Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2020

Bertimbal Balik

6 bulan yang lalu, seorang tetangga meminta password Wi-Fi rumah kami. Saya pun memberikannya, karena toh meskipun kami membayar langganan setiap bulan, tapi jarang kami pakai karena kami jarang di rumah, jadi sering over kuota. Toh juga mereka tetangga yang baik, tidak ada salahnya berbagi.

Kemarin saat saya pulang, tetangga saya ini ada di depan rumahnya. Saya pun ngobrol beramah tamah seperti biasa, dan dengan gembira dia bercerita bahwa mereka sekarang berlangganan Netflix. Mendengar ceritanya sayapun ikut bergembira, sambil bercanda saya mengatakan "Wah kalo aku sih jarang di rumah ya, hampir nggak sempat nonton TV, tapi boleh lah ya kapan-kapan pinjem passwordnya, siapa tau ada yang mau ditonton". Tapi suara saya terpotong oleh oleh sebuah suara yang terdengar dari kejauhan, ternyata istrinya, yang duduk di dalam mobil yang menyala "Waduh gimana ya kayanya belum bisa, kami bayarnya lumayan mahal"

Dan suasana pun hening!

Suaminya berusaha mengalihkan pembicaraan, mungkin karena merasa tidak enak hati atas perkataan istrinya. Begitu istrinya masuk ke rumah, dia meminta maaf dan meminta jangan dimasukan ke hati. Saya katakan santai saja tidak perlu diperpanjang. Kami lanjut mengobrol lagi sampai saya pamit masuk ke dalam rumah. Tapi dia masih tetap di terasnya sambil menyiram tanaman.

Tak lama kemudian, istrinya keluar untuk memanggilnya, dia tampak kebingungan, mengatakan TV nya rusak, saya hanya melihat dari jendela. Setelah beberapa menit, dia dan istrinya mengetuk pintu rumah saya dan memberi tahu bahwa Wi-Fi tidak jalan, passwordnya tidak bisa masuk. Saya tersenyum melihat mereka dan berkata, "Passwordnya aku ganti, kami bayarnya lumayan mahal, jadi belum bisa bagi-bagi ". 

Wajah istrinya memerah dan mencoba mengatakan sesuatu, tapi tak ada satu katapun yang keluar. Mereka pun berbalik dan pulang menutup pintu.

_______________________________

Cerita ini bukan cerita saya, tapi ada pelajaran yang saya ambil, bahwa hidup ini haruslah saling bertimbal balik. Kamu tidak bisa terus mengambil tanpa memberi, persahabatan haruslah saling bertimbal balik, cinta haruslah saling bertimbal balik, kasih sayang haruslah saling bertimbal balik.

Mungkin saja kamu bisa terus mengambil tanpa merasa harus memberi, tapi ingat semesta ini selalu menyeimbangkan, pasti akan ada saja yang diambilnya darimu, bahkan sesuatu yang kamu genggam erat, karena takut akan kehilangan.

Tetapi jika kamu terus memberi dengan harapan akan mendapatkan kembali, mungkin kamu akan sering kecewa, karena sumber kekecewaan terbesar umat manusia adalah ekspektasinya sendiri. Namun begitu semesta ini selalu menyeimbangkan, akan mengembalikan pemberian yang telah kamu lupakan.

Jika di tahun 2020 ini kamu banyak kehilangan, maka janganlah bersedih, karena bisa jadi itu adalah timbal balik dari apa yang telah kamu ambil di tahun-tahun sebelumnya. Tetapi jika di 2020 ini kamu mendapatkan lebih, sementara orang disekitarmu kekurangan, bisa jadi itu timbal balik atas apa yang kamu berikan di masa sebelumnya yang kamu sudah tidak ingat, dan jangan lupa untuk memberi yang kekurangan kemudian lupakan pemberianmu. Kita tidak pernah tahu kapan masa sulit akan datang lagi, bisa jadi pemberianmu yang akan menyelamatkanmu. Gusti mboten sare dan semesta ini akan terus menyeimbangkan.


Surabaya, 16 Agustus 2020

R. Shantika Wijayaningrat

Selasa, 27 Desember 2016

Pride and Prejudice




Playlist : Musik lembut



Pulang ke Malang membuat saya bisa sering bertemu dan berkumpul dengan teman-teman lama, teman-teman masa remaja dan juga the old gank entah itu untuk business meeting atau sekedar ngobrol ngalor-ngidul. Ada 6 orang yang bisa dibilang teman-teman dekat saya di masa itu, tiga diantara perempuan (one is little bit masculine woman lol), kami bertujuh dulu hampir tiap hari nongkrong bareng, mulai dari nongkrong yang positif sampe yang tidak terlalu positif (namanya juga remaja) tapi semuanya masih dalam batas kewajaran (menurut ukuran remaja jaman itu). Walaupun jaman sudah berubah dan keadaanpun juga sudah berubah, tapi kalau sudah berkumpul rasanya masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu, bebas mengobrol, bebas curhat, bebas meledek dan saling mencela tanpa perasaan takut ada yang tersinggung, yah you know lah sadisnya guyonan jawa timuran. … I feel like my east Javanese spirit is coming back… lol.

Pada saat kumpul-kumpul, ada sebuah obrolan yang awalnya sekedar bercandaan, tapi berubah menjadi agak lebih serius ketika membicarakannya, yaitu tentang pasangan hidup…. exactly. Diantara enam teman saya, baru ada satu orang yang sudah berkeluarga dan ada satu orang lagi yang tahun depan akan berkeluarga, sisanya single as a pringle. Padahal kalau dilihat, mereka nggak jelek-jelek amat, yang cewek-cewek faham cara berpenampilan, sedangkan yang cowok-cowok juga nggak ada culun dan garing. Apa ini kutukan karena dulu kita pernah ngasih wafer tango di mulut patung Gajah Mada di Gunung Bromo?

Akhirnya terbukalah sebuah forum curhat mengenai ke-single-an masing-masing. Semuanya mendengarkan curhatan satu sama lain. Dari semua curhatan, saya berkesimpulan ada dua hal yang menyebabkan teman-teman saya kesulitan dalam mendapatkan tambatan hati. Yang pertama adalah karena terlalu banyak memilih dan yang kedua adalah karena terlalu mengkhawatirkan seperti apa masa depan nanti. 

Saya teringat sebuah novel klasik yang pernah saya baca waktu kuliah yang berjudul “Pride and Prejudice”, saya dipaksa dosen untuk membaca novel ini selain novel The Great Gatsby demi lulus mata kuliah Book Report, meskipun sebetulnya saya bukan tipe orang yang suka membaca cerita melankolis. Novel klasik ini sangat bagus meskipun bahasanya agak njlimet dan vocabulary yang archaic karena masih ada pengaruh tata bahasa Inggris kuno, maklum novel ini ditulis tahun 1813 di London. Tokoh utama dalam cerita Pride and Prejudice adalah Elizabeth Bennet dan Fitzwilliam Darcy.  Elizabeth adalah seorang gadis yang sangat cantik dan cerdas, dia juga sangat baik hati karena lebih memikirkan kepentingan keluarganya di atas kebahagiaan dirinya sendiri, tapi Elizabeth sangat mudah berprasangka buruk kepada orang lain, sangat skeptis dan selalu menilai orang dari apa yang dia lihat saja. Sementara Mr. Darcy adalah pemuda yang berasal dari keluarga terhormat, tampan dan kaya raya, tapi status sosialnya yang begitu tinggi membuat dia menjadi sangat angkuh dan pilih-pilih.

 Elizabeth dan Mr. Darcy pertama kali bertemu dalam sebuah pesta dansa, dan keduanya langsung jatuh hati satu sama lain. Meskipun Mr. Darcy sangat ingin mengenal lebih dekat Elizabeth, namun dia merasa terlalu gengsi jika harus mendekati Elizabeth yang berasal dari keluarga menengah. Pada dasarnya Mr. Darcy sudah menentukan kriteria-kriteria gadis yang cocok untuk dirinya, dan Elizabeth sungguh sangat jauh dari semua kriteria yang sudah dia buat. Sementara Elizabeth sendiri begitu berkenalan dengan Mr. Darcy dan melihat dia sebagai seseorang yang angkuh, langsung membuat berbagai prasangka buruk dan pikirannya dipenuhi dengan pikiran skeptis, meskipun Elizabeth sendiri juga tidak bisa memungkiri bahwa dia telah jatuh hati kepada Mr. Darcy. 

Mr. Darcy sebetulnya tidak seburuk yang Elizabeth kira, karena Mr. Darcy diam-diam juga memiliki perasaan yang lembut dan selalu memperhatikan Elizabeth. Hubungan keduanya semakin lama semakin buruk karena berbagai kesalah pahaman yang disebabkan oleh keangkuhan Mr. Darcy (Pride) dan sangkaan buruk Elizabeth (Prejudice). Meskipun dalam hati keduanya memiliki perasaan cinta yang semakin lama semakin kuat.

Akhir dari cerita ini adalah “nyambung-nyahubungan antara Elizabeth dengan Mr. Darcy, setelah Mr. Darcy mulai meruntuhkan semua kegengsiannya dan Elizabeth mulai berpikiran positif terhadap Mr. Darcy dan masa depan hubungan mereka. Concisely, it’s happy ending.

Berdasarkan penelitian University of Missouri tahun 2008, ada beberapa kecenderungan yang menyebabkan seseorang dengan pendidikan tinggi (diploma ke atas) mengalami kesulitan dalam menemukan pasangan, yang ditengarai menjadi penyebab paling tinggi adalah high expectation standart. Yah semua orang mungkin memang memiliki  kriteria tertentu seperti yang dibuat oleh Mr. Darcy. Setiap laki-laki mungkin menginginkan pasangan yang cantik, seksi, pintar dandan, enak diajak ngobrol, gaul, layak dipamerkan ke teman-temannya dan berbagai kriteria lain. Sementara para wanita cenderung mengharapkan pasangan yang tampan, kaya, atletis, punya pekerjaan keren, sanggup menghidupi dia dengan segala lifestyle nya.  (Mohon tidak digeneralisasi)

Ternyata high expectation standart yang diharapkan dari calon pasangan merupakan barrier paling tinggi dalam memulai sebuah hubungan. Kalau boleh saya sebut hal tersebut saya istilahkan sebagai “Pride” atau gengsi. Karena pride inilah yang menghalangi kita untuk melihat ketulusan orang-orang di luar standart untuk dekat dengan kita. Semua orang boleh saja mengharapkan pasangan sempurna seperti orang-orang keren yang sering kita lihat dan kita “love” di instagram. Tapi perlu diingat semakin tinggi standart yang kita tentukan, maka semakin sulit juga hal tersebut terpenuhi (seperti teori ekonomi ­supply and demand). Tapi tidak ada yang melarang juga sih kalau mau berusaha keras. Tetapi sesempurna orang yang terlihat di instagram pastilah juga memiliki kelemahan yang tidak terlihat atau malah sengaja ditutupi (seperti teori Character Psychoanalytic  oleh Karen Horney yang mengatakan bahwa seseorang cenderung mengekspos kelebihan yang dia miliki untuk menutupi kekurangan yang besar ).

Hal paling tinggi kedua menurut jurnal University of Missouri tahun 2008 adalah prasangka buruk terhadap setiap orang yang terlihat ingin dekat dengan kita dan juga prasangka buruk terhadap sebuah hubungan di masa depan. Hal ini kadang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang buruk, baik itu dialami oleh diri sendiri maupun orang lain. Seperti Elizabeth Bennet yang pernah merasa takut dimanfaatkan oleh Mr. Darcy. Kadang kita terlalu memikirkan banyak resiko yang akan dihadapi jika menjalin sebuah hubungan, seperti ada sebuah perasaan insecure. Prejudice semacam ini semakin bertambah buruk jika kita memiliki teman dekat yang pernah mengalami perceraian atau patah hati yang dalam, yang bisa membuat kita berpikir ulang untuk memulai sebuah hubungan serius. Selain itu prejudice terhadap ikatan masa depan seperti takut tidak lagi bebas, takut memiliki banyak tanggung jawab, takut memenuhi kebutuhan yang pasti akan lebih banyak juga menghambat seseorang untuk berkomitmen terhadap sebuah hubungan. 

Seperti moral value Pride and Prejudice, maka kita perlu meruntuhkan segala keangkuhan/kegengsian yang kita miliki, kita manusia yang tidak sempurna, maka sudah sepantasnya kita juga menerima orang lain yang tidak sesempurna seperti yang kita inginkan. Berburuk sangka kepada orang lain hanya akan membuat kita kehilangan banyak teman dan kesempatan, dalam filosofi jawa dikatakan “janma tan kena kinira  apa yang terlihat dari seseorang saat ini sesungguhnya tidak bisa mewakili kedalaman jiwa-nya, ketulusan hati-nya dan besarnya masa depannya. Mengkhawatirkan masa depan seperti halnya kita tidak percaya kepada Tuhan, apapun bisa terjadi di masa depan, bahkan hal-hal yang saat ini menurut kita mustahil sekalipun.

Saya ingin menceritakan kisah seorang teman dekat saya, semoga dia berkenan diceritakan kisahnya. Namanya Okta, sosok ini dipenuhi dengan pikiran-pikiran positif dan selalu optimis akan masa depan. Sebelum hijrah ke Jakarta, dia punya pengalaman buruk tentang sebuah hubungan, mulai dari patah hati, hubungan beda keyakinan sampai dengan hubungan yang digantung. Tapi sikap yang optimis dan sumarah membuat dia melewati semuanya dengan tanpa beban, toh hidup sudah ada yang mengatur. Okta ini juga bukan tipe orang yang punya banyak kriteria mengenai pasangan hidup. Dia tidak membebani hidupnya dengan kriteria calon pasangannya nanti harus begini, harus begitu, harus punya ini, harus punya itu, dia los-kan semuanya dengan penuh kesadaran. Alhasil, tidak lama setelah tinggal di Jakarta, dia menemukan seseorang yang betul-betul pas dengannya dan menikah beberapa saat kemudian. Happily ever after.

Pride & Prejudice seperti sebuah dinding antar perasaan. Selama pride kita masih tinggi dan prejudice kita masih penuh, maka semuanya nampak sangat kabur, tidak ada kejelasan. Bagai menatap air keruh, kita tidak pernah bisa melihat dasarnya. 

Selamat menyambut tahun baru wahai jiwa-jiwa yang baru!
Malang , 27 Desember 2016
R. Shantika Wijayaningrat



Senin, 30 Mei 2016

Life is Sawang Sinawang


Dalam sebuah kesempatan, saya berkenalan dan mengobrol dengan seorang pegawai Bank Indonesia, bukan pegawai biasa tetapi sudah berpangkat pejabat eselon dan pendapatnya selalu didengarkan di instansi tersebut. Kesederhanaan dan keluwesan menjadikan beliau mudah bergaul dengan semua orang, semua umur dan semua status sosial. Karena itu beliau menjadi orang yang sangat memahami keadaan riil orang-orang di sekitarnya.
Banyak hal yang kami bicarakan, mulai membahas Kota Solo, membahas pilgub Jakarta hingga sharing mengenai pandangan hidup. Jujur saya banyak belajar dari beliau, pengalaman hidup beliau selama lima puluh tahun cukup menginspirasi saya dalam menata hidup supaya tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Karena setiap keputusan menghasilkan sebuah konsekuensi, dan setiap keputusan menentukan arah hidup kita ke masa depan, apakah itu menjadi baik atau buruk? Menjadi benar atau salah? Menjadi mudah atau sulit?
Ada satu hal yang cukup menarik untuk saya bagi, yaitu mengenai hidup yang sawang sinawang. Jujur saja saya mengalami kesulitan dalam menerjemahkan sawang sinawang dalam Bahasa Indonesia, apalagi Bahasa Inggris. Mungkin padanan yang agak nyerempet adalah “rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”.
Kadang kala kita sering iri melihat kehidupan orang lain, selalu ingin menjadi seperti mereka dan selalu ingin memiliki kehidupan seperti mereka. Jutaan anak muda Indonesia ingin menjadi seorang selebritis yang selalu menjadi sorotan media dan mereka rela melakukan segala cara untuk mencapainya. Tidak aneh juga, siapa sih yang tidak ingin bergaya hidup glamor, bergaul dengan orang-orang terkenal, pokoknya hidup yang fine dining & wine tasting seperti di televisi.
Sebagian besar karyawan juga pasti ingin menempati posisi tertinggi di tempat mereka bekerja dan menjadi bos karena melihat para bos dengan leluasa memerintah karyawannya, gajinya lebih besar, fasilitas yang mewah dan kehidupan yang menyenangkan. Ya memang sifat dasar manusia juga sih yang tidak ingin hidup susah. Sebagian besar mahasiswa bercita-cita bekerja di sebuah kantor dan berstatus orang kantoran karena melihat orang kantoran punya gaji yang memadai, selalu memakai pakaian yang enak dilihat, bekerja didepan meja, di gedung yang megah dan bisa menyebutkan nama sebuah instansi/perusahaan ketika orang bertanya “bekerja dimana?”
Sementara di sebuah dimensi yang berkebalikan arah, para selebritis berjuang dengan darah dan airmata supaya tetap bisa muncul di televisi dan jangan sampai publik melupakannya demi menjaga gengsi dan gaya hidup, walaupun para selebritis itu sadar betul bahwa banyak anak muda calon selebritis di luar sana yang sedang bersiap-siap melengserkan popularitasnya. Ada juga para bos atau direktur yang ingin segera pensiun atau bahkan mengundurkan diri karena tekanan pekerjaan dan hal-hal yang sudah dikorbankan seperti kesehatan, keluarga dan kehidupan sosial yang tidak bisa diganti dengan gaji yang besar dan fasilitas yang mewah. Sementara itu, sejuta orang kantoran di dalam gedung-gedung ber-AC memalingkan wajahnya dari komputer dan menatap jauh ke luar jendelanya berharap bisa bekerja bebas di luar, melakukan hal-hal yang mereka suka tanpa terikat waktu dan tidak terkurung di kantor.
Orang biasa ingin menjadi selebritis yang terkenal dan selalu tampil di televisi, sementara para selebritis berharap kembali mengulang waktu dan menjadi orang biasa yang tidak kenal dengan namanya gengsi-gengsian. Para karyawan ingin menjadi bos yang terhormat di saat para bos ingin bekerja di rumah, dekat dengan keluarga dan bebas tekanan jabatan. Dan para mahasiswa berjuang di kampus supaya nanti bisa menyebutkan nama sebuah instansi/perusahaan ketika orang bertanya “bekerja dimana?” di waktu orang-orang kantoran ingin berwiraswasta atau ber-freelancer, bekerja bebas sesuai passion, tidak terikat jam kantor dan tidak terkurung di gedung megah ber-CCTV.
Mungkin saat ini hanya segelintir anak muda yang ingin menjadi petani yang tinggal pedesaan, mereka memilih bercita-cita menjadi orang hits di kota besar. Padahal di kota-kota besar, banyak sekali para bos dan pejabat yang berharap mereka adalah petani sederhana di pedesaan yang begitu menikmati menanam sayur dan memetik buah di kebun, dan menikmati udara segar tanpa polusi.
Bapak pejabat Bank Indonesia ini menceritakan bahwa selama bertahun-tahun menempati jabatan strategis di Jakarta sudah berkali-kali beliau mengajukan mutasi ke kota Solo atau Jogja, tapi karena tanggung jawabnya yang besar di kantor pusat manjadikan hal tersebut tidak pernah terlaksana hingga mendekati masa pensiun. Pengajuan mutasi ke kota Solo atau Jogja ini bukannya tanpa alasan, beliau menjelaskan bahwa dua kota ini amatlah indah dan menyenangkan. Orang-orang mudah diajak bekerjasama dan tidak gampang emosi, sehingga tekanan macam apapun akan terasa ringan dan bisa dinikmati. Berbeda dengan Jakarta, orang-orangnya begitu self-centered sehingga semua tekanan terasa semakin berat, karena itulah sebagian besar pejabat BI ingin dipindah ke Solo atau Jogja. Namun demikian beliau juga tahu betul bahwa banyak orang Solo yang ingin bekerja di Jakarta karena terlihat begitu keren dan high salary. 
Semua cerita beliau mengingatkan saya akan sebuah ayat Alquran, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak” (Al Baqarah 216).
Kadangkala kita melihat hidup orang lain begitu enak dan indah, karena ya memang yang enak dan indah itulah yang terlihat oleh kita, hingga kita sendiri tidak sadar bahwa kita juga dilihat orang lain memiliki hidup yang menyenangkan dan sempurna, hingga orang lain ingin hidup seperti kita.
Itulah sawang sinawang, segala sesuatu yang terlihat sesungguhnya hanyalah “kelihatannya”


Selasa, 26 April 2016

FOMO : Fear of Missing Out


Dalam ilmu psikologi diakui memang rasa ingin tahu adalah sifat alami manusia, bahkan salah satu sifat dasar. Sifat inilah yang mengantarkan manusia kepada kemajuan peradaban, dalam hal filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang saat ini. Seorang Issac Newton mungkin tidak akan dapat menemukan teori grafitasi bumi jika tidak memiliki rasa ingin tahu yang mendalam mengapa buah apel jatuh ke bawah, bukan meluncur ke atas. Nabi Muhammad SAW mungkin juga tidak akan pernah dikenal dan dinobatkan sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia versi The 100 (Michael H. Hart) jika tidak memiliki rasa ingin tahu yang besar mengenai alam semesta dan kehidupan yang membuat beliau bermeditasi dan mendapatkan wahyu di goa Hira’.

 Kita tidak bisa memungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semaju saat ini berawal dari sifat keingin tahuan manusia selama ribuan tahun, dan hubungan antar individu yang begitu erat juga disebabkan oleh rasa saling ingin tahu antar individu. Namun demikian kita tidak dapat memungkiri bahwa rasa ingin tahu juga membawa Amerika Serikat dan Rusia ke dalam Perang Dingin jilid II selama satu dekade terakhir ini, dimana Rusia siap angkat senjata melawan Amerika Serikat demi melindungi Edward Snowden “si pembisik” atau pemberi tahu segala rahasia gelap Pemerintah Amerika Serikat.



Kepo Sometimes is Annoying

Selama berabad-abad, perasaan ingin tahu manusia memberikan dampak yang begitu besar terhadap peradaban dunia, kehidupan bangsa, kehidupan bertetangga, kehidupan berumah tangga bahkan kehidupan pribadi. Sumbangan kemajuannya berbanding sejajar dengan kerugian yang dihasilkan. Meskipun saya tidak pernah melakukan survey, saya yakin pasti banyak kasus perselingkuhan di luar sana yang berawal dari rasa ingin tahu akan lawan jenis yang bukan hak nya. Apalagi zaman sekarang kemajuan teknologi dan sosial media seolah memberi fasilitas bagi mereka yang memiliki perasaan ingin tahu yang berlebihan untuk mengeksplorasi kehidupan orang lain sampai sedetai-detailnya. Yah… bukan salah path sih, atau instagram, atau facebook, toh memang aplikasi ini dibuat untuk membagikan informasi mengenai dirinya sendiri dan kehidupannya, dan bukan salah mereka juga yang tiba-tiba tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang kehidupan orang lain karena membuka media sosial.

Yang menjadi permasalahan dikemudian hari adalah ketika orang lain berusaha ingin tahu sesuatu dari kita, yang kita sendiri tidak ingin mereka tahu. Disinilah banyak norma dan etika yang ditabrak. Dan ketika norma dan etika ditabrak, maka konflik tidak bisa dicegah (teori Sosiologi). Bayangkan jika seorang laki-laki tertarik kepada seorang perempuan yang sudah menikah, maka dia menghalalkan segala cara demi mengetahui lebih dalam mengenai perempuan tersebut, bahkan sampai mencampuri urusan rumah tangganya, What in the sam hill is going on? It’s privacy… really inappropriate. 

Oke… mungkin urusan rumah tangga terlalu ekstrim, karena saya sendiri belum berumah tangga. Let’s say pertemanan (atau persahabatan), pasti setiap orang punya rahasia yang tidak ingin orang lain tahu, bahkan oleh orang terdekat sekalipun. Kadangkala seseorang yang memiliki rasa ingin tahu berlebihan sampai melanggar privasi sahabatnya demi mendapatkan sebuah informasi, dimana informasi ini juga tidak diapa-apakan alias tidak berguna buat dia. Tapi toh dia merasa senang dan puas jika mengetahui sesuatu yang belum pernah dia tahu dari kehidupan orang lain (say: temannya/sahabatnya). Tapi ini hanya contoh ilustrasi kasus di sekitar kita, tidak untuk di generalisasi.

Hasil survey sebuah media psikologi di tahun 2015, 3 dari 10 kasus insomnia (kesulitan tidur di malam hari) disebabkan oleh kacanduan internet, dimana waktu tidur mereka di malam hari dihabiskan dengan browsing sesuatu yang tidak jelas, membuka-buka media sosial orang-orang yang kadang mereka sendiri tidak pernah mengenalnya. Yang mengejutkan, 2 dari 3 kasus insomnia karena kecanduan internet ini di alami oleh kaum perempuan.

Rasa Ingin Tahu Kadang Juga Perlu Direm

Tulisan ini tidak dibuat untuk menyindir siapapun, atau berusaha menyadarkan pihak manapun. Tulisan ini hanya sekedar sharing ringan tentang realitas kehidupan di sekitar kita. Pada akhirnya kita sendiri yang akan memutuskan dan mengidentifikasi diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang yang punya rasa ingin tahu yang berlebihan atau tidak? Dan jika kita ternyata termasuk orang yang punya rasa ingin tahu yang berlebihan, apakah hal tersebut sudah pada tempatnya atau tidak? Jika kita masih ingin tahu seluk beluk kehidupan orang lain secara mendetail, tentu itu tidak pada tempatnya. Dan yang terakhir, apakah kita lakukan itu bermanfaat untuk diri kita sendiri? Untuk orang lain? Atau malah merugikan/ tidak berguna?

Coba bayangkan anda memiliki seorang teman dekat, anda tahu banyak mengenai dia, meskipun dalam beberapa hal anda merasa dia menyimpan rahasia dalam kehidupannya yang dia tidak ingin anda tahu. Akan lebih menyenangkan jika anda melapangkan dada untuk menikmati ruang yang sudah dia berikan untuk anda dan membiarkan dia menyimpan apa yang ingin dia simpan. Sungguh indah sebuah hubungan jika rahasia tetaplah menjadi rahasia. Tidak tahu kadang lebih baik.


Shantika Wijayaningrat
Solo, 26 April 2016