Minggu, 30 Juli 2017

Accept Things You Can't Change


Di tahun 2009, pada musim liburan kampus saya merencanakan pulang ke Malang dengan naik bis malam seperti biasanya, saya biasa naik bus agak malam sekitar jam 10an agar sampai di Surabaya subuh dan sampai di Malang pagi sudah terang, jadi mau naik kendaraan umum apa saja gampang.

Saya berangkat dari kos di Jalan Mendung pukul 09.30 untuk mencegat bus di halte depan kampus UNS, biasanya bus lewat tiap 10 menit sekali entah itu Eka, Mira atau Sumber Kencono (Sumber Selamat). Saya biasanya lebih memilih Eka atau Mira yang lebih nyaman, saya menghindari naik Sumber Kencono karena reputasinya yang buruk sering ugal ugalan.

Cukup lama saya menunggu hampir satu jam tidak ada bis umum Jogja – Surabaya yang lewat, keadaan semakin sepi tinggal saya sendiri yang duduk di halte, perasaan mulai tidak enak. Sampai sekitar pukul 10.30 ada bis Mira melaju kencang ke arah Surabaya, dengan cepat saya berdiri dan melambaikan tangan, tapi sopir tidak mau menghentikan bisnya padahal kernet sudah melihat saya, tapi tetap saja bis Mira tersebut melaju kencang. Dengan kesal dan setengah marah-marah saya kembali duduk di halte dan berharap segera mendapatkan kendaraan.

Sampai satu jam kemudian, tidak ada bis umum Jogja-Surabaya yang lewat, perasaan saya jadi semakin kesal, sampai-sampai dalam hati saya mengatakan “coba tadi Mira mau berhenti, sekarang sudah bisa tidur tenang di bus”, “Ya Allah pengen pulang aja kok susah banget sih”.

Lewat tengah malam baru terlihat ada bus yang mengklakson saya, segera saja saya berdiri dan melambaikan tangan. Bus pun berhenti dan ternyata itu Sumber Kencono yang selama ini saya hindari. Karena sudah capek menunggu dan busnya sudah terlanjur berhenti, mau tidak mau naik saja. Ternyata busnya agak penuh dan saya harus duduk di kursi belakang, padahal biasanya saya paling senang duduk kursi depan.

Karena sudah mengantuk saya tertidur pulas, sampai saya sadar bisnya berhenti karena macet. Saya lihat tulisan di toko-toko tepi jalan, ternyata baru sampai Ngawi. Macet lumayan lama dan penumpang mulai berisik, tidak biasanya jalan raya tengah malam begini macet, pasti kalau bukan perbaikan jalan berarti ada kecelakaan. Perlahan – lahan bis bergerak , bergantian dengan kendaraan yang berlawanan arah.

Ternyata memang ada kecelakaan, dan polisi sudah mengamankan lokasi. Jantung saya rasanya mau copot begitu tahu penyebab kemacetan, bus Mira yang tadi tidak mau berhenti sudah terguling di tepi jalan. Saya pastikan bis Mira yang naas tersebut adalah bis Mira yang tadi melewati saya, karena saya ingat mereka memakai screen penahan silau bergambar bendera Juventus (club bola). Semakin ngeri lagi melihat kaca depan pecah semua. Tapi sepertinya semua penumpang sudah diberi pertolongan, karena tidak terlihat ada kepanikan di sekitar bus.

Dan saya-pun tidak bisa tidur hingga sampai rumah di pagi hari, membayangkan jika bus Mira tersebut jadi mengangkut saya ketika saya panggil. Apalagi saya suka duduk depan, makin tidak karuan lagi pikiran saya.

Kejadian mengerikan itu tidak akan pernah saya lupakan. Meskipun saya tidak termasuk orang yang celaka, tapi itu membuka mata hati saya bahwa segala sesuatu di dunia ini sudah diatur sedemikian rupa oleh Yang Maha Kuasa. Seolah Tuhan mengatakan kepada saya bahwa saya ini tidak tahu apa-apa, makanya nggak usah ngeyel.

Mungkin dalam hidup, ketika sesuatu tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, kita lebih banyak kecewa, marah, dongkol, bahkan sampai mempertanyakan mengapa semua ini terjadi kepada Tuhan. Kadang kita tidak benar-benar meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena ijin Tuhan.

Kita banyak merencanakan ini itu dengan ekspektasi yang kita buat sendiri seolah tidak mungkin tidak berhasil, kita lupa dengan pepatah “manusia boleh berusaha, Tuhan yang menentukan”. Begitu sesuatu yang kita rencanakan tidak sesuai ekspektasi, kita langsung jatuh, sedih bahkan putus asa.

Hidup memang kadang penuh kejutan, skenarionya tidak pernah diketahui oleh manusia. Hanya Tuhan yang tahu mengapa begini dan mengapa begitu. Tapi menerima kenyataan berbeda dengan menyerah kepada keadaan. Ketika kamu sakit kamu tidak bisa menyerah begitu saja menunggu sembuh dengan sendirinya, padahal kamu bisa menerima kenyataan bahwa sakitmu tersebut bisa disembuhkan dengan obat.

Ketika dulu saya belajar menari klasik gaya Surakarta, filosofi menari klasik gaya keraton adalah “ambanyu mili” atau mengalir bagaikan air. Setiap gerakan begitu tersambung dan mengalir, pacak gulu, besut, ulap-ulap, tawing dan gerakan – gerakan lain seolah tidak boleh dipaksakan. Semakin ada gerakan yang dipaksakan maka semakin tubuh kita cepat lelah bahkan bisa kesleo. Seluruh tubuh digerakan mengikuti irama dan perasaan, seolah-oleh kita bermeditasi sambil bergerak.

Dalam hidup ini semakin kita berkonfrontasi dengan kenyataan yang tak bisa diubah, semakin kita lelah untuk melanjutkan perjuangan, seolah halangan semakin banyak dan semakin berat. Mengikuti filosofi “ambanyu mili” tadi mengapa kita tidak “accept things we cannot change” saja kemudian melanjutkan perjuangan dengan menyesuaikan keadaan yang sudah terjadi (fleksibel). Dengan begitu kita akan terus bersemangat untuk terus berusaha semaksimal yang kita bisa. Toh energy itu kekal, tidak akan ada sesuatu yang sia-sia. Kita kadang hanya terlalu tidak sabaran untuk melihat hasil, padahal Tuhan ingin memberi kita sebuah hikmah terlebih dahulu.



Surakarta, 30 Juli 2017
Shantika Wijayaningrat


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS Al Baqarah: 216)



Sumber Referensi
Alquran
Serat Wedhatama (Mangkunagara IV)
Serat Wulangreh (Paku Buwono IV)
Image by Google


Senin, 27 Februari 2017

The Chronicle of Krendawahana



Jalan masuk menuju Situs Krendawahana
Mungkin tidak banyak yang pernah mendengar nama Krendawahana, kecuali para penggemar wayang kulit dan orang-orang yang aktif di dunia spiritual Jawa. Krendawahana merupakan nama hutan yang terletak di sebelah utara Kota Solo yang luasnya saat ini tidak lebih dari 1 hektar dan terus berkurang akibat padatnya pemukiman. Saya tertarik untuk menulis mengenai Hutan Krendawahana ini karena masih banyak yang masih salah paham mengenai hutan ini, meskipun situs ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang memiliki peran penting sebagai patok kosmologi Kota Solo disebelah utara.
Krendowahono/Krendawahana secara etimologi bermakna ‘berkendaraan kereta jenasah’ (Krenda - Keranda = Kereta Jenasah, Wahana = Kendaraan). Tidak ada yang tahu pasti mengapa hutan ini disebut demikian, karena tidak ditemukan catatan yang memadai dari naskah-naskah kuno mengenai asal mula hutan ini. Namun demikian sumber dari Keraton Surakarta menyebutkan bahwa hutan Krendawahana identik dengan Hutan Pasetran Gandamayit tempat tinggal Bathari Durga dari dunia pewayangan.
Durga
Bathari Durga adalah manifestasi (avatara) Bathari Uma atau Parwati yang merupakan permaisuri Bathara Guru (Shiva) dalam mitologi Jawa Kuna. Dewi Uma adalah seorang dewi yang berparas cantik dan memiliki banyak kesaktian. Kesaktian-kesaktian Dewi Uma ini kemudian diwujudkan dalam banyak manifestasi yang disebut Mahavidhya dalam  10 perwujudan.
Dhumawati menaiki kereta jenazah
Tidak banyak yang tahu bahwa Durga juga memiliki gelar sebagai Dewi Dumawati (Dhumavati) yang bermakna “janda dari tempat berkabut”. Dewi Dumawati digambarkan sebagai seorang wanita tua renta dengan pakaian serba putih sebagai symbol duka cita di zaman kuno, dia menaiki kereta jenazah yang dikelilingi banyak burung gagak. Dewi Dumawati merupakan manifestasi dari Durga sebagai pelindung kaum yang berputus asa, kehilangan harapan dan ketidak berdayaan. Karena itu Dumawati digambarkan sebagai wanita renta yang menaiki kereta jenasah.
Jika ditarik sebuah benang merah, bisa jadi Hutan Krendawahana memiliki hubungan erat dengan ritus pemujaan Dewi Dumawati di era Hindu-Buddha meskipun tidak ditemukan bukti-bukti arkeologis yang memadai. Namun kesimpulan ini cukup kuat mengingat hingga saat ini Hutan Krendawahana dianggap sebagai sebuah sanctuary atau monument pertemuan dengan Dewi Durga.
Durga dalam wujud Dewi Kali (tantra)
Lebih jauh mengenai Dewi Durga dan Dumawati, dalam mitologi Hindu Dumawati hanya dikenal dalam aliran tantra, yaitu sebuah aliran esoteric yang dianut terbatas oleh kalangan tertentu di masa Hindu-Buddha. Masyarakat umum biasanya menganut alira shaiva atau Siwa-isme yang cenderung moderat, namun kalangan tertentu  menganut aliran tantra yang bersifat isoteric atau mistik. Salah satu tokoh penganut aliran tantra yang terkenal adalah Raja Singhasari terakhir yaitu Raja Kertanegara. Dia menganut agama Buddha aliran tantrayana yang bersifat mistik yang umumnya dipenuhi dengan ritual-ritual pengorbanan yang diyakini sebagai jalan pintas untuk memutus rantai karma. Namun nampaknya hingga era peralihan Hindu – Islam, aliran tantra masih bertahan di daerah-daerah terpecil  di Jawa Tengah & Jawa Timur, hal ini terbukti dengan temuan-temuan arkeologis yang bersifat tantra di candi-candi lereng Gunung Lawu (Sukuh-Cetho dll) yang berasal dari dari abad 15-16.
Arca Durga Candi Menggung Tawangmangu
Hutan Krendawahana nampaknya juga memiliki kaitan dengan candi-candi tantra di lereng Gunung Lawu. Candi Sukuh & Candi Cetho memiliki relief yang bercerita mengenai Sudamala, dimana tokoh sentral dalam cerita ini adalah Sadewa (bungsu Pandawa). Dalam kisah ini Sadewa diculik oleh Ranini Dewi Durga untuk dikorbankan supaya Dewi Durga yang berwujud raksasa bisa kembali menjadi dewi yang cantik dan kembali tinggal di kahyangan. Setelah berhasil menculik Sadewa, Dewi Durga kemudian mengikat Sadewa disebuah pohon di Hutan Sentra Ganda Mayit. Namun sebelum Sadewa berhasil dijadikan korban persembahan, Sadewa berhasil diselamatkan oleh Bathara Guru yang merasuk ke dalam tubuhnya. Setelah selamat Sadewa pun meruwat Dewi Durga dan mengembalikan ke wujud aslinya yang cantik kemudian kembali ke kahyangan.
Sadewa diikat di pohon oleh Durga (relief Candi Sukuh Karanganyar)
Di situs Hutan Krendawahana dapat ditemukan pohon beringin putih yang dinamakan punden, yang menurut legenda merupakan pohon tempat Dewi Durga mengikat Sadewa sebelum dikorbankan. Setiap tahun, Keraton Surakarta mengadakan upacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung, dalam upacara ini dilakukan penanaman kepala kerbau lawung, yaitu kerbau jantan khusus yang masih belum kawin dan belum dipakai untuk bekerja.
Penanaman kepala kerbau ini semakin menguatkan hubungan hutan ini dengan Dewi Durga, mengingat dalam mitologi Hindu, Dewi Durga digambarkan berkendaraan kerbau yang kepalanya dipenggal yaitu Mahesasura (Arca Durga Mahisasuramardini). Upacara Mahesa Lawung sendiri  menurut literature kuna merupakan upacara Raja Weda dari masa kerajaan Hindu-Buddha  yang diformat ulang oleh wali songo sehingga menjadi upacara yang lebih Islami.
Upacara Mahesa Lawung oleh Keraton Surakarta

R. Shantika Wijayaningrat
Artikel ini ditulis dari sudut pandang pribadi penulis sebagai penggemar sejarah dan spiritualitas.
Sekiranya diperlukan sebuah penelitian yang lebih mendalam untuk menguji hipotesis yang disampaikan dalam artikel ini.

Selasa, 27 Desember 2016

Pride and Prejudice




Playlist : Musik lembut



Pulang ke Malang membuat saya bisa sering bertemu dan berkumpul dengan teman-teman lama, teman-teman masa remaja dan juga the old gank entah itu untuk business meeting atau sekedar ngobrol ngalor-ngidul. Ada 6 orang yang bisa dibilang teman-teman dekat saya di masa itu, tiga diantara perempuan (one is little bit masculine woman lol), kami bertujuh dulu hampir tiap hari nongkrong bareng, mulai dari nongkrong yang positif sampe yang tidak terlalu positif (namanya juga remaja) tapi semuanya masih dalam batas kewajaran (menurut ukuran remaja jaman itu). Walaupun jaman sudah berubah dan keadaanpun juga sudah berubah, tapi kalau sudah berkumpul rasanya masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu, bebas mengobrol, bebas curhat, bebas meledek dan saling mencela tanpa perasaan takut ada yang tersinggung, yah you know lah sadisnya guyonan jawa timuran. … I feel like my east Javanese spirit is coming back… lol.

Pada saat kumpul-kumpul, ada sebuah obrolan yang awalnya sekedar bercandaan, tapi berubah menjadi agak lebih serius ketika membicarakannya, yaitu tentang pasangan hidup…. exactly. Diantara enam teman saya, baru ada satu orang yang sudah berkeluarga dan ada satu orang lagi yang tahun depan akan berkeluarga, sisanya single as a pringle. Padahal kalau dilihat, mereka nggak jelek-jelek amat, yang cewek-cewek faham cara berpenampilan, sedangkan yang cowok-cowok juga nggak ada culun dan garing. Apa ini kutukan karena dulu kita pernah ngasih wafer tango di mulut patung Gajah Mada di Gunung Bromo?

Akhirnya terbukalah sebuah forum curhat mengenai ke-single-an masing-masing. Semuanya mendengarkan curhatan satu sama lain. Dari semua curhatan, saya berkesimpulan ada dua hal yang menyebabkan teman-teman saya kesulitan dalam mendapatkan tambatan hati. Yang pertama adalah karena terlalu banyak memilih dan yang kedua adalah karena terlalu mengkhawatirkan seperti apa masa depan nanti. 

Saya teringat sebuah novel klasik yang pernah saya baca waktu kuliah yang berjudul “Pride and Prejudice”, saya dipaksa dosen untuk membaca novel ini selain novel The Great Gatsby demi lulus mata kuliah Book Report, meskipun sebetulnya saya bukan tipe orang yang suka membaca cerita melankolis. Novel klasik ini sangat bagus meskipun bahasanya agak njlimet dan vocabulary yang archaic karena masih ada pengaruh tata bahasa Inggris kuno, maklum novel ini ditulis tahun 1813 di London. Tokoh utama dalam cerita Pride and Prejudice adalah Elizabeth Bennet dan Fitzwilliam Darcy.  Elizabeth adalah seorang gadis yang sangat cantik dan cerdas, dia juga sangat baik hati karena lebih memikirkan kepentingan keluarganya di atas kebahagiaan dirinya sendiri, tapi Elizabeth sangat mudah berprasangka buruk kepada orang lain, sangat skeptis dan selalu menilai orang dari apa yang dia lihat saja. Sementara Mr. Darcy adalah pemuda yang berasal dari keluarga terhormat, tampan dan kaya raya, tapi status sosialnya yang begitu tinggi membuat dia menjadi sangat angkuh dan pilih-pilih.

 Elizabeth dan Mr. Darcy pertama kali bertemu dalam sebuah pesta dansa, dan keduanya langsung jatuh hati satu sama lain. Meskipun Mr. Darcy sangat ingin mengenal lebih dekat Elizabeth, namun dia merasa terlalu gengsi jika harus mendekati Elizabeth yang berasal dari keluarga menengah. Pada dasarnya Mr. Darcy sudah menentukan kriteria-kriteria gadis yang cocok untuk dirinya, dan Elizabeth sungguh sangat jauh dari semua kriteria yang sudah dia buat. Sementara Elizabeth sendiri begitu berkenalan dengan Mr. Darcy dan melihat dia sebagai seseorang yang angkuh, langsung membuat berbagai prasangka buruk dan pikirannya dipenuhi dengan pikiran skeptis, meskipun Elizabeth sendiri juga tidak bisa memungkiri bahwa dia telah jatuh hati kepada Mr. Darcy. 

Mr. Darcy sebetulnya tidak seburuk yang Elizabeth kira, karena Mr. Darcy diam-diam juga memiliki perasaan yang lembut dan selalu memperhatikan Elizabeth. Hubungan keduanya semakin lama semakin buruk karena berbagai kesalah pahaman yang disebabkan oleh keangkuhan Mr. Darcy (Pride) dan sangkaan buruk Elizabeth (Prejudice). Meskipun dalam hati keduanya memiliki perasaan cinta yang semakin lama semakin kuat.

Akhir dari cerita ini adalah “nyambung-nya” hubungan antara Elizabeth dengan Mr. Darcy, setelah Mr. Darcy mulai meruntuhkan semua kegengsiannya dan Elizabeth mulai berpikiran positif terhadap Mr. Darcy dan masa depan hubungan mereka. Concisely, it’s happy ending.

Berdasarkan penelitian University of Missouri tahun 2008, ada beberapa kecenderungan yang menyebabkan seseorang dengan pendidikan tinggi (diploma ke atas) mengalami kesulitan dalam menemukan pasangan, yang ditengarai menjadi penyebab paling tinggi adalah high expectation standart. Yah semua orang mungkin memang memiliki  kriteria tertentu seperti yang dibuat oleh Mr. Darcy. Setiap laki-laki mungkin menginginkan pasangan yang cantik, seksi, pintar dandan, enak diajak ngobrol, gaul, layak dipamerkan ke teman-temannya dan berbagai kriteria lain. Sementara para wanita cenderung mengharapkan pasangan yang tampan, kaya, atletis, punya pekerjaan keren, sanggup menghidupi dia dengan segala lifestyle nya.  (Mohon tidak digeneralisasi)

Ternyata high expectation standart yang diharapkan dari calon pasangan merupakan barrier paling tinggi dalam memulai sebuah hubungan. Kalau boleh saya sebut hal tersebut saya istilahkan sebagai “Pride” atau gengsi. Karena pride inilah yang menghalangi kita untuk melihat ketulusan orang-orang di luar standart untuk dekat dengan kita. Semua orang boleh saja mengharapkan pasangan sempurna seperti orang-orang keren yang sering kita lihat dan kita “love” di instagram. Tapi perlu diingat semakin tinggi standart yang kita tentukan, maka semakin sulit juga hal tersebut terpenuhi (seperti teori ekonomi ­supply and demand). Tapi tidak ada yang melarang juga sih kalau mau berusaha keras. Tetapi sesempurna orang yang terlihat di instagram pastilah juga memiliki kelemahan yang tidak terlihat atau malah sengaja ditutupi (seperti teori Character Psychoanalytic  oleh Karen Horney yang mengatakan bahwa seseorang cenderung mengekspos kelebihan yang dia miliki untuk menutupi kekurangan yang besar ).

Hal paling tinggi kedua menurut jurnal University of Missouri tahun 2008 adalah prasangka buruk terhadap setiap orang yang terlihat ingin dekat dengan kita dan juga prasangka buruk terhadap sebuah hubungan di masa depan. Hal ini kadang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang buruk, baik itu dialami oleh diri sendiri maupun orang lain. Seperti Elizabeth Bennet yang pernah merasa takut dimanfaatkan oleh Mr. Darcy. Kadang kita terlalu memikirkan banyak resiko yang akan dihadapi jika menjalin sebuah hubungan, seperti ada sebuah perasaan insecure. Prejudice semacam ini semakin bertambah buruk jika kita memiliki teman dekat yang pernah mengalami perceraian atau patah hati yang dalam, yang bisa membuat kita berpikir ulang untuk memulai sebuah hubungan serius. Selain itu prejudice terhadap ikatan masa depan seperti takut tidak lagi bebas, takut memiliki banyak tanggung jawab, takut memenuhi kebutuhan yang pasti akan lebih banyak juga menghambat seseorang untuk berkomitmen terhadap sebuah hubungan. 

Seperti moral value Pride and Prejudice, maka kita perlu meruntuhkan segala keangkuhan/kegengsian yang kita miliki, kita manusia yang tidak sempurna, maka sudah sepantasnya kita juga menerima orang lain yang tidak sesempurna seperti yang kita inginkan. Berburuk sangka kepada orang lain hanya akan membuat kita kehilangan banyak teman dan kesempatan, dalam filosofi jawa dikatakan “janma tan kena kinira”  apa yang terlihat dari seseorang saat ini sesungguhnya tidak bisa mewakili kedalaman jiwa-nya, ketulusan hati-nya dan besarnya masa depannya. Mengkhawatirkan masa depan seperti halnya kita tidak percaya kepada Tuhan, apapun bisa terjadi di masa depan, bahkan hal-hal yang saat ini menurut kita mustahil sekalipun.

Saya ingin menceritakan kisah seorang teman dekat saya, semoga dia berkenan diceritakan kisahnya. Namanya Okta, sosok ini dipenuhi dengan pikiran-pikiran positif dan selalu optimis akan masa depan. Sebelum hijrah ke Jakarta, dia punya pengalaman buruk tentang sebuah hubungan, mulai dari patah hati, hubungan beda keyakinan sampai dengan hubungan yang digantung. Tapi sikap yang optimis dan sumarah membuat dia melewati semuanya dengan tanpa beban, toh hidup sudah ada yang mengatur. Okta ini juga bukan tipe orang yang punya banyak kriteria mengenai pasangan hidup. Dia tidak membebani hidupnya dengan kriteria calon pasangannya nanti harus begini, harus begitu, harus punya ini, harus punya itu, dia los-kan semuanya dengan penuh kesadaran. Alhasil, tidak lama setelah tinggal di Jakarta, dia menemukan seseorang yang betul-betul pas dengannya dan menikah beberapa saat kemudian. Happily ever after.

Pride & Prejudice seperti sebuah dinding antar perasaan. Selama pride kita masih tinggi dan prejudice kita masih penuh, maka semuanya nampak sangat kabur, tidak ada kejelasan. Bagai menatap air keruh, kita tidak pernah bisa melihat dasarnya. 

Selamat menyambut tahun baru wahai jiwa-jiwa yang baru!
Malang , 27 Desember 2016
R. Shantika Wijayaningrat