Tampilkan postingan dengan label Raja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Maret 2016

Solo - Jogja Kisah Pecahnya Sebuah Keluarga Besar


Artikel saya beberapa waktu yang lalu mengenai kondisi terkini keraton-keraton masyarakat Jawa, mendapatkan respon yang cukup menarik dari para pembaca. Namun demikian bagi masyarakat yang masih awam akan hal sejarah Jawa abad pertengahan, ternyata mengalami kesulitan dalam menghubungkan keraton-keraton tersebut dengan Kerajaan Mataram. Selain itu, awal mula keraton-keraton di Solo dan Jogja juga ternyata membingungkan bagi sebagian orang.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba membuat skema silsilah keraton-keraton Jawa terutama yang masih eksis di Jawa Tengah dan DIY. 

(Untuk dapat membaca dengan lebih jelas, akan lebih baik jika gambar berikut di download terlebih dahulu dan dibuka melalui gallery/ photo viewer)


Dari silsilah di atas sangatlah jelas bahwa awal mula keraton-keraton di Solo dan Jogja berasal dari Kerajaan Mataram. Kerajaan Mataram diproklamirkan oleh Raden Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati. Sebagian masyarakat mengatakan yang mendirikan Kerajaan Mataram adalah ayah Panembahan Senopati yang bernama Kiai Ageng Pemanahan, namun bagi saya hal tersebut tidak tepat, karena meskipun yang membuka hutan Mentaok untuk dijadikan pemukiman adalah Kiai Ageng Pemanahan, tetapi pemukiman baru yang bernama Mataram tersebut masihlah berstatus bawahan Kesultanan Pajang. Baru ketika Raden Sutawijaya menjadi penguasa Mataram, beliau memproklamirkan bahwa Mataram tidak lagi berada dibawah Kesultanan Pajang. Toh memang sebetulnya yang berhak atas Hutan Mentaok waktu itu memanglah Sutawijaya, karena beliau yang berhasil membunuh Harya Penangsang, tetapi karena usia Sutawijaya terlalu muda, ayahnya khawatir Sultan Pajang akan membatalkan hadiah Hutan Mentaok dan menggantinya dengan putri-putri ataupun perhiasan-perhiasan, sehingga Kiai Ageng Pemanahan mengklaim bahwa yang membunuh Harya Penangsang adalah dirinya dan saudaranya yang bernama Kiai Penjawi.
Sri Susuhunan Paku Buwono XII (1925 - 2004)
Raja-raja Mataram awalnya memakai gelar Panembahan karena alasan tertentu, baru kemudian cucu Panembahan Senopati yang bernama Raden Mas Rangsang memulai menaikan gelarnya secara resmi menjadi Sultan Mataram dengan menggunakan gelar Sultan Agung. Raja-raja setelah Sultan Agung menaikan lagi status gelarnya menjadi lebih tinggi dengan gelar Susuhunan Mataram yang dimulai dengan Susuhunan Amangkurat I. gelar susuhunan disini memiliki makna bahwa raja sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan sekaligus pemimpin tertinggi keagamaan, yaitu agama islam.
Pasca Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang memecah Kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Ngayogyakarta, Susuhunan Mataram waktu itu yaitu Susuhunan Paku Buwono III tetap menggunakan gelar Susuhunan, sementara paman nya yaitu Pangeran Mangkubumi memilih menggunakan gelar Sultan dengan nama Sultan Hamengku Buwono. Nama Hamengku Buwono disini memiliki makna historis dan spiritual yang sangat penting sejajar dengan nama Paku Buwono, sehingga tidak bisa dengan mudah diganti dengan variasi lain yang serupa seperti kata bawono, jagat, rat, bumi atau lain sebagainya.


Sri Sultan Hamengku Buwono X (1989 - sekarang)
Pada sekitaran tahun 1755 nampak jelas sekali hubungan kekeluargaan antara Keraton Surakarta dan Ngayogyakarta adalah dekat sekali, dimana penguasa Kasunanan Surakarta adalah cucu dari Amangkurat IV dan penguasa Kasultanan Ngayogyakarta adalah anak dari Amangkurat IV dan 10 tahun berikutnya salah satu cucu dari Amangkurat IV yang lain menjadi penguasa juga dengan gelar Mangkunagoro I. Pada tahun 1810, cucu dari Amangkurat IV lain yang juga putra Sultan Hamengku Buwono I menjadi penguasa juga dengan gelar Paku Alam I.
Sehingga secara garis besar jika kita ingin lebih mudah mempelajari hubungan keraton-keraton di Solo dan Jogja, maka yang dapat digunakan sebagai pancer atau tokoh sentral yaitu Susuhunan Amangkurat IV.
Perlu diketahui bahwa silsilah raja-raja Jawa yang dimulai dari Kerajaan Mataram hingga berbagai cabangnya saat ini tidaklah terlalu sulit jika dibandingkan dengan silsilah raja-raja lain di luar Jawa atau bahkan di luar negeri sekalipun.

Selasa, 19 Januari 2016

ADA APA DENGAN DINASTI MATARAM


(Sudut Pandang Spiritual)

Baru-baru ini dinasti Mataram (The Royal House of Mataram) berduka karena kehilangan dua tokoh yang cukup berpengaruh yaitu GRAy Nurul Suryosuyarso dari Puro Mangkunegaran (Solo) dan KGPAA Paku Alam IX dari Puro Paku Alaman (Jogja). Khusus Puro Paku Alaman, untuk melanjutkan suksesi pemangku pemerintahan sekaligus pejabat Wakil Gubernur DIY, maka diangkatlah KBPH Prabu Suryodilogo sebagai pengganti dengan gelar  KGPAA Paku Alam X pada 7 Januari 2016. Tidak lama setelah penobatan  KBPH Prabu Suryodilogo sebagai KGPAA Paku Alam X, sebagian keluarga Paku Alaman pendukung KGPAA Paku Alam IX Al Haj – Anglingkusumo (sang paman) mengeluarkan pernyataan penolakan terhadap legalitas Paku Alam X. Rupanya aksi penolakan ini merupakan kelanjutan konflik trah Paku Alaman yang belum berakhir semenjak tahun 1998 pasca wafatnya KGPAA Paku Alam VIII.
Konflik keluarga Paku Alaman ini menambah daftar panjang berbagai konflik yang mewarnai Dinasti Mataram dalam satu dasawarsa terakhir. Publik tentu tidak akan lupa dengan konflik keluarga Kasunanan Surakarta pasca wafatnya ISKS Paku Buwono XII yang sampai sekarang masih belum jelas akhirnya. Kemudian keluarga Kasultanan Ngayogyakarta yang selama ini terlihat adem ayem tiba-tiba memanas pasca pengangkatan putri sulung Sultan Hamengku Buwono X
Penobatan Paku Alam X (source: www.beritasatu.com)
, GKR Pambayun menjadi putri mahkota bergelar GKR Mangkubumi. Mungkin hanya Puro Mangkunegaran yang masih terlihat rukun-rukun saja (semoga begitu).







Ngemu Sasmita – Membawa Pertanda
Bagi masyarakat jawa, konflik di tiga pemangku adat ini bukanlah sekedar konflik suksesi, seperti yang biasa terjadi selama ratusan tahun sejarah Dinasti Mataram. Konflik kali ini terjadi secara bersamaan di dua keraton dan satu kadhipaten yang sama-sama berasal dari Dinasti Mataram. Sungguh bukan hal yang biasa, mengingat dalam 200 tahun terakhir tidak pernah terjadi hal-hal yang rumitnya bersamaan seperti ini. Bisa jadi masalah terakhir yang dihadapi oleh Dinasti Mataram secara bersama-sama adalah Perang Diponegoro dan penangkapan ISKS Paku Buwono VI pada tahun 1830an. Bagi masyarakat jawa hal-hal seperti dianggap bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah penanda jaman.
Meskipun diantara 2 keraton dan 2 kadhipaten hanya Kasultanan Ngayogyakarta dan Puro Paku Alaman saja yang masih memiliki kekuatan politik, namun Keraton Kasunanan Surakarta dan Puro Mangkunegaran masih memiliki kekuatan budaya yang melekat di masyarakat Jawa, terutama yang berhubungan dengan mistik dan spiritual. Segala konflik yang terjadi di keraton diaggap sebagai sebuah pertanda awal konflik yang lebih besar yang terjadi di masyarakat Jawa khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.
ISKS Pakubuwono XIII dan KGPH PA Tejowulan 
dihalangi masuk istana (source: www.solopos.com)

Pada tahun 2013, secara tiba-tiba Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memanggil seluruh putra-putri almarhum ISKS Paku Buwono XII di Istana Gedung Agung Yogyakarta, pemanggilan ini berhubungan dengan upaya pemerintah menjadi penengah rekonsiliasi antara Paku Buwono XIII – Hangabehi dengan Paku Buwono XIII – Tedjowulan. Menurut desas desus kalangan istana kepresidenan, turun tangannya presiden dalam masalah yang selama ini ditulis sebagai masalah internal keraton merupakan rekomendasi dari beberapa penasehat spiritual kepresidenan. Para penasehat spiritual kepresidenan melihat kegoncangan/ketidak-kokohan selama pemerintahan SBY selama ini disebabkan karena adanya ketidak-kokohan “Paku” yang menjadi penguat bangsa Indonesia dalam kacamata spiritual. “Paku” di sini diibaratkan sebagai paku yang tidak menempel kuat pada sebuah rumah, yang mengakibatkan rumah tersebut mudah goyah dan terancam runtuh jika ada goncangan besar. Secara lebih lanjut yang dimaksud “Paku” di sini adalah “Paku Buwono” yaitu gelar bagi raja-raja Keraton Kasunanan Surakarta. Mungkin nampak hanya kebetulan saja gelarnya ada Paku-nya, tapi bagi masyarakat Jawa hal tersebut bukanlah sekedar kebetulan, tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya sudah diatur dan segala sesuatu ada maksudnya. Tidak mungkin Pangeran Puger (1704) tiba-tiba memakai gelar Sunan Paku Buwono I tanpa ada maksud tertentu, padahal para pendahulunya memakai gelar Sunan Amangkurat.
Penobatan Putri Mahkota GKR Mangkubumi (source: www.jpnn.com)

 Apa yang  (menjadi keputusan Presiden SBY bukanlah suatu hal yang tanpa dasar, mengingat di tahun berikutnya yaitu 2014, Presiden SBY akan punya hajat besar yaitu Pemilu Legilatif dan Pemilu Presiden yang sangat berpotensi terjadi kegoncangan besar bahkan perpecahan bangsa (See now). Tentunya SBY tidak pernah mengakuinya, apalagi mengeluarkannya sebagai pernyataan resmi, akan sangat konyol seorang presiden membuat sebuah pernyataan resmi dengan menggunakan dasar sisi spiritual dan dalil paranormal, apalagi SBY adalah seorang Jenderal, Haji dan Doktor,  lha wong Bu Ani Yodhoyono saja pernah cerita melihat hantu di Istana Merdeka langsung menjadi tertawaan publik dan bully-an di media sosial. Illogical and Irrational.
KGPAA Mangkunegoro IX (source: wikipedia.org)

Pada tahun 1992, Presiden Soeharto yang juga seorang Jenderal Besar dan Haji turun tangan langsung untuk menyelesaikan masalah internal di Puro Mangkunegaran. Pada saat itu KGPAA Mangkunegoro IX melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan himpunan keluarga Mangkunegaran memberhentikan (memecat) Mangkunegoro IX dari kedudukannya sebagai Pengageng Puro. Peristiwa ini kemudian berlanjut pada penolakan Mangkunegoro IX pada pemecatan dan berlanjut kepada aksi saling pecat dari jabatan di istana dan saling usir dari tempat tinggalnya di istana. Nampaknya Puro Mangkunegaran – Trah Mataram memiliki arti sangat penting bagi seorang Presiden Soeharto meskipun Puro Mangkunegaran sudah tidak memiliki kekuatan politik apapun di Indonesia, bahkan di Surakarta sekalipun dan kekayaannya banyak diambil alih negara dan digerogoti oleh rakyatnya sendiri. Ibu Tien Soeharto yang masih merupakan kerabat Mangkunegaran tidak bisa secara otomatis ikut campur karena bukan termasuk golongan sentana dalem yang terlibat konflik. Tetapi sudah jelas bahwa Presiden Soeharto yang selalu dikelilingi dunia mistik dan spiritual pasti mengetahui sesuatu jika konflik trah Mataram ini tidak segera diselesaikan.
Nah kembali lagi kepada konflik Dinasti Mataram paling aktual, kisruh di Keraton Kasunanan Surakarta (Solo), Keraton Kasultanan Ngayogyakarta (Jogja) dan Puro Paku Alaman (Jogja) nampaknya menjadi pertanda bahwa masyarakat Jawa (At least yang tinggal di bekas wilayah Kerajaan Mataram) akan memasuki sebuah babak baru yang saya sendiri belum tahu karena baru akan memasukinya.

R. Shantika Wijayaningrat - Surakarta
-ARTIKEL INI DITULIS DARI SUDUT PANDANG SPIRITUAL JAWA -