Selasa, 31 Januari 2017
Selasa, 27 Desember 2016
Pride and Prejudice
Playlist : Musik lembut
Pulang ke Malang membuat saya bisa sering bertemu dan berkumpul dengan
teman-teman lama, teman-teman masa remaja dan juga the old gank entah itu untuk business meeting atau sekedar ngobrol ngalor-ngidul. Ada 6
orang yang bisa dibilang teman-teman dekat saya di masa itu, tiga diantara
perempuan (one is little bit masculine woman lol), kami bertujuh dulu
hampir tiap hari nongkrong bareng, mulai dari nongkrong yang positif sampe yang
tidak terlalu positif (namanya juga remaja) tapi semuanya masih dalam
batas kewajaran (menurut ukuran remaja jaman itu). Walaupun jaman sudah berubah
dan keadaanpun juga sudah berubah, tapi kalau sudah berkumpul rasanya masih
sama seperti bertahun-tahun yang lalu, bebas mengobrol, bebas curhat, bebas
meledek dan saling mencela tanpa perasaan takut ada yang tersinggung, yah
you know lah sadisnya guyonan jawa timuran. … I feel like my east
Javanese spirit is coming back… lol.
Pada saat kumpul-kumpul, ada sebuah obrolan yang awalnya sekedar
bercandaan, tapi berubah menjadi agak lebih serius ketika membicarakannya,
yaitu tentang pasangan hidup…. exactly. Diantara enam teman saya,
baru ada satu orang yang sudah berkeluarga dan ada satu orang lagi yang tahun
depan akan berkeluarga, sisanya single as a pringle. Padahal kalau
dilihat, mereka nggak jelek-jelek amat, yang cewek-cewek faham cara
berpenampilan, sedangkan yang cowok-cowok juga nggak ada culun dan garing.
Apa ini kutukan karena dulu kita pernah ngasih wafer tango di mulut
patung Gajah Mada di Gunung Bromo?
Akhirnya terbukalah sebuah forum curhat mengenai ke-single-an masing-masing. Semuanya mendengarkan curhatan satu sama lain. Dari semua
curhatan, saya berkesimpulan ada dua hal yang menyebabkan teman-teman saya
kesulitan dalam mendapatkan tambatan hati. Yang pertama adalah karena terlalu
banyak memilih dan yang kedua adalah karena terlalu mengkhawatirkan
seperti apa masa depan nanti.
Saya teringat sebuah novel klasik yang pernah saya baca waktu kuliah
yang berjudul “Pride and Prejudice”, saya dipaksa dosen untuk membaca
novel ini selain novel The Great Gatsby demi lulus mata kuliah Book
Report, meskipun sebetulnya saya bukan tipe orang yang suka membaca cerita
melankolis. Novel klasik ini sangat bagus meskipun bahasanya agak njlimet
dan vocabulary yang archaic karena masih ada pengaruh tata bahasa
Inggris kuno, maklum novel ini ditulis tahun 1813 di London. Tokoh utama dalam
cerita Pride and Prejudice adalah Elizabeth Bennet dan Fitzwilliam Darcy. Elizabeth adalah seorang gadis yang sangat
cantik dan cerdas, dia juga sangat baik hati karena lebih memikirkan
kepentingan keluarganya di atas kebahagiaan dirinya sendiri, tapi Elizabeth
sangat mudah berprasangka buruk kepada orang lain, sangat skeptis dan selalu
menilai orang dari apa yang dia lihat saja. Sementara Mr. Darcy adalah pemuda
yang berasal dari keluarga terhormat, tampan dan kaya raya, tapi status
sosialnya yang begitu tinggi membuat dia menjadi sangat angkuh dan pilih-pilih.
Elizabeth dan Mr. Darcy pertama
kali bertemu dalam sebuah pesta dansa, dan keduanya langsung jatuh hati satu
sama lain. Meskipun Mr. Darcy sangat ingin mengenal lebih dekat Elizabeth,
namun dia merasa terlalu gengsi jika harus mendekati Elizabeth yang berasal
dari keluarga menengah. Pada dasarnya Mr. Darcy sudah menentukan
kriteria-kriteria gadis yang cocok untuk dirinya, dan Elizabeth sungguh sangat
jauh dari semua kriteria yang sudah dia buat. Sementara Elizabeth sendiri
begitu berkenalan dengan Mr. Darcy dan melihat dia sebagai seseorang yang
angkuh, langsung membuat berbagai prasangka buruk dan pikirannya dipenuhi
dengan pikiran skeptis, meskipun Elizabeth sendiri juga tidak bisa memungkiri
bahwa dia telah jatuh hati kepada Mr. Darcy.
Mr. Darcy sebetulnya tidak seburuk yang Elizabeth kira, karena Mr. Darcy
diam-diam juga memiliki perasaan yang lembut dan selalu memperhatikan Elizabeth.
Hubungan keduanya semakin lama semakin buruk karena berbagai kesalah pahaman
yang disebabkan oleh keangkuhan Mr. Darcy (Pride) dan sangkaan buruk
Elizabeth (Prejudice). Meskipun dalam hati keduanya memiliki perasaan
cinta yang semakin lama semakin kuat.
Akhir dari cerita ini adalah “nyambung-nya” hubungan
antara Elizabeth dengan Mr. Darcy, setelah Mr. Darcy mulai meruntuhkan semua kegengsiannya
dan Elizabeth mulai berpikiran positif terhadap Mr. Darcy dan masa depan
hubungan mereka. Concisely, it’s happy ending.
Berdasarkan penelitian University of Missouri tahun 2008, ada beberapa
kecenderungan yang menyebabkan seseorang dengan pendidikan tinggi (diploma ke
atas) mengalami kesulitan dalam menemukan pasangan, yang ditengarai menjadi
penyebab paling tinggi adalah high expectation standart. Yah semua orang
mungkin memang memiliki kriteria
tertentu seperti yang dibuat oleh Mr. Darcy. Setiap laki-laki mungkin
menginginkan pasangan yang cantik, seksi, pintar dandan, enak diajak ngobrol,
gaul, layak dipamerkan ke teman-temannya dan berbagai kriteria lain. Sementara
para wanita cenderung mengharapkan pasangan yang tampan, kaya, atletis, punya
pekerjaan keren, sanggup menghidupi dia dengan segala lifestyle
nya. (Mohon tidak digeneralisasi)
Ternyata high expectation standart yang diharapkan dari calon
pasangan merupakan barrier paling tinggi dalam memulai sebuah hubungan.
Kalau boleh saya sebut hal tersebut saya istilahkan sebagai “Pride” atau
gengsi. Karena pride inilah yang menghalangi kita untuk melihat ketulusan
orang-orang di luar standart untuk dekat dengan kita. Semua orang boleh saja
mengharapkan pasangan sempurna seperti orang-orang keren yang sering kita lihat
dan kita “love” di instagram. Tapi perlu diingat semakin tinggi standart
yang kita tentukan, maka semakin sulit juga hal tersebut terpenuhi (seperti
teori ekonomi supply and demand). Tapi tidak ada yang melarang juga sih
kalau mau berusaha keras. Tetapi sesempurna orang yang terlihat di instagram
pastilah juga memiliki kelemahan yang tidak terlihat atau malah sengaja
ditutupi (seperti teori Character Psychoanalytic oleh Karen Horney yang mengatakan bahwa seseorang
cenderung mengekspos kelebihan yang dia miliki untuk menutupi kekurangan yang
besar ).
Hal paling tinggi kedua menurut jurnal University of Missouri tahun 2008
adalah prasangka buruk terhadap setiap orang yang terlihat ingin dekat
dengan kita dan juga prasangka buruk terhadap sebuah hubungan di masa depan.
Hal ini kadang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang buruk, baik itu
dialami oleh diri sendiri maupun orang lain. Seperti Elizabeth Bennet yang
pernah merasa takut dimanfaatkan oleh Mr. Darcy. Kadang kita terlalu memikirkan
banyak resiko yang akan dihadapi jika menjalin sebuah hubungan, seperti ada
sebuah perasaan insecure. Prejudice semacam ini semakin
bertambah buruk jika kita memiliki teman dekat yang pernah mengalami perceraian
atau patah hati yang dalam, yang bisa membuat kita berpikir ulang untuk memulai
sebuah hubungan serius. Selain itu prejudice terhadap ikatan masa depan seperti
takut tidak lagi bebas, takut memiliki banyak tanggung jawab, takut memenuhi
kebutuhan yang pasti akan lebih banyak juga menghambat seseorang untuk berkomitmen
terhadap sebuah hubungan.
Seperti moral value Pride and Prejudice, maka kita perlu meruntuhkan
segala keangkuhan/kegengsian yang kita miliki, kita manusia yang tidak
sempurna, maka sudah sepantasnya kita juga menerima orang lain yang tidak
sesempurna seperti yang kita inginkan. Berburuk sangka kepada orang lain
hanya akan membuat kita kehilangan banyak teman dan kesempatan, dalam filosofi
jawa dikatakan “janma tan kena kinira”
apa yang terlihat dari seseorang saat ini sesungguhnya tidak bisa
mewakili kedalaman jiwa-nya, ketulusan hati-nya dan besarnya masa depannya.
Mengkhawatirkan masa depan seperti halnya kita tidak percaya kepada Tuhan,
apapun bisa terjadi di masa depan, bahkan hal-hal yang saat ini menurut kita mustahil
sekalipun.
Saya ingin menceritakan kisah seorang teman dekat saya, semoga dia
berkenan diceritakan kisahnya. Namanya Okta, sosok ini dipenuhi dengan pikiran-pikiran
positif dan selalu optimis akan masa depan. Sebelum hijrah ke Jakarta, dia
punya pengalaman buruk tentang sebuah hubungan, mulai dari patah hati, hubungan
beda keyakinan sampai dengan hubungan yang digantung. Tapi sikap yang optimis
dan sumarah membuat dia melewati semuanya dengan tanpa beban, toh hidup
sudah ada yang mengatur. Okta ini juga bukan tipe orang yang punya banyak kriteria
mengenai pasangan hidup. Dia tidak membebani hidupnya dengan kriteria calon pasangannya
nanti harus begini, harus begitu, harus punya ini, harus punya itu, dia los-kan
semuanya dengan penuh kesadaran. Alhasil, tidak lama setelah tinggal di
Jakarta, dia menemukan seseorang yang betul-betul pas dengannya dan menikah
beberapa saat kemudian. Happily ever after.
Pride & Prejudice seperti sebuah dinding antar perasaan. Selama
pride kita masih tinggi dan prejudice kita masih penuh, maka semuanya nampak sangat
kabur, tidak ada kejelasan. Bagai menatap air keruh, kita tidak pernah bisa
melihat dasarnya.
Selamat menyambut tahun baru wahai jiwa-jiwa yang baru!
Malang , 27 Desember 2016
R. Shantika Wijayaningrat
Selasa, 29 November 2016
Negativity Can Only Affect You If You Are On The Same Frequenci, So Vibrate Higher
Pernahkah
anda merasakan bahwa anda merasa tidak nyaman jika berada di dekat seseorang?
anda tidak tahu mengapa, tapi anda merasa bahwa seseorang di sebelah anda
memiliki aura yang tidak menyenangkan, walaupun mungkin anda tidak mengenalnya.
Atau
dalam kesempatan yang lain, anda merasa senang atau nyaman jika ada satu orang
tertentu berada dalam satu ruangan dengan anda? anda juga tidak tahu mengapa tapi anda
merasa orang tersebut memiliki kharisma yang membuat suasana menjadi lebih
nyaman, lebih tenang, lebih hangat atau lebih
hidup.
Kemajuan zaman saat ini, tidak hanya
bertatap muka dengan seseorang secara langsung dapat mengubah mood anda, hanya
melihat seseorang tersebut di dunia maya atau sosial media pun bisa membikin
mood anda berubah.
Akhir-akhir ini suasana medsos dunia
agak menghangat menyusul terpilihnya Donald Trump sebagai presiden terpilih
Amerika Serikat, yang menuai banyak pro dan kontra, semua saling adu
argumentasi dan melempar bukti-bukti, bahkan bagi mereka yang bukan warga
Negara Amerika Serikat sekalipun. Tapi bagi kita orang Indonesia, berbicara
mengenai Pilkada DKI Jakarta sudah menjadi pemicu perang di sosmed, tidak hanya
antar pendukung cagub, tapi sudah merambah hingga menebar kebencian melalui
isu-isu SARA. Yah tidak bisa dipungkiri Pilkada DKI kali ini panasnya
sudah menyamai Pilpres RI 2014 lalu. Tidak hanya orang Jakarta yang terpecah
belah, sampai orang-orang di provinsi lain sekalipun ikut-ikutan adu kepala,
padahal ada beberapa diantara mereka juga menyelenggarakan Pilkada di daerah
mereka sendiri di waktu yang bersamaan, tapi mereka malah ikut ngotot-ngototan
mengomentari Pilkada DKI dengan segala daya dan pikiran.
Saya mungkin bukan seorang sosmed
addict, tapi saya selalu menyempatkan diri melihat beberapa sosmed yang
saya miliki pada waktu luang, dan saya amati selama dua bulan ini, sosmed
seperti facebook, twitter dan instagram sudah seperti menjadi
medan perang argumentasi mengenai Pilkada DKI, mungkin cuma tinggal Path
yang tidak bisa dipakai untuk perang argumentasi umum. Beberapa orang mengaku
suka emosi dan badmood setelah melihat timeline sosmed mereka.
Dalam beberapa kasus bahkan ada yang sampai saling mem-blokir, meng-unfollow
dan meng-unfriend teman-teman sosmednya sendiri. I have to say…
WOW!!!
Ternyata dampak psikologis
Pilkada DKI cukup besar bagi masyarakat kita, bayangkan saja, seseorang yang
memulai harinya dengan “cerah ceria” langsung berubah 180 derajat begitu
membuka facebook dan twitter (ya walaupun nggak semuanya sih…) dan mood
yang buruk pasca melihat isi sosmed terus mempengaruhinya hingga menjelang
tidur di malam hari. Dan itu terulang lagi keesokan harinya, selama
berhari-hari. Atau sampai setelah Pilkada malahan….
Tidak berlebihan sekiranya kalau
saya mengatakan bahwa sosmed sedang dipenuhi energy negative saat
ini. Banyak postingan atau tautan yang diposting sebagai reaksi atas postingan
yang lain. Segala sesuatu terlihat seperti serba simpang siur.
Saya ingin sekali mengatakan kepada
mereka yang sering emosi atau badmood pasca melihat sosmed untuk segera me-log
out sosmed mereka dan tidak pernah lagi sign in hingga mereka merasa
siap untuk menerima situasi. Tapi tentu itu bukanlah hal yang bijaksana, karena
sejatinya banyak juga hal positif yang bisa di dapatkan dari sosmed, terutama
mereka yang berbisnis menggunakan sosmednya.
To Be Continued ............
To Be Continued ............
Senin, 31 Oktober 2016
Solo dan Jogja; The S̶i̶s̶t̶e̶r̶ Brother Cities
“Kayanya ntar gw mau nikah pake adat Jawa
aja deh”
“Adat Jawanya, mau gaya Solo apa Jogja?”
“Loh… emang beda ya?”
Bagi masyarakat umum, Solo dan Jogja hanyalah sebuah perbedaan
geografis, tak ada yang berbeda, sama-sama suku Jawa, bahasanya sama,
makanannya sama, batiknya sama, sama-sama ada keraton, sama-sama kota budaya,
tarian, gamelan, wayang, pakaian adat, keris, tata kota hampir tidak ada
perbedaan, setidaknya anggapannya seperti itu. Kota Kembar – That’s
the stereotype.
Tapi bagi orang Solo dan Jogja sendiri, meskipun sama-sama Jawa namun
perbedaan itu adalah sebuah kebanggaan yang mencirikan karakter masing-masing
kota beserta masyarakatnya. Dan bagi mereka yang concern dalam bidang
budaya, perbedaan Solo dan Jogja tidak terlepas dari sejarah yang begitu
panjang dan kompleks selama ratusan tahun.
Emang Solo sama Jogja lebih tua mana sih? Orang Solo akan mengatakan lebih tua Solo,
sedangkan orang Jogja mengatakan Keraton Solo asalnya dari Jogja. Nah loh…
bingung kan?.
Secara historis, Keraton Solo (Kasunanan) mulai dibangun tahun 1745 oleh
Paku Buwono II, sedangkan Keraton Jogja (Kasultanan) mulai dibangun tahun 1755
oleh Hamengku Buwono I yang tidak lain adalah adik dari Paku Buwono II.
Pendirian Keraton Kasultanan Yogyakarta sendiri merupakan hasil dari perjanjian
Giyanti yang memecah Kerajaan Mataram yang ber ibukota di Solo menjadi dua. Karena
itulah orang Solo mengatakan bahwa Solo lebih tua daripada Jogja. Eits…
tunggu dulu Kerajaan Mataram yang beribukota di Solo waktu itu merupakan
kelanjutan dari Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Panembahan Senopati di
Kota Gedhe – Jogja tahun 1587, itulah yang mendasari orang Jogja mengatakan
bahwa Keraton Solo asalnya dari Jogja. It will be an endless discussion right?or
civil war maybe… lol.
Berbicara perbandingan, maka harus berbicara sudut pandang, jika dari
sudut pandang orang Solo maka mereka akan menonjolkan kotanya sendiri beserta
adat budayanya, begitu juga orang Jogja. Maka kita akan berbicara dari sudut
pandang orang luar Solo dan Jogja, tapi bukan dari sudut pandang orang luar
Jawa, karena mereka memiliki sense yang berbeda mengenai adat budaya
Jawa.
Dimulai dari bahasa, hampir tidak ada yang bisa dibedakan dari bahasa Jawa
gaya Solo dan Jogja, kecuali beberapa terminologi seperti kata “Nuwun sewu”
untuk orang Solo yang numpang lewat dan “Nderek langkung” untuk orang
Jogja yang numpang lewat, maknanya kurang lebih sama, sama-sama mohon
diperkenankan untuk melakukan sesuatu.
Pakaian adat, ada banyak perbedaan dalam cara dan gaya berpakaian gaya
Solo dan Jogja. Secara historis, pakaian Jogja lebih tua daripada Solo karena
yang dipakai orang Jogja merupakan busana asli orang Kerajaan Mataram jaman
dahulu, sedangkan pakaian gaya Solo merupakan gubahan Paku Buwono III dan
disempurnakan oleh Paku Buwono X supaya tidak terlihat sama dengan orang-orang
Jogja.
| Keluarga Keraton Kasunanan Surakarta |
Batik Solo didominasi oleh warna-warna soga atau coklat muda dan
krem, sedangkan batik Jogja didominasi warna putih yang benar-benar putih. Untuk
motif batik Solo terkesan lebih halus dan rumit, sedangkan batik Jogja terkesan
lebih tegas dan gagah.
![]() |
| Batik Parang Jogja |
![]() |
| Batik Parang Solo |
Ketika mengenakan nyamping atau kain jarik, orang Solo menyembunyikan
bagian sered atau garis kain terluar ke dalam wiru (lipatan),
sedangkan orang Jogja malah sengaja menampakannya. Konon penggunaan wiru
sendiri dimulai oleh orang Solo dan orang Jogja baru mengikuti kemudian. Khusus
perempuan yang memakai jarik motif parang, perempuan Solo memakai motifnya menyerong
dari kanan atas – kiri bawah, sedangkan perempuan Jogja dari kiri atas kanan
bawah.
| Pakaian Jawi Jangkep Solo |
![]() |
| Pakaian Jawi Jangkep Jogja |
![]() |
| Pemakaian Kain Parang Solo |
![]() |
| Pemakaian Kain Parang Jogja |
Pakaian pengantin sangat menyolok perbedaannya, mulai dari motif kain
yang dikenakan hingga perhiasan dan tata rias yang dipakai. Gaya Solo terlihat
lebih simple namun elegan sedangkan gaya Jogja terlihat lebih glamor dan semarak.
![]() |
| Pengantin Solo (Basahan) |
![]() |
| Pengantin Jogja (Paes Ageng) |
Keris (warangka/sarung keris) gaya Solo terlihat lebih mewah dan
anggun, sedangkan gaya Jogja lebih simple dan maskulin.
![]() |
| Warangka Keris Gayaman Solo (Kiri) & Jogja (Kanan) |
![]() |
| Warangka Keris Ladrang Solo (Kiri) & Jogja (Kanan) |
Wayang kulit gaya Solo selama ratusan tahun telah berevolusi dan terus
dimodifikasi hingga tercipta wayang kulit yang begitu mewah dan anggun.
Sedangkan wayang gaya Jogja masih tetap asli seperti wayang kulit zaman
Kerajaan Mataram yang terkesan sederhana dan sakral.
Jika kita melihat tarian gaya Solo dan Jogja maka kita akan merasakan
sebuah ekspresi yang berbeda walaupun jenis tarian dan gerakan yang ditarikan
adalah sama. Tema-tema tarian klasik Solo kebanyakan bertema romantik dan
ditarikan dengan sedikit cita rasa sensual yang elegan. Sedangkan tarian klasik
gaya Jogja kebanyakan bertema heroik dan memiliki sebuah alur cerita dimana
terdapat sebuah ekspresi konflik sebagai klimaksnya. Sama-sama menari srimpi,
namun ekspresi yang hasilkan akan berbeda. Untuk kostum jelas beda.
Srimpi Pandelori Keraton Yogyakarta (atas)
Srimpi Sangupati Keraton Surakarta (bawah)
Srimpi Pandelori Keraton Yogyakarta (atas)
Srimpi Sangupati Keraton Surakarta (bawah)
Pada dasarnya sangat sedikit sekali perbedaan dalam teknik memainkan
gamelan, namun perbedaan yang menonjol adalah sense atau ekpresi yang
dibangun oleh repertoar gending-gendingnya. Musik gamelan Solo lebih banyak
bersifat meditatif dan romantis terutama komposisi ladrang dan ketawang,
peran instrument bonang barung sangat menonjol sehingga kesan yang
ditimbulkan begitu halus dan kalem, irama seseg (tempo cepat) hanya
berfungsi sebagai klimaks. Sedangkan musik gamelan gaya Jogja lebih banyak
bersifat heroik, entertain dan menggugah semangat terutama komposisi lancaran
dan soran, peran instrument wilahan sangat menonjol untuk
menghasilkan kesan bersemangat dan heroik. Gending biasa dibuka dengan irama
seseg (tempo cepat) dan diakhiri dengan irama seseg juga, sedangkan irama
tamban (tempo lambat) hanya ada di tengah-tengah saja. Silahkan simak :
Ladrang Prabu Mataram dari Keraton Yogyakarta (atas)
Ladrang Bremara dari Keraton Surakarta (bawah
Ladrang Prabu Mataram dari Keraton Yogyakarta (atas)
Ladrang Bremara dari Keraton Surakarta (bawah
Untuk tampilan luar gamelannya juga cukup mencolok perbedaannya,
tampilan gamelan gaya Solo biasanya diberi ukiran tembus dua sisi (krawangan)
dengan ukiran naga di beberapa instrument. Sedangkan tampilan gamelan gaya
Jogja biasanya lebih sederhana dan ukiran hanya satu sisi, dengan ukiran manuk
beri (sejenis garuda) di beberapa instrument. Di luar itu, jenis –jenis instrument
yang dimainkan adalah sama kecuali penggunaan bedhug untuk gamelan-gamelan
yang berasal dari Keraton Jogja yang jarang ada di gamelan dari Keraton Solo.
| Gamelan Jogja |
![]() |
| Gamelan Solo |
Sebetulnya masih banyak lagi hal-hal yang cukup menarik untuk
dibandingkan antara Solo dengan Jogja, termasuk bagian-bagian rumah, peletakan
kamar mandi dan sumur, tatacara upacara adat, sesajen, penggunaan payung, penggunaan
gelar keraton, bahkan sampai bentuk kijing (batu nisan) di makam
raja-raja Imogiri pun juga berbeda. (Sampai segitunya ya…?) Mungkin bisa kita
bahas di next article. Mungkin juga termasuk Mangkunegaran dengan
Paku Alaman.
Yang pasti perbedaan antara Solo dan
Jogja yang kita lihat saat ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah persaingan antar
keraton selama berabad-abad. Jika kita membaca Babad Giyanti, Babad Prayut dan
Babad Mangkubumi maka nampak sekali selama berabad-abad rivalry
antar keraton dan antar raja sudah seperti perang dingin antara Amerika Serikat
dengan Uni Soviet. Namun demikian di setiap akhir perjalanan hidup para raja di
Solo maupun Jogja, pada akhirnya akan dikumpulkan di tempat peristirahatan yang
sama, di puncak bukit Imogiri.
Malang, 31 Oktober 2016
R. Shantika Wijayaningrat
Sumber Acuan:
Babad Tanah Jawi
Babad Giyanti
Babad Prayut
Babad Mangkubumi
Pictures by Google
Langganan:
Postingan (Atom)













