Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2020

Bertimbal Balik

6 bulan yang lalu, seorang tetangga meminta password Wi-Fi rumah kami. Saya pun memberikannya, karena toh meskipun kami membayar langganan setiap bulan, tapi jarang kami pakai karena kami jarang di rumah, jadi sering over kuota. Toh juga mereka tetangga yang baik, tidak ada salahnya berbagi.

Kemarin saat saya pulang, tetangga saya ini ada di depan rumahnya. Saya pun ngobrol beramah tamah seperti biasa, dan dengan gembira dia bercerita bahwa mereka sekarang berlangganan Netflix. Mendengar ceritanya sayapun ikut bergembira, sambil bercanda saya mengatakan "Wah kalo aku sih jarang di rumah ya, hampir nggak sempat nonton TV, tapi boleh lah ya kapan-kapan pinjem passwordnya, siapa tau ada yang mau ditonton". Tapi suara saya terpotong oleh oleh sebuah suara yang terdengar dari kejauhan, ternyata istrinya, yang duduk di dalam mobil yang menyala "Waduh gimana ya kayanya belum bisa, kami bayarnya lumayan mahal"

Dan suasana pun hening!

Suaminya berusaha mengalihkan pembicaraan, mungkin karena merasa tidak enak hati atas perkataan istrinya. Begitu istrinya masuk ke rumah, dia meminta maaf dan meminta jangan dimasukan ke hati. Saya katakan santai saja tidak perlu diperpanjang. Kami lanjut mengobrol lagi sampai saya pamit masuk ke dalam rumah. Tapi dia masih tetap di terasnya sambil menyiram tanaman.

Tak lama kemudian, istrinya keluar untuk memanggilnya, dia tampak kebingungan, mengatakan TV nya rusak, saya hanya melihat dari jendela. Setelah beberapa menit, dia dan istrinya mengetuk pintu rumah saya dan memberi tahu bahwa Wi-Fi tidak jalan, passwordnya tidak bisa masuk. Saya tersenyum melihat mereka dan berkata, "Passwordnya aku ganti, kami bayarnya lumayan mahal, jadi belum bisa bagi-bagi ". 

Wajah istrinya memerah dan mencoba mengatakan sesuatu, tapi tak ada satu katapun yang keluar. Mereka pun berbalik dan pulang menutup pintu.

_______________________________

Cerita ini bukan cerita saya, tapi ada pelajaran yang saya ambil, bahwa hidup ini haruslah saling bertimbal balik. Kamu tidak bisa terus mengambil tanpa memberi, persahabatan haruslah saling bertimbal balik, cinta haruslah saling bertimbal balik, kasih sayang haruslah saling bertimbal balik.

Mungkin saja kamu bisa terus mengambil tanpa merasa harus memberi, tapi ingat semesta ini selalu menyeimbangkan, pasti akan ada saja yang diambilnya darimu, bahkan sesuatu yang kamu genggam erat, karena takut akan kehilangan.

Tetapi jika kamu terus memberi dengan harapan akan mendapatkan kembali, mungkin kamu akan sering kecewa, karena sumber kekecewaan terbesar umat manusia adalah ekspektasinya sendiri. Namun begitu semesta ini selalu menyeimbangkan, akan mengembalikan pemberian yang telah kamu lupakan.

Jika di tahun 2020 ini kamu banyak kehilangan, maka janganlah bersedih, karena bisa jadi itu adalah timbal balik dari apa yang telah kamu ambil di tahun-tahun sebelumnya. Tetapi jika di 2020 ini kamu mendapatkan lebih, sementara orang disekitarmu kekurangan, bisa jadi itu timbal balik atas apa yang kamu berikan di masa sebelumnya yang kamu sudah tidak ingat, dan jangan lupa untuk memberi yang kekurangan kemudian lupakan pemberianmu. Kita tidak pernah tahu kapan masa sulit akan datang lagi, bisa jadi pemberianmu yang akan menyelamatkanmu. Gusti mboten sare dan semesta ini akan terus menyeimbangkan.


Surabaya, 16 Agustus 2020

R. Shantika Wijayaningrat

Selasa, 27 Desember 2016

Pride and Prejudice




Playlist : Musik lembut



Pulang ke Malang membuat saya bisa sering bertemu dan berkumpul dengan teman-teman lama, teman-teman masa remaja dan juga the old gank entah itu untuk business meeting atau sekedar ngobrol ngalor-ngidul. Ada 6 orang yang bisa dibilang teman-teman dekat saya di masa itu, tiga diantara perempuan (one is little bit masculine woman lol), kami bertujuh dulu hampir tiap hari nongkrong bareng, mulai dari nongkrong yang positif sampe yang tidak terlalu positif (namanya juga remaja) tapi semuanya masih dalam batas kewajaran (menurut ukuran remaja jaman itu). Walaupun jaman sudah berubah dan keadaanpun juga sudah berubah, tapi kalau sudah berkumpul rasanya masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu, bebas mengobrol, bebas curhat, bebas meledek dan saling mencela tanpa perasaan takut ada yang tersinggung, yah you know lah sadisnya guyonan jawa timuran. … I feel like my east Javanese spirit is coming back… lol.

Pada saat kumpul-kumpul, ada sebuah obrolan yang awalnya sekedar bercandaan, tapi berubah menjadi agak lebih serius ketika membicarakannya, yaitu tentang pasangan hidup…. exactly. Diantara enam teman saya, baru ada satu orang yang sudah berkeluarga dan ada satu orang lagi yang tahun depan akan berkeluarga, sisanya single as a pringle. Padahal kalau dilihat, mereka nggak jelek-jelek amat, yang cewek-cewek faham cara berpenampilan, sedangkan yang cowok-cowok juga nggak ada culun dan garing. Apa ini kutukan karena dulu kita pernah ngasih wafer tango di mulut patung Gajah Mada di Gunung Bromo?

Akhirnya terbukalah sebuah forum curhat mengenai ke-single-an masing-masing. Semuanya mendengarkan curhatan satu sama lain. Dari semua curhatan, saya berkesimpulan ada dua hal yang menyebabkan teman-teman saya kesulitan dalam mendapatkan tambatan hati. Yang pertama adalah karena terlalu banyak memilih dan yang kedua adalah karena terlalu mengkhawatirkan seperti apa masa depan nanti. 

Saya teringat sebuah novel klasik yang pernah saya baca waktu kuliah yang berjudul “Pride and Prejudice”, saya dipaksa dosen untuk membaca novel ini selain novel The Great Gatsby demi lulus mata kuliah Book Report, meskipun sebetulnya saya bukan tipe orang yang suka membaca cerita melankolis. Novel klasik ini sangat bagus meskipun bahasanya agak njlimet dan vocabulary yang archaic karena masih ada pengaruh tata bahasa Inggris kuno, maklum novel ini ditulis tahun 1813 di London. Tokoh utama dalam cerita Pride and Prejudice adalah Elizabeth Bennet dan Fitzwilliam Darcy.  Elizabeth adalah seorang gadis yang sangat cantik dan cerdas, dia juga sangat baik hati karena lebih memikirkan kepentingan keluarganya di atas kebahagiaan dirinya sendiri, tapi Elizabeth sangat mudah berprasangka buruk kepada orang lain, sangat skeptis dan selalu menilai orang dari apa yang dia lihat saja. Sementara Mr. Darcy adalah pemuda yang berasal dari keluarga terhormat, tampan dan kaya raya, tapi status sosialnya yang begitu tinggi membuat dia menjadi sangat angkuh dan pilih-pilih.

 Elizabeth dan Mr. Darcy pertama kali bertemu dalam sebuah pesta dansa, dan keduanya langsung jatuh hati satu sama lain. Meskipun Mr. Darcy sangat ingin mengenal lebih dekat Elizabeth, namun dia merasa terlalu gengsi jika harus mendekati Elizabeth yang berasal dari keluarga menengah. Pada dasarnya Mr. Darcy sudah menentukan kriteria-kriteria gadis yang cocok untuk dirinya, dan Elizabeth sungguh sangat jauh dari semua kriteria yang sudah dia buat. Sementara Elizabeth sendiri begitu berkenalan dengan Mr. Darcy dan melihat dia sebagai seseorang yang angkuh, langsung membuat berbagai prasangka buruk dan pikirannya dipenuhi dengan pikiran skeptis, meskipun Elizabeth sendiri juga tidak bisa memungkiri bahwa dia telah jatuh hati kepada Mr. Darcy. 

Mr. Darcy sebetulnya tidak seburuk yang Elizabeth kira, karena Mr. Darcy diam-diam juga memiliki perasaan yang lembut dan selalu memperhatikan Elizabeth. Hubungan keduanya semakin lama semakin buruk karena berbagai kesalah pahaman yang disebabkan oleh keangkuhan Mr. Darcy (Pride) dan sangkaan buruk Elizabeth (Prejudice). Meskipun dalam hati keduanya memiliki perasaan cinta yang semakin lama semakin kuat.

Akhir dari cerita ini adalah “nyambung-nyahubungan antara Elizabeth dengan Mr. Darcy, setelah Mr. Darcy mulai meruntuhkan semua kegengsiannya dan Elizabeth mulai berpikiran positif terhadap Mr. Darcy dan masa depan hubungan mereka. Concisely, it’s happy ending.

Berdasarkan penelitian University of Missouri tahun 2008, ada beberapa kecenderungan yang menyebabkan seseorang dengan pendidikan tinggi (diploma ke atas) mengalami kesulitan dalam menemukan pasangan, yang ditengarai menjadi penyebab paling tinggi adalah high expectation standart. Yah semua orang mungkin memang memiliki  kriteria tertentu seperti yang dibuat oleh Mr. Darcy. Setiap laki-laki mungkin menginginkan pasangan yang cantik, seksi, pintar dandan, enak diajak ngobrol, gaul, layak dipamerkan ke teman-temannya dan berbagai kriteria lain. Sementara para wanita cenderung mengharapkan pasangan yang tampan, kaya, atletis, punya pekerjaan keren, sanggup menghidupi dia dengan segala lifestyle nya.  (Mohon tidak digeneralisasi)

Ternyata high expectation standart yang diharapkan dari calon pasangan merupakan barrier paling tinggi dalam memulai sebuah hubungan. Kalau boleh saya sebut hal tersebut saya istilahkan sebagai “Pride” atau gengsi. Karena pride inilah yang menghalangi kita untuk melihat ketulusan orang-orang di luar standart untuk dekat dengan kita. Semua orang boleh saja mengharapkan pasangan sempurna seperti orang-orang keren yang sering kita lihat dan kita “love” di instagram. Tapi perlu diingat semakin tinggi standart yang kita tentukan, maka semakin sulit juga hal tersebut terpenuhi (seperti teori ekonomi ­supply and demand). Tapi tidak ada yang melarang juga sih kalau mau berusaha keras. Tetapi sesempurna orang yang terlihat di instagram pastilah juga memiliki kelemahan yang tidak terlihat atau malah sengaja ditutupi (seperti teori Character Psychoanalytic  oleh Karen Horney yang mengatakan bahwa seseorang cenderung mengekspos kelebihan yang dia miliki untuk menutupi kekurangan yang besar ).

Hal paling tinggi kedua menurut jurnal University of Missouri tahun 2008 adalah prasangka buruk terhadap setiap orang yang terlihat ingin dekat dengan kita dan juga prasangka buruk terhadap sebuah hubungan di masa depan. Hal ini kadang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang buruk, baik itu dialami oleh diri sendiri maupun orang lain. Seperti Elizabeth Bennet yang pernah merasa takut dimanfaatkan oleh Mr. Darcy. Kadang kita terlalu memikirkan banyak resiko yang akan dihadapi jika menjalin sebuah hubungan, seperti ada sebuah perasaan insecure. Prejudice semacam ini semakin bertambah buruk jika kita memiliki teman dekat yang pernah mengalami perceraian atau patah hati yang dalam, yang bisa membuat kita berpikir ulang untuk memulai sebuah hubungan serius. Selain itu prejudice terhadap ikatan masa depan seperti takut tidak lagi bebas, takut memiliki banyak tanggung jawab, takut memenuhi kebutuhan yang pasti akan lebih banyak juga menghambat seseorang untuk berkomitmen terhadap sebuah hubungan. 

Seperti moral value Pride and Prejudice, maka kita perlu meruntuhkan segala keangkuhan/kegengsian yang kita miliki, kita manusia yang tidak sempurna, maka sudah sepantasnya kita juga menerima orang lain yang tidak sesempurna seperti yang kita inginkan. Berburuk sangka kepada orang lain hanya akan membuat kita kehilangan banyak teman dan kesempatan, dalam filosofi jawa dikatakan “janma tan kena kinira  apa yang terlihat dari seseorang saat ini sesungguhnya tidak bisa mewakili kedalaman jiwa-nya, ketulusan hati-nya dan besarnya masa depannya. Mengkhawatirkan masa depan seperti halnya kita tidak percaya kepada Tuhan, apapun bisa terjadi di masa depan, bahkan hal-hal yang saat ini menurut kita mustahil sekalipun.

Saya ingin menceritakan kisah seorang teman dekat saya, semoga dia berkenan diceritakan kisahnya. Namanya Okta, sosok ini dipenuhi dengan pikiran-pikiran positif dan selalu optimis akan masa depan. Sebelum hijrah ke Jakarta, dia punya pengalaman buruk tentang sebuah hubungan, mulai dari patah hati, hubungan beda keyakinan sampai dengan hubungan yang digantung. Tapi sikap yang optimis dan sumarah membuat dia melewati semuanya dengan tanpa beban, toh hidup sudah ada yang mengatur. Okta ini juga bukan tipe orang yang punya banyak kriteria mengenai pasangan hidup. Dia tidak membebani hidupnya dengan kriteria calon pasangannya nanti harus begini, harus begitu, harus punya ini, harus punya itu, dia los-kan semuanya dengan penuh kesadaran. Alhasil, tidak lama setelah tinggal di Jakarta, dia menemukan seseorang yang betul-betul pas dengannya dan menikah beberapa saat kemudian. Happily ever after.

Pride & Prejudice seperti sebuah dinding antar perasaan. Selama pride kita masih tinggi dan prejudice kita masih penuh, maka semuanya nampak sangat kabur, tidak ada kejelasan. Bagai menatap air keruh, kita tidak pernah bisa melihat dasarnya. 

Selamat menyambut tahun baru wahai jiwa-jiwa yang baru!
Malang , 27 Desember 2016
R. Shantika Wijayaningrat



Sabtu, 12 Maret 2016

Solo - Jogja Kisah Pecahnya Sebuah Keluarga Besar


Artikel saya beberapa waktu yang lalu mengenai kondisi terkini keraton-keraton masyarakat Jawa, mendapatkan respon yang cukup menarik dari para pembaca. Namun demikian bagi masyarakat yang masih awam akan hal sejarah Jawa abad pertengahan, ternyata mengalami kesulitan dalam menghubungkan keraton-keraton tersebut dengan Kerajaan Mataram. Selain itu, awal mula keraton-keraton di Solo dan Jogja juga ternyata membingungkan bagi sebagian orang.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba membuat skema silsilah keraton-keraton Jawa terutama yang masih eksis di Jawa Tengah dan DIY. 

(Untuk dapat membaca dengan lebih jelas, akan lebih baik jika gambar berikut di download terlebih dahulu dan dibuka melalui gallery/ photo viewer)


Dari silsilah di atas sangatlah jelas bahwa awal mula keraton-keraton di Solo dan Jogja berasal dari Kerajaan Mataram. Kerajaan Mataram diproklamirkan oleh Raden Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati. Sebagian masyarakat mengatakan yang mendirikan Kerajaan Mataram adalah ayah Panembahan Senopati yang bernama Kiai Ageng Pemanahan, namun bagi saya hal tersebut tidak tepat, karena meskipun yang membuka hutan Mentaok untuk dijadikan pemukiman adalah Kiai Ageng Pemanahan, tetapi pemukiman baru yang bernama Mataram tersebut masihlah berstatus bawahan Kesultanan Pajang. Baru ketika Raden Sutawijaya menjadi penguasa Mataram, beliau memproklamirkan bahwa Mataram tidak lagi berada dibawah Kesultanan Pajang. Toh memang sebetulnya yang berhak atas Hutan Mentaok waktu itu memanglah Sutawijaya, karena beliau yang berhasil membunuh Harya Penangsang, tetapi karena usia Sutawijaya terlalu muda, ayahnya khawatir Sultan Pajang akan membatalkan hadiah Hutan Mentaok dan menggantinya dengan putri-putri ataupun perhiasan-perhiasan, sehingga Kiai Ageng Pemanahan mengklaim bahwa yang membunuh Harya Penangsang adalah dirinya dan saudaranya yang bernama Kiai Penjawi.
Sri Susuhunan Paku Buwono XII (1925 - 2004)
Raja-raja Mataram awalnya memakai gelar Panembahan karena alasan tertentu, baru kemudian cucu Panembahan Senopati yang bernama Raden Mas Rangsang memulai menaikan gelarnya secara resmi menjadi Sultan Mataram dengan menggunakan gelar Sultan Agung. Raja-raja setelah Sultan Agung menaikan lagi status gelarnya menjadi lebih tinggi dengan gelar Susuhunan Mataram yang dimulai dengan Susuhunan Amangkurat I. gelar susuhunan disini memiliki makna bahwa raja sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan sekaligus pemimpin tertinggi keagamaan, yaitu agama islam.
Pasca Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang memecah Kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Ngayogyakarta, Susuhunan Mataram waktu itu yaitu Susuhunan Paku Buwono III tetap menggunakan gelar Susuhunan, sementara paman nya yaitu Pangeran Mangkubumi memilih menggunakan gelar Sultan dengan nama Sultan Hamengku Buwono. Nama Hamengku Buwono disini memiliki makna historis dan spiritual yang sangat penting sejajar dengan nama Paku Buwono, sehingga tidak bisa dengan mudah diganti dengan variasi lain yang serupa seperti kata bawono, jagat, rat, bumi atau lain sebagainya.


Sri Sultan Hamengku Buwono X (1989 - sekarang)
Pada sekitaran tahun 1755 nampak jelas sekali hubungan kekeluargaan antara Keraton Surakarta dan Ngayogyakarta adalah dekat sekali, dimana penguasa Kasunanan Surakarta adalah cucu dari Amangkurat IV dan penguasa Kasultanan Ngayogyakarta adalah anak dari Amangkurat IV dan 10 tahun berikutnya salah satu cucu dari Amangkurat IV yang lain menjadi penguasa juga dengan gelar Mangkunagoro I. Pada tahun 1810, cucu dari Amangkurat IV lain yang juga putra Sultan Hamengku Buwono I menjadi penguasa juga dengan gelar Paku Alam I.
Sehingga secara garis besar jika kita ingin lebih mudah mempelajari hubungan keraton-keraton di Solo dan Jogja, maka yang dapat digunakan sebagai pancer atau tokoh sentral yaitu Susuhunan Amangkurat IV.
Perlu diketahui bahwa silsilah raja-raja Jawa yang dimulai dari Kerajaan Mataram hingga berbagai cabangnya saat ini tidaklah terlalu sulit jika dibandingkan dengan silsilah raja-raja lain di luar Jawa atau bahkan di luar negeri sekalipun.

Selasa, 19 Januari 2016

ADA APA DENGAN DINASTI MATARAM


(Sudut Pandang Spiritual)

Baru-baru ini dinasti Mataram (The Royal House of Mataram) berduka karena kehilangan dua tokoh yang cukup berpengaruh yaitu GRAy Nurul Suryosuyarso dari Puro Mangkunegaran (Solo) dan KGPAA Paku Alam IX dari Puro Paku Alaman (Jogja). Khusus Puro Paku Alaman, untuk melanjutkan suksesi pemangku pemerintahan sekaligus pejabat Wakil Gubernur DIY, maka diangkatlah KBPH Prabu Suryodilogo sebagai pengganti dengan gelar  KGPAA Paku Alam X pada 7 Januari 2016. Tidak lama setelah penobatan  KBPH Prabu Suryodilogo sebagai KGPAA Paku Alam X, sebagian keluarga Paku Alaman pendukung KGPAA Paku Alam IX Al Haj – Anglingkusumo (sang paman) mengeluarkan pernyataan penolakan terhadap legalitas Paku Alam X. Rupanya aksi penolakan ini merupakan kelanjutan konflik trah Paku Alaman yang belum berakhir semenjak tahun 1998 pasca wafatnya KGPAA Paku Alam VIII.
Konflik keluarga Paku Alaman ini menambah daftar panjang berbagai konflik yang mewarnai Dinasti Mataram dalam satu dasawarsa terakhir. Publik tentu tidak akan lupa dengan konflik keluarga Kasunanan Surakarta pasca wafatnya ISKS Paku Buwono XII yang sampai sekarang masih belum jelas akhirnya. Kemudian keluarga Kasultanan Ngayogyakarta yang selama ini terlihat adem ayem tiba-tiba memanas pasca pengangkatan putri sulung Sultan Hamengku Buwono X
Penobatan Paku Alam X (source: www.beritasatu.com)
, GKR Pambayun menjadi putri mahkota bergelar GKR Mangkubumi. Mungkin hanya Puro Mangkunegaran yang masih terlihat rukun-rukun saja (semoga begitu).







Ngemu Sasmita – Membawa Pertanda
Bagi masyarakat jawa, konflik di tiga pemangku adat ini bukanlah sekedar konflik suksesi, seperti yang biasa terjadi selama ratusan tahun sejarah Dinasti Mataram. Konflik kali ini terjadi secara bersamaan di dua keraton dan satu kadhipaten yang sama-sama berasal dari Dinasti Mataram. Sungguh bukan hal yang biasa, mengingat dalam 200 tahun terakhir tidak pernah terjadi hal-hal yang rumitnya bersamaan seperti ini. Bisa jadi masalah terakhir yang dihadapi oleh Dinasti Mataram secara bersama-sama adalah Perang Diponegoro dan penangkapan ISKS Paku Buwono VI pada tahun 1830an. Bagi masyarakat jawa hal-hal seperti dianggap bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah penanda jaman.
Meskipun diantara 2 keraton dan 2 kadhipaten hanya Kasultanan Ngayogyakarta dan Puro Paku Alaman saja yang masih memiliki kekuatan politik, namun Keraton Kasunanan Surakarta dan Puro Mangkunegaran masih memiliki kekuatan budaya yang melekat di masyarakat Jawa, terutama yang berhubungan dengan mistik dan spiritual. Segala konflik yang terjadi di keraton diaggap sebagai sebuah pertanda awal konflik yang lebih besar yang terjadi di masyarakat Jawa khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.
ISKS Pakubuwono XIII dan KGPH PA Tejowulan 
dihalangi masuk istana (source: www.solopos.com)

Pada tahun 2013, secara tiba-tiba Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memanggil seluruh putra-putri almarhum ISKS Paku Buwono XII di Istana Gedung Agung Yogyakarta, pemanggilan ini berhubungan dengan upaya pemerintah menjadi penengah rekonsiliasi antara Paku Buwono XIII – Hangabehi dengan Paku Buwono XIII – Tedjowulan. Menurut desas desus kalangan istana kepresidenan, turun tangannya presiden dalam masalah yang selama ini ditulis sebagai masalah internal keraton merupakan rekomendasi dari beberapa penasehat spiritual kepresidenan. Para penasehat spiritual kepresidenan melihat kegoncangan/ketidak-kokohan selama pemerintahan SBY selama ini disebabkan karena adanya ketidak-kokohan “Paku” yang menjadi penguat bangsa Indonesia dalam kacamata spiritual. “Paku” di sini diibaratkan sebagai paku yang tidak menempel kuat pada sebuah rumah, yang mengakibatkan rumah tersebut mudah goyah dan terancam runtuh jika ada goncangan besar. Secara lebih lanjut yang dimaksud “Paku” di sini adalah “Paku Buwono” yaitu gelar bagi raja-raja Keraton Kasunanan Surakarta. Mungkin nampak hanya kebetulan saja gelarnya ada Paku-nya, tapi bagi masyarakat Jawa hal tersebut bukanlah sekedar kebetulan, tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya sudah diatur dan segala sesuatu ada maksudnya. Tidak mungkin Pangeran Puger (1704) tiba-tiba memakai gelar Sunan Paku Buwono I tanpa ada maksud tertentu, padahal para pendahulunya memakai gelar Sunan Amangkurat.
Penobatan Putri Mahkota GKR Mangkubumi (source: www.jpnn.com)

 Apa yang  (menjadi keputusan Presiden SBY bukanlah suatu hal yang tanpa dasar, mengingat di tahun berikutnya yaitu 2014, Presiden SBY akan punya hajat besar yaitu Pemilu Legilatif dan Pemilu Presiden yang sangat berpotensi terjadi kegoncangan besar bahkan perpecahan bangsa (See now). Tentunya SBY tidak pernah mengakuinya, apalagi mengeluarkannya sebagai pernyataan resmi, akan sangat konyol seorang presiden membuat sebuah pernyataan resmi dengan menggunakan dasar sisi spiritual dan dalil paranormal, apalagi SBY adalah seorang Jenderal, Haji dan Doktor,  lha wong Bu Ani Yodhoyono saja pernah cerita melihat hantu di Istana Merdeka langsung menjadi tertawaan publik dan bully-an di media sosial. Illogical and Irrational.
KGPAA Mangkunegoro IX (source: wikipedia.org)

Pada tahun 1992, Presiden Soeharto yang juga seorang Jenderal Besar dan Haji turun tangan langsung untuk menyelesaikan masalah internal di Puro Mangkunegaran. Pada saat itu KGPAA Mangkunegoro IX melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan himpunan keluarga Mangkunegaran memberhentikan (memecat) Mangkunegoro IX dari kedudukannya sebagai Pengageng Puro. Peristiwa ini kemudian berlanjut pada penolakan Mangkunegoro IX pada pemecatan dan berlanjut kepada aksi saling pecat dari jabatan di istana dan saling usir dari tempat tinggalnya di istana. Nampaknya Puro Mangkunegaran – Trah Mataram memiliki arti sangat penting bagi seorang Presiden Soeharto meskipun Puro Mangkunegaran sudah tidak memiliki kekuatan politik apapun di Indonesia, bahkan di Surakarta sekalipun dan kekayaannya banyak diambil alih negara dan digerogoti oleh rakyatnya sendiri. Ibu Tien Soeharto yang masih merupakan kerabat Mangkunegaran tidak bisa secara otomatis ikut campur karena bukan termasuk golongan sentana dalem yang terlibat konflik. Tetapi sudah jelas bahwa Presiden Soeharto yang selalu dikelilingi dunia mistik dan spiritual pasti mengetahui sesuatu jika konflik trah Mataram ini tidak segera diselesaikan.
Nah kembali lagi kepada konflik Dinasti Mataram paling aktual, kisruh di Keraton Kasunanan Surakarta (Solo), Keraton Kasultanan Ngayogyakarta (Jogja) dan Puro Paku Alaman (Jogja) nampaknya menjadi pertanda bahwa masyarakat Jawa (At least yang tinggal di bekas wilayah Kerajaan Mataram) akan memasuki sebuah babak baru yang saya sendiri belum tahu karena baru akan memasukinya.

R. Shantika Wijayaningrat - Surakarta
-ARTIKEL INI DITULIS DARI SUDUT PANDANG SPIRITUAL JAWA -