Sabtu, 31 Maret 2018

Sesaji: A Story






                Masyarakat Jawa dalam setiap siklus kehidupannya selalu menandainya dengan dengan ritual-ritual yang menghubungkan dirinya dengan Tuhan YME, sejak dirinya masih berada dalam kandungan hingga bertahun-tahun setelah ia meninggal.

                Dimulai dari tiga bulanan, tujuh bulanan, kelahiran, sepasaranselapananwetonansupitan, tetesan, tarapan, pernikahan, tumbuk ageng,  pemakaman, 3 harian, 7  harian, 40 harian, 100 harian, 1 tahunan, 2 tahunan hingga 1000 harian bahkan kol-kolan (haul). Belum lagi upacara-upacara khusus yang dilakukan untuk menandai sebuah moment yang tidak biasa seperti ruwatan, pindah rumah, membangun rumah, membuat tungku, membuat sumur, membeli kendaraan baru dan lain-lain.

                Upacara-upacara tersebut menandakan bahwa dalam keyakinan masyarakat Jawa segala hal yang terjadi dalam kehidupan manusia merupakan sebuah proses berurutan yang tak pernah putus yang merupakan kehendak Tuhan YME.

                Dalam upacara-upacara tersebut masyarakat Jawa selalu mempersiapkannya dengan baik dan membuat sesaji sesuai dengan momentumnya. Setiap upacara yang berbeda sesajinyapun juga berbeda. Bahkan saking pentingnya sesaji ini dalam masyarakat Jawa, hingga menganggap kesalahan dalam menyiapkan sesaji dapat berakibat proses kehidupan manusia tersebut akan terganggu, atau mendapatkan musibah. Sebetulnya apa yang membuat sesaji begitu signifikan dalam kehidupan masyarakat Jawa?

                Sesaji atau sajen secara literal berarti “sesuatu yang disajikan atau dipersembahkan”, dalam variasi lain di Jawa Timur disebut juga sandingan yang berarti “yang mendampingi”. Dalam KBBI sajen didefinisikan sebagai makanan (bunga-bungaan dan sebagainya) yang disajikan kepada orang halus dan sebagainya. Saya secara pribadi kurang begitu sreg dengan definisi yang disebutkan oleh KBBI karena dalam definisi tersebut, sesaji identik dengan penyembahan makhluk halus dan klenik untuk tujuan yang bertentangan dengan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat kita. Padahal tidak demikian.

Secara kontekstual sesaji dapat bermakna makanan, minuman, barang yang dipersembahkan kepada Tuhan dalam sebuah upacara ritual. Object dari persembahan ini adalah Tuhan, karena doa-doa yang diucapkan ditujukan kepada Tuhan. Akan lucu kiranya jika sesaji dikatakan dipersembahkan kepada makhluk halus tetapi doa yang dibaca memohonnya kepada Tuhan. Nggak nyambung.

Para ulama Keraton Surakarta mendoakan sesaji sebelum dibagi


Pemberian persembahan atau sesaji dapat dikatakan sejak manusia mengenal bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan. Dalam kitab-kitab suci agama samawi (Taurat, Injil & Alquran) menceritakan anak-anak Nabi Adam A.S. (Habil & Qabil) yang memberikan persembahan kepada Allah berupa binatang dan biji-bijian. Allah menerima persembahan Habil karena persembahannya merupakan yang terbaik yang bisa dia berikan. Sedangkan persembahan Qabil (Khain dalam versi Taurat & Bible) ditolak oleh Allah karena persembahan yang dia berikan asal-asalan, sedangkan yang terbaik Qabil makan sendiri. Cerita Habil-Qabil ini merupakan sebuah catatan kapan sesaji/sajen pertama kali dibuat

Hampir semua agama memilliki referensi persembahan kepada Tuhan. Agama Hindu mengatur tatacara persembahan dengan begitu detail dan kompleks dalam kitab Yajurweda dan Upanishad. Begitu pula dengan agama Konghucu dalam kitab Li Jing nya. Bagaimana dengan agama samawi? (Yahudi, Kristen & Islam). Jangan dikira agama samawi adalah agama yang bebas persembahan fisik atau sesajen. Dalam Taurat, Allah menyebutkan secara detail kepada Musa & Harun mengenai tatacara persembahan, mulai dari macam-macam binatang, buah-buahan, roti, biji-bijian, kemenyan dan minyak wangi yang harus dipersembahkan kepada Allah pada waktu upacara-upacara tertentu di Baitul Maqdis di Yerusalem (baca bagian Imamat & Ulangan). 

Alquran surah Almaidah ayat 27 juga menceritakan pertama kalinya manusia memberikan persembahan kepada Allah berupa binatang & biji-bijian, meskipun di masa kemudian Islam hanya mengenal onta, sapi & kambing sebagai kurban yang dipersembahkan kepada Allah SWT pada saat Idul Adha & Aqiqah.
Membakar bukhur (kemenyan)  di depan Kaabah

Beruntungnya kita tidak hidup di zaman Aztec di Mexico yang menjadikan nyawa dan tubuh manusia sebagai persembahan kepada dewa-dewa mereka.

Masyarakat jawa sendiri mengenal sajen sejak zaman purba sebelum mengenal agama Hindu. Hal ini terbukti dari ditemukannya berbagai macam benda & tulang binatang yang diletakan di dalam sarkofagus peti mati manusia purba. Kemudian ketika agama Hindu-Buddha masuk, sajen diatur dengan lebih detail mengikuti Weda & Upanishad yang disesuaikan dengan apa yang tersedia di sekitar masyarakat. 

Memasuki zaman Islam, para wali tidak melihat sesaji adalah suatu hal yang harus dihilangkan sama sekali karena bertentangan dengan agama Islam. Jika seandainya dianggap bertentangan dengan Agama Islam pastilah hari ini kita tidak bisa melihat orang membuat sajen lagi karena sudah dimusnahkan oleh para wali 500 tahun yang lalu. Tapi kenyataannya tradisi membuat sesaji masih ada sampai saat ini, hal ini membuktikan bahwa sesaji termasuk hal yang tidak dilarang oleh para pemuka agama Islam di masa lalu. Berbeda dengan tradisi membuat candi & arca dewa yang sudah punah sejak zaman Kesultanan Demak, karena memang dilarang keras oleh para pemuka agama di masa itu.

Namun demikian, muatan yang terkandung dalam sesaji kemudian diubah oleh para wali. yang awalnya sesaji merupakan persembahan kepada dewa-dewi, kemudian berubah menjadi simbol-simbol permohonan kepada Allah SWT. Saya ambil contoh yang paling gampang misalnya adalah pangider-ider, sajen pangider-ider berwujud tumpeng nasi kecil-kecil atau kadang bubur yang diberi warna kuning, merah, putih, hitam dengan posisi empat arah mata angin tertentu. Dalam agama Hindu empat warna ini merupakan lambang dari dewa – dewa lokapala yang berkuasa menjaga alam semesta dari empat arah mata angin. 

Putih     = Iswara di timur,
merah   = Brahma di selatan,
Image result for jenang 4 warna
Pengider ider

kuning = Mahadewa di barat,
hitam    = Wisnu di utara
campuran warna = Siwa di tengah.

Ketika agama Islam mulai masuk, muatan pangider-ider ini diganti sebagai symbol nafsu manusia yang harus dikendalikan, dan pangider-ider menjadi symbol permohonan kepada Allah SWT agar kita diberi kekuatan untuk mengendalikan nafsu.

Putih     = Nafsu Mutmainah
merah   = Nafsu Amarah
kuning = Nafsu Aluamah (Alwamah)
hitam    = Nafsu Mulkamah (Mulhamah)
campuran warna = Kamilah (Insan Kamil)

Tuwuhan
Contoh lain adalah Tuwuhan, yaitu sesajen yang selalu ada di pintu masuk rumah atau gedung pertemuan saat upacara pernikahan berlangsung. Tuwuhan selalu ada sepasang di kanan kiri pintu. Terdiri dari pisang raja beserta batangnya, tebu wulung, buah kelapa, daun beringin, padi, daun alang-alang, daun apa apa, daun keluwih, daun girang dan daun andong. Semua unsur dalam tuwuhan memiliki makna filosofi yang tinggi bagi pengantin, orang tua pengantin dan tamu undangan yang hadir. Jadi tuwuhan bukanlah sekedar dekorasi penghias ruangan.
Unsur-unsur dalam tuwuhan:
Pisang Raja
Bentuk sisiran pisang yang melengkung ke atas seperti tangan yang menengadah melambangkan permohonan doa kepada tamu yang hadir agar pengantin berdua memiliki kehidupan tenteram dan bahagia
Tebu Wulung
Tebu = AnTEBing kalBU melambangkan kemantaban hati untuk membina rumah tangga
Kelapa muda
Kelapa muda juga disebut sebagai Cengkir = kenCENGing piKIR melambangkan permohonan agar senantiasa diberi pikiran yang lurus
Padi
Melambangkan permohonan supaya tidak kekurangan dalam hal apapun termasuk sandang pangan
Daun Beringin
Melambangkan pengayoman keluarga dan keteduhan sebagaimana pohon beringin yang selalu menjadi tempat berteduh
Daun Alang-alang
Melambangkan permohonan supaya dijauhkan dari segala rintangan (Alangan)
Daun Apa-apa
Melambangkan permohonan supaya dijaukan dari segala musibah (Ora ana apa-apa)
Daun Keluwih
Melambangkan permohonan supaya kehidupan pengantin selalu berkelebihan (luwih-luwih)
Daun Girang
Melambangkan permohonan supaya kehidupannya diberkahi dengan kebahagiaan (tansah girang)
Daun Andong
Pohon andong yang selalu lurus dan biasa dipakai untuk pagar bermakna keluarga yang baru selalu mendapatkan perlindunan dari segala fitnah dan musibah
 


 Makna dari bunga 3 warna (Kembang Telon) yang selalu ada ketika ziarah ke makam, selamatan atau upacara-upacara lain.



                Zaman Hindu
Bunga Merah
Brahma
Pencipta alam
Bunga Hijau
Wisnu
Pemelihara alam
Bunga Putih
Siwa
Penghancur alam

Zaman Islam
Bunga Merah
Tasbih
Subhanallah
Bunga Hijau
Tahmid
Alhamdulillah
Bunga Putih
Takbir
Allahu akbar



Dan masih banyak lagi jenis jenis sajen yang mungkin akan menjadi disertasi doctoral  jika harus dijabarkan maknanya disini satu-persatu. Karena setidaknya ada 96 jenis jenang (bubur), 54 jenis tumpeng, belum lagi ratusan macam sesaji lainnya. Sangat sedih kiranya jika sajen diidentikan dengan penyembahan setan, pesugihan, mencari kesaktian apalagi makanan makhluk halus, toh makhluk halus juga tidak makan makanan semacam itu (they told me by themselves). Apalagi kalau mengingat sesajen itu enak dimakan bersama-sama setelah didoakan.

Sejujurnya saya sangat menyenangi melihat sesajen dan menangkap semua makna luhur dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya. Tak ada satupun dalam sajen itu yang memiliki makna buruk atau mengajak manusia untuk menjauhi Penciptanya. Sajen hanyalah simbol-simbol atau kata-kata sandi yang berisi permohonan kepada Allah untuk kebaikan manusia dan keharmonisan alam semesta.

Surabaya, 31 Maret 2018
R. Shantika Wijayaningrat 

Artikel ini ditulis dengan menggunakan sudut pandang sejarah & budaya, BUKAN sudut pandang agama.

Sumber Referensi
Suseno, Franz Magnis. Etika Jawa. 1984. Jakarta: PT Gramedia
Dipokusumo, KGPH. Dari Sesaji Menuju Makanan Siap Saji. 2017. Surakarta
Al Quran Al Karim (Kemenag RI 1999)
The Holy Bible (King James Version)
Tafsir Al Jalalain (Imam Jalaludin)
Tafsir Al Misbah (Prof. Dr. Quraish Shihab)
Ringkasan Fiqih (Imam Syafii)
Serat Centhini (Paku Buwono V)
Serat Bauwarna (R.Ng. Ranggawarsita)
Serat Tatatjara (Ki Padmasusastra)

Kamis, 01 Februari 2018

Nyekar Makam Raja Imogiri

           



Makam Imogiri Yogyakarta merupakan makam raja-raja Mataram terletak di perbukitan Imogri Bantul.  Makam ini memang diperuntukkan untuk makam raja dan kerabat kerajaan Mataram Islam beserta keturunannya. Masyarakat jawa meyakini, bahwa gunung atau bukit dapat menyimbolkan status sekaligus merupakan upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.
        Memilih perbukitan yang dinamai Pajimatan Girirejo untuk membangun makam raja ternyata mempunyai cerita sejarah sebelumnya. Menurut masyarakat setempat, sewaktu Sultan Agung sedang mencari tanah yang akan digunakan untuk tempat pemakaman khusus sultan dan keluarganya, beliau melemparkan segenggap pasir dari Arab. Pasir tersebut dilempar jauh hingga akhirnya mendarat di perbukitan Imogiri. Atas dasar itulah selanjutnya Sultan Agung menentukan membangun makam raja di Imogiri. Pada tahun 1632 M, kompleks makam Imogiri mulai dibangun oleh arsitek yang bernama Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo atas perintah dari Sultan Agung. Selang 13 tahun kemudian pada tahun 1645 Sultan Agung wafat dan dimakamkan di Imogiri.
            Sultan Agung merupakan raja ketiga Mataram setelah Penembahan Senopati dan Panembahan Seda Krapyak. Mataram mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung karena mampu menguasai hampir seluruh tanah Jawa. Pada masa pemerintahannya, beliau memberikan perlawanan kepada penjajah Belanda. Pada tahun 1628 dan 1629 pasukan Mataram pernah menyerang markas VOC di Batavia walaupun sering gagal. Kegagalan ini menurut cerita karena adanya punggawa dari Mataram yang sebelumnya membocorkan rencana penyerangan tersebut. Punggawa Mataram tersebut menurut cerita adalah Tumenggung Endranata yang juga dikuburkan di Makam Imogiri.
             Karena adanya seorang penghianat tersebut, tempat-tempat logistik berupa lumbung-lumbung padi sebagai tempat persiapan perjalanan pasukan Mataram menuju Batavia dibakar oleh Belanda yang berakibat pasukan Mataram dapat dengan mudah dikalahkan. Sultan Agung akhirnya mengetahui ada salah satu pasukannya yang berkhianat. Sultan Agung selanjutnya mengambil tindakan tegas dengan menangkap dan menghukum mati Tumenggung Endranata. Kepala penghianat tersebut dipenggal dan selanjutnya tubuh tanpa kepala tersebut ditanam di salah satu tangga dibawah pintu gerbang makam.
               Para peziarah bisa menemukan tempat tersebut yang berupa sebuah anak tangga dari batu yang memanjang yang merupakan makam penghianat tersebut. Anak tangga yang terbuat dari batu tersebut sekarang sudah berlekuk karena sudah banyak orang yang menginjaknya. Anak tangga batu tersebut merupakan monumen yang merupakan sebuah peringatan bagi pengikut Sultan Agung agar tindakan penghianatan tersebut tidak terulang kembali.
           Saat memasuki lokasi makam raja tersebut, aroma kembang bercampur dupa seakan menyambut kedatangan para pengunjung. Abdi dalem Keraton hampir setiap hari meletakkan sesajen khusus di makam tersebut. Menurut keterangan juru kunci makam raja tersebut, makam Sultan Agung selalu harum semerbak dikarenakan beliau sekarang sudah sampai tingkatan waliyullah ( kekasih Allah ).
Di tempat ini selain makam Sultan Agung , dimakamkan juga 23 raja keturunan Sultan Agung, makam dinasti Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakara. Makam raja-rajja ini dibagi menjadi 8 kelompok yaitu :
  1. Kasultanan Agungan (Makam Sultan Agung, pemaisuri, Hamangkurat Mas dan Hamangkurat Amral.
  2. Paku Buwanan ( Makam Paku Buwono I dan Paku Buwono II dan Hamangkurat Jawi )
  3. Kasuwargan Yogyakarta ( Makam HB I dan HB III )
  4. Besiyaran Yogyakarta ( Makam HB IV, HB V dan HB VI )
  5. Saptorenggo Yagyakarta ( Makam HB VII, HB VIII dan HB IX )
  6. Kasuwargan Surakarta ( Makam PB III, PB IV dan PB V )
  7. Kapingsangan Surakarta ( Makam PB VI, PB VII, PB VIII dan PB IX )
  8. Girimulya Surakarta ( Makam PB X, PB XI dan PB XII )
         Struktur dan susunan makam raja ini berbentuk segitiga. Makam Sultan Agung terdapat di bagian atas. Sedangkan disisi Timur merupakan tempat makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta dan pada sisi Barat terdapat makam Raja dari Kasunanan Surakarta. Pemisahan makam raja keturunan Sultan Agung tersebut karena imbas dari perpecahan di dalam keluarga Keraton yang berawal dari perlawanan Pengeran Mangkubumi ( HB I ) terhadap kakaknya Paku Buwono II. Akibat perpecahan tersebut yang akhirnya muncul Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 M yang berisi kerajaan Mataram Islam di bagi dua menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
              Hingga kini makam Sultan Agung sangat dikeramatkan sehingga tidak sembarang orang bisa memasuki kompleks makam tersebut. Adanya persyaratan yang harus dipenuhi bila berniat melakukan ziarah pada makam Sultan Agung yaitu : para peziarah dilarang menggunakan alas kaki, membawa kamera, memakai perhiasan terutama dari emas dan harus mengenakan pakaian khas Jawa atau peranakan. Untuk peziarah laki-laki harus mengenakan pakaian jawa berupa blangkon, beskap, kain, sabuk, timang dan samir. Sedangkan untuk peziarah perempuan harus mamakai kemben dan kain panjang.
               Di area makam dan hutan tersebut secara umum para pengunjung dilarang berbuat tidak sopan, berburu, memotong pohon, mengambil kayu dan mencabut / merusak tanaman yang ada.