Kamis, 28 Februari 2019

Kuliah Seribu SKS Ala Mbok Jum



             “Mbok aku wis, piro?” (mbok saya sudah, berapa?)

Lahlah, kowe arep mbayar iki opo nduwe duwit?” (halah, kamu mau bayar memangnya punya uang?)

Yo sing penting diitung sek mbok” (Ya yang penting dihitung dulu mbok)

Itulah salah satu percakapan yang saya ingat antara seorang mahasiswa dengan ibu kantin di kampus 11 tahun yang lalu, bukan saya mahasiswa itu, kebetulan saya duduk persis di depan si ibu kantin, jadi saya bisa mendengar dengan jelas percakapan antara mbok Jum si ibu kantin dengan para mahasiswa yang jadi pelangganya.


Mungkin sebelumnya nama Mbok Jum tidaklah banyak dikenal oleh orang luar UNS, tapi berita kematiannya beberapa waktu yang lalu menjadi berita duka yang disorot oleh banyak media online dalam negeri. Cukup unik memang mengingat mbok Jum bukanlah seorang Walikota atau pejabat yang memiliki satyalencana atau bintang jasa yang banyak, tapi kematiannya cukup untuk menjadi pemberitaan dan ucapan bela sungkawapun mengalir di media sosial.


Mbok Jum hanyalah seorang ibu kantin yang sederhana, kantinnya pun bukan kantin yang spektakuler dengan berbagai menu mewah seperti lobster, shark fin atau medalion steak. Hanya ada pecel, nasi gudeg, sayur lodeh dan berbagai gorengan. Kantinnya pun hanya bangunan semi permanen dengan atap asbes. Tapi karena berada di lingkungan Fakultas Sastra dan Seni Rupa (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) kantin ini jadi terlihat agak eksentrik dengan berbagai lukisan dan grafity hasil karya mahasiswa seni rupa yang membutuhkan tempat berekspresi.


Lantas apa yang membuat kantin mbok Jum begitu termasyur diantara puluhan kantin yang tersebar di UNS? Harganya paling murah? masakannya paling enak? Tempatnya paling unik? Pelayanannya paling bagus?


Kalau harga mungkin memang paling murah diantara yang lain, nasi pecel dengan es teh gorengan 2 saja waktu itu cuma Rp. 5.000,- (tahun 2007). Kalau paling enak, relatif sih tergantung selera. Tempat dan pelayanan juga relatif (subjective). Tapi ada satu hal yang mungkin tidak didapat di tempat lain, makan disini boleh ngutang (tentunya jika benar-benar nggak punya uang). Tentu saja itu menjadi daya tarik bagi mahasiswa UNS yang didominasi anak-anak kos-kosan dari luar kota Solo.

Karena itu setiap tanggal tua, jam makan siang. Kantin mbok Jum dipadati mahasiswa dari semua fakultas yang sedang missqueen untuk makan siang murah atau malah makan siang bayar bulan depan. Beda dengan tanggal muda dimana mahasiswa masih bisa berfoya-foya makan di restoran-restoran depan kampus yang mahal, kantin mbok Jum tidak sepadat di tanggal tua. Mbok Jum seperti juru selamat-nya mahasiswa di tanggal tua.

Meskipun kantin-kantin lain sudah menaikan harga makanan karena harga-harga kebutuhan pokok yang naik, mbok Jum tetap keukeuh bertahan dengan harga biasanya dengan alasan dikasih harga murah saja mahasiswa masih banyak yang ngutang, apalagi dikasih harga mahal. Lagian mbok Jum juga suka kasihan dengan mahasiswa yang tidak bisa makan karena tidak punya uang. (detik.com 10/7/2018)


Tapi kemurah hatian mbok Jum kemudian banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa nakal ketika membayar tidak menyebutkan semua yang sudah dimakan. Ada yang mengambil gorengan 5 tapi bilang cuma ambil 2, ambil kerupuk atau pisang tapi tidak disebut. Kalau yang melakukan satu atau dua orang mungkin simbok tidak terpengaruh, tapi kalau yang melakukannya banyak, simbok bisa rugi. Bukannya mbok Jum tidak tahu, tapi mbok Jum memilih membiarkan saja, ikhlas. Inilah yang membuat kantin Mbok Jum melegenda, sejak berdiri 40 tahun yang lalu, kantin mbok Jum menjadi tongkrongan mahasiswa UNS yang sekarang sudah menjadi orang-orang besar, pengusaha sukses, pejabat, bupati bahkan menteri.


Pernah ada seseorang yang datang ke kantinnya lalu memberi uang jutaan rupiah, orang tersebut mengatakan bahwa itu untuk membayar utangnya puluhan tahun yang lalu ketika masih menjadi mahasiswa perantauan.


Kini simbok sudah tidak ada, tapi jasanya akan tetap dikenang ribuan orang yang pernah merasakan lezatnya masakannya dan merasakan kebaikan hatinya. Mungkin dia hanyalah seorang ibu kantin biasa yang sederhana, tapi ketika dia tiada, banyak orang merasa kehilangan, banyak bela sungkawa yang terucap, banyak media yang memberitakan dan banyak doa yang mengalir.  Ketulusannya akan menjadi inspirasi bagi semua orang, bukan cuma civitas akademika UNS saja. Mungkin itulah kuliah 1.000 SKS yang diampu oleh mbok Jum, mata kuliah ketulusan. Bahwa kebaikan-kebaikan kecil adalah awal bagi kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lebih besar. 




Selamat jalan mbok

Pinanggih malih mangke ing kalanggengan






Surabaya 15 Maret 2019

R. Shantika Wijaya






Sumber Referensi
















Rabu, 30 Januari 2019

Budaya Jawa, Komoditas Film Horor Indonesia


Bunga kantil dan melati, sesajen dari berbagai makanan dan ayam hidup, tembang macapat yang dimodifikasi, pohon beringin besar, mantra kuno dalam bahasa jawa, keris, jumat kliwon, satu suro dan masih banyak hal-hal lain yang sering kita temui sebagai elemen utama film-film horor Indonesia.

Sejak boomingnya film horor Indonesia di tahun 1970an, elemen-elemen kehororan yang sering dimunculkan adalah elemen klenik dan mistik. dan lebih khusus lagi, klenik dan mistik yang bersumber pada budaya Jawa. Sejak tahun 1970an sampai sekarang sudah berapa banyak film horor Indonesia yang mengekploitasi budaya jawa sebagai komoditas horor. Film malam satu suro, ratu pantai selatan, ratu pengasihan hingga yang terbaru lingsir wengi hampir semuanya mengadopsi budaya jawa sebagai elemen utama ke-horor-an mereka.
Penggunaan budaya jawa dalam film horor secara terus menerus telah menggiring persepsi masyarakat mengenai budaya mereka sendiri. 

Sebut saja dukun, pada masa dokter belum banyak dan menjamah masyarakat terpencil di pedesaan, dukun adalah harapan bagi mereka yang sakit dan memiliki permasalahan. Seorang dukun bukanlah seperti yang digambarkan oleh film-film horor saat ini yang identik dengan pakaian serba hitam, rambut gondrong, suara berat dan berbagai macam cincin akik yang melekat di jari-jarinya. Dukun real di masa lalu adalah seseorang dekat dan sangat dihormati masyarakat, dihormati karena kebijaksanaanya membantu permasalahan orang lain dan juga pemahaman terhadap obat-obatan tradisional yang bisa membantu menyembuhkan orang yang sakit. Penampilannya pun tak jauh berbeda dengan trend mode masyarakat kebanyakan di masa itu.

Dukun sebagai pemuka agama suku tengger

Tapi kini ketika kita mendengar kata dukun, maka yang terlintas pastilah berhubungan dengan ilmu hitam, kekuatan supranatural yang digunakan untuk hal-hal tidak baik, pakaian hitam, rambut gondrong, memakai ikat kepala kain batik, cincin batu akik, dan juga sepotong berita kriminal di media masa yang terkadang menjeratnya.

Persepsi seperti itu terbentuk akibat (salah satu-nya) penggiringan persepsi lewat film horor kita yang dilakukan secara terus menerus. Sehingga boleh dikatakan kata “dukun” itu saja sudah mengalami peyorasi yang sangat keji. Yang awalnya profesi berhubungan dengan pengobatan dan konsultan menjadi profesi berhubungan dengan penyembahan setan dan kriminalitas.

Sesajen untuk upacara besar di Keraton Solo
Sesajen, yang orang melihatnya saja sudah jijik karena dianggap makanan setan. Padahal kami di keraton masih menggunakan sesajen sebagai bagian penting dalam upacara-upacara adat dan tetap mempertahankannya karena merupakan simbol-simbol doa dan harapan.

Ada lagi, legenda Kanjeng Ratu Kidul alias Ratu Pantai Selatan yang difitnah secara keji oleh film-film horror kita, padahal dalam pandangan orang jawa di masa lalu Kanjeng Ratu Kidul adalah tokoh legenda baik hati yang merupakan leluhur para raja Jawa. Belum lagi keris, bunga tujuh rupa, hari jumat kliwon, malam satu suro, bakar dupa yang semuanya dijatuhkan maknanya oleh film-film horror kita.

Maka jangan banyak berharap generasi muda kita mau belajar tembang mocopat jika terpatri dalam benak mereka tembang macapat adalah nyanyian pemanggil kuntilanak.
Dewa Poseidon dan Setan

Hermit (orang bijak) dan penyihir
Jika kamu pernah membaca novel The Da Vinci Code -nya Dan Brown. Disana pernah membahas mengenai defamation atau penghancuran reputasi simbol-simbol budaya masyarakat Eropa asli oleh oknum-oknum di masa lalu secara sistematis dan massif. Seperti misalnya di masa kuno topi kerucut adalah simbol para cendikiawan, tapi kemudian dijatuhkan sebagai topi yang biasa dipakai para penyihir jahat. Contoh lain adalah trisula yang menjadi senjata dewa Poseidon yang bijaksana, pada perkembangannya turun menjadi senjata pegangan setan. Bintang lima yang di masa lalu merupakan symbol pencerahan spiritual, difitnah menjadi simbol ritual pemujaan setan.



Jumat, 07 Desember 2018

Meludahi Langit



Suatu hari ada seorang bijaksana yang memasuki desa, si orang bijak senang berkotbah dan mengajari siapapun yang ia temui untuk selalu berbuat kebaikan. Si orang bijak berkelana dari desa ke desa untuk mengajar kebaikan. Ketika si orang bijak sampai di sebuah desa terpencil di pinggir hutan, ada seorang pria jahat yang menjadi penguasa desa yang selalu menarik pajak kepada kepada warga desa. Pria ini merasa terganggu dengan kedatangan si orang bijak, si pria jahat khawatir jika desanya diajar oleh si orang bijak, maka orang desa akan lebih menghormati si orang bijak daripada dirinya. Maka si pria jahat inipun memarahi dan memaki-maki si orang bijak dengan kata-kata kasar. Si orang bijak meskipun diperlakukan kasar namun tetap tenang dan berjalan meninggalkan pria itu. Tapi si pria jahat belum puas melihat ketenangan si orang bijak, maka dia pun mengikuti si orang bijak kemanapun dia pergi sambil memaki-makinya.

                Sampailah si orang bijak di bawah pohon beringin besar tempat dia akan bermeditasi, si pria pemarah diam saja, sepertinya sudah kehabisan tenaga karena sudah memaki-maki sepanjang jalan. Si orang bijak kemudian bertanya mengapa pria itu begitu marah kepadanya.

Si pria itu kemudian menjawab Kau tidak punya hak mengajari orang lain. Kau sama bodohnya dengan yang lain. Kau bukan dewa”  

Si orang bijak kemudian tersenyum, dan bertanya sekali lagi Katakan kepadaku, jika kau membeli hadiah untuk seseorang dan orang itu tidak mengambilnya, jadi milik siapa hadiah itu?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, pria itu terkejut dan menjawab, Tentu saja menjadi milikku karena aku yang membeli hadiah itu”

Sang bijak pun tersenyum dan berkata, “Itu benar, dan itu persis sama dengan kemarahanmu, jika kamu marah dan aku tidak terpengaruh, maka kemarahan itu akan kembali padamu. Kamulah yang akan tidak bahagia, bukan aku”

Sesungguhnya yang kamu lakukan adalah menyakiti dirimu sendiri

Seringkali kita tidak menyadari apa yang terjadi adalah akibat dari tindakan kita di masa lalu, jika yang kamu terima hari ini baik, bisa jadi adalah balasan dari kebaikan yang kamu lakukan sebelumnya. Namun jika yang kamu terima hari ini sebaliknya, maka sudah sepatutnya kamu berintrospeksi, bisa jadi kamu pernah melakukan sesuatu yang tak terpuji sebelumnya. Dengan kita selalu menyadari hukum timbal balik, maka kita akan selalu berhati-hati dalam berpikir, berucap dan bertindak. Sama seperti jika kamu meludahi langit, maka ludah itu akan menimpa wajahmu sendiri.



Surabaya, 8 Desember 2018
R. Shantika Wijayaningrat


Sumber Referensi

Lalitavistara Borobudur Temple
Image by Google


Selasa, 30 Oktober 2018

Toxic People: Keracunan Tanpa Minum Racun


Saya mengalami kesulitan menterjemahkan Toxic People ke dalam Bahasa Indonesia, karena jika diterjemahkan secara literal akan menyebabkan makna ambigu, sementara jika diterjemahkan secara kontekstual akan menjadi sebuah frasa yang panjang. Memang pada dasarnya toxic people bukanlah sebuah istilah yang baku dalam Bahasa Inggris, melainkan hanya istilah slang (non-formal).

                Definitely, Toxic People didefinisikan sebagai orang-orang yang memiliki dampak negative bagi kehidupan kita, entah itu dampak negative terhadap mental, emosional, spiritual bahkan finansial sekalipun, dan mereka kebanyakan berada di sekitar kita. Tapi kadang karena bergaul sudah terlalu dekat, sehingga kita tidak menyadari bahwa orang tersebut membawa dampak negative bagi kehidupan kita. Lalu bagaimana kita mendeteksi keberadaan toxic people tersebut, kemudian bagaimana caranya menyikapi atau menghadapi mereka. Let’s talk about it.

                Saya bukannya mau mengajak kamu untuk men-judge atau menghakimi orang-orang disekitar kamu, apakah dia seorang toxic atau bukan. Tapi setidaknya ketika kita tahu bahwa seseorang itu membawa sebuah pengaruh negatif, kita bisa memfilter diri kita sendiri supaya tidak terpengaruh.

Kadang memang tidak mudah untuk bisa merasakan pengaruh seseorang terhadap diri kita sendiri, yang mudah melihat atau merasakan perubahan itu malah biasanya orang lain. Tapi jika kamu merasa yang biasanya hidup penuh antusias, disiplin, pekerja keras namun tiba-tiba setelah berteman akrab dengan seseorang membuat hidup kamu jadi pemalas, malas bekerja, malas bangun pagi, pengennya santai-santai ngobrol sambil ngopi-ngopi saja, leda-lede (tidak pernah serius), lebih suka main game di handphone, youtube-an, facebook-an, instagram-an daripada mengerjakan target pekerjaanmu, maka bisa dipastikan kamu sudah ter-toxiced alias telah teracuni pengaruh negatif.

Jika kamu biasanya sopan kepada orang lain, menghormati orang tua, patuh dan santun kepada atasan, tidak suka bergosip, tidak suka meninggalkan tanggung jawab pekerjaan, tapi setelah kantor kamu kedatangan orang baru yang sering bergaul dengan kamu, kamu menjadi orang yang kasar kepada orang tua, menyepelekan dan membantah atasan, suka membicarakan keburukan orang lain atau keburukan apapun yang bisa dibicarakan. Fix kamu salah pergaulan, dan sudah teracuni oleh si toxic people.

Kalau mau menyebutkan satu-satu, mungkin pembahasannya akan ber-episode-episode, tapi setidaknya ada 7 tipe toxic people yang dirangkum dari sumber-sumber akurat untuk sekedar diketahui.

1.       Si Aku, Aku dan Aku
Pernah nggak kamu mengobrol dengan seseorang yang suka memotong pembicaraan kamu, dan senang sekali menjelaskan dirinya secara panjang lebar. Misalnya dalam sebuah percakapan, kamu sedang menceritakan ada orang yang sedang ditilang di jalan saat berangkat kerja, tiba-tiba ada seorang temanmu yang tanpa permisi dan tanpa menunggu pembicaraan, memotong apa yang sedang kamu ceritakan dan mulai menceritakan pengalaman dirinya sendiri saat ditilang di jalan beberapa waktu sebelumnya secara panjang lebar. Meskipun hal ini kadang kita maklumi begitu saja, tapi disadari atau tidak, inilah yang disebut conversational narcistist, orang yang selalu ingin membicarakan dirinya sendiri, tentang dirinya tanpa mau mendengarkan orang lain, self-centered person. Meskipun kadang kita maklum, namun dalam situasi tertentu hal tersebut membuat kita kesal, dongkol dan mulai menyimpan energi negative. Wajar saja itu terjadi, karena kita merasa tidak dihargai dan harus mengalah dengan kenarsisan orang lain.

2.       Si Ngapain, diapain, begini saja
Tipe kedua ini, ingin selalu mengendalikan sesuatu disekitarnya, selalu ingin tahu, selalu ingin mencampuri, selalu ingin memberi masukan dan selalu ingin masukannya diterima dan dijalankan. Dalam kasus ini dia bukanlah atasan kamu, tapi dia selalu mencampuri urusan kamu sampai-sampai kamu kehabisan ruang untuk menyelesaikan urusan kamu dengan cara kamu sendiri. Saya pernah memiliki seorang rekan kerja yang selalu ingin tahu apa yang sedang saya kerjakan, kemudian dia memberi masukan dan agak memaksa supaya masukannya diterima dan dijalankan. Karena dia sedikit lebih senior daripada saya, masukannya saya dengarkan, tapi tentu saja tidak saya jalankan. Karena dia bukanlah seseorang yang sesuai dengan kapasitasnya, bahkan memberi masukan sesuatu yang bukan bidangnya. Sementara saya menjalankan sesuatu yang sudah menjadi bidang saya selama bertahun-tahun. Kalau kita mau berfikir positif, mungkin dia terlalu peduli dengan kamu, tapi tetap saja kita jadi kehilangan ruang untuk menjalankan tanggungjawab kita sendiri.


3.       Si Pesimis
Tipe yang satu ini, seolah kamu tidak pernah mendengar sesuatu yang positif yang keluar dari mulutnya. Adanya hanya mengeluh, dan apapun yang terjadi, maka dia akan melihat hal tersebut dari sudut pandang negatif. Mereka suka sekali menghancurkan harapan orang lain dengan sifat pesimisnya. Seolah di dunia sudah tidak ada lagi yang bisa disyukuri dan kita tidak bisa berharap sesuatu yang lebih baik. Si pesimis ini bagaikan vampire yang selalu menghisap energi positif kamu dan menggantinya dengan pikiran negatif.

4.       Si Raja/Ratu Drama
Mungkin ada diantara kita yang menganggap si raja atau ratu drama adalah hiburan di saat bosan, tapi ketahuilah bahwa mereka yang senang mendramatisir permasalahan bukan seseorang yang cocok untuk diajak bekerjasama menyelesaikan suatu permasalah, alih-alih mengurangi beban pikiran, mereka malah menjadikan pikiran semakin berat. Biasanya orang yang senang mendramatisir permasalah adalah attention seeker atau orang yang suka mencari perhatian. Dia ingin mendapatkan simpati dari orang lain dengan cara membesar besarkan permasalahan kecil. Kalau kamu punya rekan yang seperti itu, pastilah jengkel sepanjang hari.


5.       Si Pendengki
Si pendengki ini mudah sekali dikenali, dan biasanya tidak memiliki teman. Mereka tidak senang melihat orang lain senang, tapi malah senang melihat orang lain susah. Di kondisi yang lebih ekstrim, si pendengki tidak akan segan-segan berusaha menghilangkan kesenangan orang lain. Ketika dia berhasil menghilangkan kesenangan orang lain, dalam pikirannya “yah setidaknya saya nggak susah sendirian, kita susah bareng-bareng” Menjengkelkan bukan?

6.       Si Ngibul
Tipe yang satu ini hobi sekali berbohong, menceritakan suatu kebohongan kepada orang lain dengan cara-cara yang meyakinkan, tujuannya macam-macam, tapi kalau si ngibul, kadang suka berbohong dengan tujuan ‘pencitraan’ atau kadang biar nyambung aja sih kalau diajak ngobrol. Yang fatal kadang mereka lupa dengan kebohongan sebelumnya, sehingga ketika tanya pertanyaan yang sama, maka jawabannya akan berbeda dan menjadi nyleneh.

7.       Si Arogan
Si Arogan biasanya adalah mereka memiliki power untuk menekan orang lain yang lebih lemah. Mereka sangat self-centered dan tidak mau memperhatikan kepentingan orang lain, yang paling utama adalah kepentingannya sendiri. Kadang orang arogan hanya ingin menunjukan kekuatannya kepada orang lain dan menginginkan sebuah respek dari mereka.  Respek itulah yang membuat mereka senang.

                Lantas bagaimana mengahadapi orang-orang yang seperti itu? Seperti yang saya sebutkan diawal, saya tidak bermaksud mengajak kamu memberikan judgement kepada orang lain, tidak mau membuat kamu menjauhi orang-orang yang ada disekitarmu, atau secara frontal membuat kamu memilih-milih untuk berteman. Nope. Tapi harus kita sadari bahwa berada dilingkungan orang-orang dengan energy negatif tinggi akan membuat kamu mudah terpengaruh energi mereka dan ikut-ikutan menjadi negatif. Seperti perumpamaan kuno jika kamu berada di toko minyak wangi, maka kamu bisa ikut berbau wangi, sementara jika kamu berada di tempat sampah maka kamu bisa ikut berbau sampah.

Berada di lingkungan orang-orang dengan energy negatif tentunya bisa membuat kamu cepat lelah, mood gampang turun bahkan dalam jangka waktu lama bisa membuat kamu depresi. Jika meninggalkan mereka adalah pilihan paling mudah, maka kamu tidak perlu buang waktu untuk segera melakukannya. Namun jika meninggalkan mereka adalah pilihan sulit karena berbagai factor, maka kamu cukup harus mengimbanginya dengan bergaul bersama orang-orang yang berenergi positif seperti bersama di pendengar yang baik, si optimistic, si praktis, si lemah lembut dan lain-lain.


Si aku, aku dan aku
bisa kamu hadapi dengan mengabaikan atau tidak antusias mendengarkan ceritanya. Si ngapain, diapain, begini saja bisa kamu hadapi dengan menunjukan bahwa kamu bisa mengatasi masalahmu sendiri dengan caramu sendiri. Si pesimis bisa kamu hadapi dengan sikap optimisme kamu dan menunjukan bahwa sikap optimism kamu membawa hasil yang baik juga. Si raja/ratu drama bisa kamu hadapi dengan sikap tegas dan praktismu yang tidak bertele-tele di hadapan mereka.

Saya yakin setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Jika kopi kamu terasa kurang manis, maka kamu akan menambahkan gula. Demikian juga hidup kamu, jika hidup kamu terasa kurang bermakna, atau kurang positif, maka kamu harus menambahkan sikap hidup yang positif, dengan cara bergaul dengan orang-orang yang positif juga.

Surabaya, 31 Oktober 2018
R. Shantika Wijayaningrat



Sumber Referensi
Alquran
Serat Wulangreh (Paku Buwono IV)
Serat Wedhatama (Mangku Nagoro IV)
Image by Google

Minggu, 30 September 2018

Be Yourself ! (Be Careful)


Mungkin kalimat ini terdengar tidak asing belakangan ini, memang ini adalah sebuah semboyan yang cukup popular dan terasa begitu pas ketika kamu bingung dalam kebimbangan, dalam keresahan akibat sebuah keadaan-keadaan tertentu.

Atau ketika kamu naksir seseorang, sementara seseorang itu menyukai orang lain yang karakter dan penampilannya berkebalikan dari kamu. Disitulah be yourself menjadi terasa syahdu berharap kamu menemukan seseorang mau menerima kamu apa adanya dirimu dengan segala kekuranganmu dan kelebihanmu.

Ada sebuah pesan positif yang kita dapatkan dari quote ini. Bagaimanapun juga setiap manusia dibekali kelebihan dan kekurangan oleh Tuhan untuk dijadikan modal dalam menjalani hidup. Kelebihan yang berbeda, dan kekurangan yang berbeda menjadikan nasib setiap manusia juga berbeda-beda.

Be yourself! Apakah kamu akan menjadi diri sendiri sepanjang waktu? Diri sendiri yang mana?

Cukup membingungkan memang semboyan ini jika kita tidak memahaminya secara tepat. Untuk menjadi diri sendiri sementara diri kita sendiri terus berkembang dan belajar.

Menjadi diri sendiri, diri sendiri yang mana? Menjadi diri sendiri yang tetap suka daging kambing sementara dokter sudah menvonis hypertensi? Diri sendiri yang malas bangun pagi, malas kerja sementara dompet kosong dan bon menumpuk? Atau diri sendiri yang pelit, suka mengumpat, suka dengki kepada tetangga sementara semua tetangga kamu tidak ada yang mau menyapa mu?

Sungguh ironi memang ketika kita berusaha menjadi “be yourself” justru menghambat kita untuk memperbaiki diri sendiri. Kata-kata be yourself justru menghalangi kita dari berintrospeksi diri dan mengoreksi akan kekurangan-kekurangan diri yang sebetulnya bisa menjadi lebih baik. Kadang kita berusaha hidup sesuai prinsip yang kita sendiri yakin cocok, tetapi sebetulnya justru prinsip hidup itu yang menghambat kemajuan kita. Toh padahal sejujurnya, ada banyak sekali prinsip hidup dan filosofi hidup yang kita bebas memilihnya sesuai dengan keadaan.

Jika kamu seorang jomblo, ingin punya pacar, tapi kamu malas bergaul, malas mandi, malas berpakaian yang enak dilihat orang, rambut awut-awutan, yang kamu lakukan hanya main game di kamar semalaman dan tidur sepanjang siang, keluar kamar hanya untuk makan, dan kamu sangat berharap sekali segera punya pacar yang cantik, sociable, enak diajak ngobrol. So just be your self! Dan kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan.


Jika kamu seorang pemalas, malas bangun pagi, malas bekerja, pokoknya kamu maunya pengen tiduran di kamar sambil nonton TV seharian dan tidak mau melakukan hal lain. Tapi kamu ingin sekali bekerja, punya penghasilan sendiri, berada di kantor yang memiliki prestis tinggi. Dan ketika kamu meminta saran kepada temanmu, temanmu mengatakan  “Just be yourself” dan kamupun kembali tiduran di kamar dan tidak melakukan apa-apa lagi karena kamu merasa “This is yourself”, inilah prinsip hidupku.

Kamu orang yang tidak suka mengambil tanggung jawab, kamu hanya senang mengerjakan sesuatu di awal, ketika kamu bosan maka kamu akan melempar pekerjaanmu kepada orang lain sebelum menyelesaikannya. Atasan dan rekan-rekan kerjamu sangat sering mengkritik kamu dan menganggap kamu tidak bertanggung jawab. But what? kamu merasa “ya beginilah diri kamu” dan kamu merasa tidak perlu untuk berubah menjadi orang yang bertanggung jawab seperti yang diharapkan oleh teman-temanmu karena itu bukan diri kamu sendiri melainkan meng-imitasi orang lain.

Entah kenapa ada quote yang lebih melekat di hati saya  Be the best version of you” sebuah kalimat yang terasa indah di telinga dan memacu kita untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Jika kamu seorang yang overweight atau obesitas, maka kamu menjaga pola makan dan mulai berolahraga, sehingga tubuh kamu sehat dan proporsional dan inilah versi terbaik dari penampilan kamu.

Jika kamu seorang pemalas, tapi kamu ingin lebih produktif, sehingga kamu berusaha untuk bangun lebih pagi, tidak suka menunda pekerjaan, dan berusaha menggunakan waktumu se efektif mungkin. Dan kamu merasa bahagia dengan perubahan itu, penghasilanmu meningkat dan kepercayaan datang kepadamu lebih banyak. And this is the best version of you!

Sesungguhnya dunia ini adalah perubahan, dan hidup ini adalah pilihan, kamu bisa memilih menjadi “be yourself” yang bagus, atau “be yourself” yang buruk. Tapi kamu juga bisa menjadi The best version of you, menjadi versi yang terbaik dari diri kamu sendiri.


Surabaya, 30 September 2018
R. Shantika Wijayaningrat




Sumber Referensi
Alquran.

Serat Wulangreh (Paku Buwono IV)

Serat Wedhatama (Mangkunagoro IV)

greatist.com/live/be-yourself-what-it-really-means

psychologytoday.com/us/blog/maybe-its-just-me/201107/definitely-be-yourself-make-sure-thats-the-best-you-you-can-be

theuniversityblog.co.uk/2009/09/28/be-yourself-be-genuine/

tinybuddha.com/blog/what-it-means-to-just-be-yourself-and-how-to-do-it/

Jumat, 31 Agustus 2018

Be Kind Anyway


           Apakah pernah suatu ketika kamu mengalami keadaan dimana kamu merasa kebaikan yang kamu lakukan adalah percuma. Kamu berusaha berperilaku sebaik mungkin yang kamu bisa, berusaha agar bisa diterima oleh orang-orang di lingkungan kamu, namun tetap saja ada yang tidak menyenangi kamu. Kamu berbuat baik kepada siapapun sebaik yang kamu bisa, namun tetap saja tidak semua balasan kebaikan yang kamu dapatkan. Hingga kamu mengalami sebuah keadaaan krisis kepercayaan terhadap kebaikan dan mulai berpikir untuk apa kamu melakukan kebaikan, toh orang disekitar kamu tidak semuanya baik.


Ada seorang seorang penjual mie di jalanan Kota Bangkok, Thailand yang terkenal murah hati, dia suka memberikan makanan kepada orang-orang yang ingin makan tapi tidak punya uang untuk membeli makanan. Meskipun dia seorang murah hati, tapi memang tidak semua orang senang kepadanya dan meniru kebaikannya, toh untuk apa berbuat baik kepada orang yang tidak mungkin bisa membalas kebaikan. Salah satu orang yang punya pikiran seperti itu adalah tetangganya si pemilik toko obat yang terkenal pelit. Suatu hari ada seorang anak miskin yang mencuri obat demam di toko milik tetangga si penjual mie, si anak miskin terpaksa melakukan itu karena ibunya sedang sakit sementara dia tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli obat. Namun malang, ketika mencuri malah ketahuan pemiliknya, alhasil si anak miskinpun ditangkap dihajar oleh si pemilik toko. Ketika ditanya untuk apa obat itu, si anak menjawab untuk ibunya yang sedang sakit, bukannya berbelas kasihan, si anak miskin malah ditahan oleh si pemilik toko. Mengetahui kesusahan si anak miskin, si penjual mie menebus obat-obatan yang dicuri kepada si pemilik toko obat dan memberikannya kepada si anak miskin. Sebelum pulang, si anak miskin bahkan sempat diberi sekantong sup sayuran untuk ibunya.

Tiga puluh tahun berlalu, si penjual mie masih tetap sama kehidupannya seperti biasanya. Tapi ternyata Tuhan bukannya membalas kebaikan si penjual mie dengan harta yang melimpah, tapi malah diberi ujian penyakit otak yang sangat parah, sehingga si penjual mie harus dirawat di rumah sakit dengan biaya yang besar. Karena tak mampu membayar biaya perawatan yang mencapai ratusan juta rupiah, keluarga si penjual mie terpaksa menjual toko mie miliknya untuk membiayai tulang punggung keluarga mereka. Tapi itulah Tuhan, DIA sudah mengatur semuanya dengan sedemikian rupa. Tanpa disangka keluarga si penjual mie diberitahu melalui surat resmi dari rumah sakit bahwa seluruh biaya perawatan sudah terbayar dan ditanggung oleh seseorang. Dalam surat itu dikatakan bahwa seluruh biaya perawatan telah dibayar 30 tahun yang lalu, dengan sebungkus obat demam dan sekantong sup sayur. Ternyata yang membayar biaya perawatan si penjual mie adalah si anak miskin yang dulu pernah dia tolong, dan sekarang menjadi dokter yang merawatnya. Ini adalah kisah nyata dari dr. Prajak Arunthong yang pernah ditolong oleh si penjual mie. Klik Dr. Prajak Arunthong

Ada banyak sekali di dunia ini orang yang menanam hari ini berharap sudah bisa memanen esok hari. Tapi ternyata Tuhan tidak bekerja demikian, Tuhan selalu memberikan waktu yang tepat kapan kamu akan menerima balasan dari perbuatanmu. Bukan hanya perbuatan baik, bahkan perbuatan jahat sekalipun, karma-nya pun bisa jadi akan kamu terima di waktu yang tidak kamu duga.  

Jika kamu berharap balasan kebaikan dari semua orang yang kamu tolong, yang kamu dapat mungkin malah keputus-asaan karena tidak semua orang bisa menghargai kebaikan orang lain. Tapi jika kamu meyakini kebaikan yang kamu lakukan adalah juga untuk diri kamu sendiri, maka kamu akan terus bersemangat untuk berbuat baik. Dan kata orang Jawa “Gusti Mboten Sare” Tuhan itu Tidak Tidur, kebaikan yang kamu lakukan pastilah akan dibalas oleh Tuhan di waktu dan keadaan yang tepat, yang mungkin kamu tidak pernah menyangka, mungkin dibalas saat itu juga, esok hari, bulan depan, tahun depan, 30 tahun lagi, atau bahkan yang menerima balasan kebaikanmu adalah anak-cucu mu. Hanya Tuhan yang tahu waktu yang tepat. So, jangan pernah menganggap berbuat baik itu adalah percuma.

Surabaya, 31 Agustus 2018
R. Shantika Wijayaningrat




Sumber Referensi

Alquran

Serat Wulangreh (Paku Buwono IV)

Serat Wedhatama (Mangku Nagoro IV)

beavercreekfarm.co/we-cant-make-everyone-happy/

socialtriggers.com/you-cant-make-everyone-happy-stop-trying/

Image by Google


Mother Teresa of Calcutta, my life inspiration