga terlalu ekstrim, karena saya sendiri belum berumah tangga. Let’s say pertemanan (atau persahabatan), pasti setiap orang punya rahasia yang tidak ingin orang lain tahu, bahkan oleh orang terdekat sekalipun. Kadangkala seseorang yang memiliki rasa ingin tahu berlebihan sampai melanggar privasi sahabatnya demi mendapatkan sebuah informasi, dimana informasi ini juga tidak diapa-apakan alias tidak berguna buat dia. Tapi toh dia merasa senang dan puas jika mengetahui sesuatu yang belum pernah dia tahu dari kehidupan orang lain (say: temannya/sahabatnya). Tapi ini hanya contoh ilustrasi kasus di sekitar kita, tidak untuk di generalisasi.

Hasil survey sebuah media psikologi di tahun 2015, 3 dari 10 kasus insomnia (kesulitan tidur di malam hari) disebabkan oleh kacanduan internet, dimana waktu tidur mereka di malam hari dihabiskan dengan browsing sesuatu yang tidak jelas, membuka-buka media sosial orang-orang yang kadang mereka sendiri tidak pernah mengenalnya. Yang mengejutkan, 2 dari 3 kasus insomnia karena kecanduan internet ini di alami oleh kaum perempuan.

Rasa Ingin Tahu Kadang Juga Perlu Direm

Tulisan ini tidak dibuat untuk menyindir siapapun, atau berusaha menyadarkan pihak manapun. Tulisan ini hanya sekedar sharing ringan tentang realitas kehidupan di sekitar kita. Pada akhirnya kita sendiri yang akan memutuskan dan mengidentifikasi diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang yang punya rasa ingin tahu yang berlebihan atau tidak? Dan jika kita ternyata termasuk orang yang punya rasa ingin tahu yang berlebihan, apakah hal tersebut sudah pada tempatnya atau tidak? Jika kita masih ingin tahu seluk beluk kehidupan orang lain secara mendetail, tentu itu tidak pada tempatnya. Dan yang terakhir, apakah kita lakukan itu bermanfaat untuk diri kita sendiri? Untuk orang lain? Atau malah merugikan/ tidak berguna?

Coba bayangkan anda memiliki seorang teman dekat, anda tahu banyak mengenai dia, meskipun dalam beberapa hal anda merasa dia menyimpan rahasia dalam kehidupannya yang dia tidak ingin anda tahu. Akan lebih menyenangkan jika anda melapangkan dada untuk menikmati ruang yang sudah dia berikan untuk anda dan membiarkan dia menyimpan apa yang ingin dia simpan. Sungguh indah sebuah hubungan jika rahasia tetaplah menjadi rahasia. Tidak tahu kadang lebih baik.


Shantika Wijayaningrat
Solo, 26 April 2016

Sabtu, 12 Maret 2016

Solo - Jogja Kisah Pecahnya Sebuah Keluarga Besar


Artikel saya beberapa waktu yang lalu mengenai kondisi terkini keraton-keraton masyarakat Jawa, mendapatkan respon yang cukup menarik dari para pembaca. Namun demikian bagi masyarakat yang masih awam akan hal sejarah Jawa abad pertengahan, ternyata mengalami kesulitan dalam menghubungkan keraton-keraton tersebut dengan Kerajaan Mataram. Selain itu, awal mula keraton-keraton di Solo dan Jogja juga ternyata membingungkan bagi sebagian orang.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba membuat skema silsilah keraton-keraton Jawa terutama yang masih eksis di Jawa Tengah dan DIY. 

(Untuk dapat membaca dengan lebih jelas, akan lebih baik jika gambar berikut di download terlebih dahulu dan dibuka melalui gallery/ photo viewer)


Dari silsilah di atas sangatlah jelas bahwa awal mula keraton-keraton di Solo dan Jogja berasal dari Kerajaan Mataram. Kerajaan Mataram diproklamirkan oleh Raden Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati. Sebagian masyarakat mengatakan yang mendirikan Kerajaan Mataram adalah ayah Panembahan Senopati yang bernama Kiai Ageng Pemanahan, namun bagi saya hal tersebut tidak tepat, karena meskipun yang membuka hutan Mentaok untuk dijadikan pemukiman adalah Kiai Ageng Pemanahan, tetapi pemukiman baru yang bernama Mataram tersebut masihlah berstatus bawahan Kesultanan Pajang. Baru ketika Raden Sutawijaya menjadi penguasa Mataram, beliau memproklamirkan bahwa Mataram tidak lagi berada dibawah Kesultanan Pajang. Toh memang sebetulnya yang berhak atas Hutan Mentaok waktu itu memanglah Sutawijaya, karena beliau yang berhasil membunuh Harya Penangsang, tetapi karena usia Sutawijaya terlalu muda, ayahnya khawatir Sultan Pajang akan membatalkan hadiah Hutan Mentaok dan menggantinya dengan putri-putri ataupun perhiasan-perhiasan, sehingga Kiai Ageng Pemanahan mengklaim bahwa yang membunuh Harya Penangsang adalah dirinya dan saudaranya yang bernama Kiai Penjawi.
Sri Susuhunan Paku Buwono XII (1925 - 2004)
Raja-raja Mataram awalnya memakai gelar Panembahan karena alasan tertentu, baru kemudian cucu Panembahan Senopati yang bernama Raden Mas Rangsang memulai menaikan gelarnya secara resmi menjadi Sultan Mataram dengan menggunakan gelar Sultan Agung. Raja-raja setelah Sultan Agung menaikan lagi status gelarnya menjadi lebih tinggi dengan gelar Susuhunan Mataram yang dimulai dengan Susuhunan Amangkurat I. gelar susuhunan disini memiliki makna bahwa raja sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan sekaligus pemimpin tertinggi keagamaan, yaitu agama islam.
Pasca Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang memecah Kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Ngayogyakarta, Susuhunan Mataram waktu itu yaitu Susuhunan Paku Buwono III tetap menggunakan gelar Susuhunan, sementara paman nya yaitu Pangeran Mangkubumi memilih menggunakan gelar Sultan dengan nama Sultan Hamengku Buwono. Nama Hamengku Buwono disini memiliki makna historis dan spiritual yang sangat penting sejajar dengan nama Paku Buwono, sehingga tidak bisa dengan mudah diganti dengan variasi lain yang serupa seperti kata bawono, jagat, rat, bumi atau lain sebagainya.


Sri Sultan Hamengku Buwono X (1989 - sekarang)
Pada sekitaran tahun 1755 nampak jelas sekali hubungan kekeluargaan antara Keraton Surakarta dan Ngayogyakarta adalah dekat sekali, dimana penguasa Kasunanan Surakarta adalah cucu dari Amangkurat IV dan penguasa Kasultanan Ngayogyakarta adalah anak dari Amangkurat IV dan 10 tahun berikutnya salah satu cucu dari Amangkurat IV yang lain menjadi penguasa juga dengan gelar Mangkunagoro I. Pada tahun 1810, cucu dari Amangkurat IV lain yang juga putra Sultan Hamengku Buwono I menjadi penguasa juga dengan gelar Paku Alam I.
Sehingga secara garis besar jika kita ingin lebih mudah mempelajari hubungan keraton-keraton di Solo dan Jogja, maka yang dapat digunakan sebagai pancer atau tokoh sentral yaitu Susuhunan Amangkurat IV.
Perlu diketahui bahwa silsilah raja-raja Jawa yang dimulai dari Kerajaan Mataram hingga berbagai cabangnya saat ini tidaklah terlalu sulit jika dibandingkan dengan silsilah raja-raja lain di luar Jawa atau bahkan di luar negeri sekalipun.