Sabtu, 29 Februari 2020

Hidupmu dan Pikiranmu


Kepercayaan menentukan hal yang kamu capai dalam hidup. Orang yang percaya bahwa dirinya tak bisa melakukan hal- hal yang besar, tidak akan pernah melakukan hal-hal yang besar. So, saat ini apa yang kamu percayai tentang diri kamu sendiri? Apakah kamu memandang keadaan kamu saat ini adalah sesuatu yang permanen dan tak bisa diubah? Atau berpikiran “Hidupku ya gini-gini aja, biasa-biasa aja.”?

Memang ada beberapa hal yang tak bisa kita ubah dalam hidup ini, tapi itu bukan berarti kita pasrah dengan keadaan hidup yang tidak menyenangkan. Kita dibekali kemampuan untuk mengubah keadaan hidup itu dengan alat yang dinamakan Pikiran”. Pïkiran inilah yang menentukan seberapa baik perjalanan hidup kita.

Setiap orang adalah produk dari pikirannya, dengan percaya hal-hal baik kepada diri sendiri, maka segala sesuatu yang baik pasti akan terjadi .

Setiap orang pasti menginginkan hidupnya baik. Namun, banyak yang tak tahu cara meraihnya. David Schwartz, penulis buku The Magic of Thinking Big mengatakan bahwa keadaan yang baik itu diawali dari pikiranmu yang baik. Senada, Rhonda Byrne dalam The Secret yang fenomenal itu mengatakan  bahwa apa yang paling kamu pikirkan atau fokuskan akan muncul dalam hidupmu. So, pikirkanlah hal-hal yang baik agar hidup yang kamu jalani ini baik dan dipenuhi dengan kejutan kejutan yang baik.

Surabaya, 29 Februari 2020
R. Shantika Wijayaningrat



Sumber Referensi
Byrne, Rhonda. 2006. The Secret. USA: Atria Book
Koch, Richard. (2019). The 80 / 20 Principle. London: MIC 
Paksi, Yopi Jalu. 2010. 101 Tips Kilat Barpikir Positif dan Berjiwa Besar. Yogyakarta: Media Pressindo
Ranggawarsita, R.Ng. (1873) Serat Sabdajati. Karaton Surakarta Hadiningrat: Sasana Pustaka
Schwartz, David J. 1959. The Magic of Thinking Big. USA: Wilshire Book Co
Suseno, Franz Magnis. (1984Etika Jawa: Sebuah analisis falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa, Jakarta: PT Gramedia


Kamis, 30 Januari 2020

Pindah Ibukota? Not The First Time

From : Historia
Wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta kembali ramai dibicarakan usai Presiden Joko Widodo menggelar rapat tertutup di Kantor Presiden, Jakarta, akhir bulan lalu. Salah satu alasannya, wilayah Jakarta sudah penuh disesaki 30 juta penduduk atau lebih dari 10 persen populasi Indonesia.

“DKI Jakarta kini memikul dua beban sekaligus: sebagai pusat pemerintahan dan layanan publik, juga pusat bisnis. Banyak negara memindahkan ibu kotanya, sementara kita hanya menjadikannya gagasan di setiap era Presiden. Menurut Anda, di mana sebaiknya ibu kota negara Indonesia?” tulis Jokowi di akun Twitter-nya

Ini bukan pertama kalinya presiden Indonesia mempertimbangkan untuk memindahkan ibu kota. Proposal untuk pemindahan ibu kota ke Palangkaraya muncul awal 1950-an, di era Soekarno. Pun pemerintahan Jokowi sudah mempelajari kelayakan pemindahan ibu kota ke Palangkaraya sejak 2017.

Jauh sebelum masa itu, memindahkan ibu kota negara sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi, khususnya dalam sejarah Jawa. Namun pada masa lalu, keputusan itu sering kali disebabkan karena adanya invasi musuh.

Epigraf Boechari dalam tulisannya, “Shift of Mataram’s Centre of Government”, menyebut hal itu masuk akal. Sebab, orang Jawa mempercayai keraton yang telah diserang musuh sudah tak suci lagi dan harus dipindah.

Ada pula kepercayaan terhadap siklus yuga. Dalam ajaran Hindu ada empat jenjang masa dalam siklus yuga, yaitu Dwaparayuga, Tretayuga, Satyayuga, dan Kaliyuga. Zaman Kaliyuga disebut pula zaman kegelapan. Berdasarkan itu, penguasa yang berada di generasi keempat diharuskan untuk memindahkan kerajaannya ke tempat lain agar terhindar dari kekacauan.

Hal itu terlihat ketika Sultan Agung memindahkan ibu kota ke Karta. Dia mewakili penguasa ke-4 dari Ki Ageng Pamanahan, sang pendiri dinasti. Amangkurat I juga memindahkan ibu kota dari Karta ke Plered. Dia merepresentasikan generasi ke-4 dari Panembahan Senopati, penguasa pertama Mataram Islam.

Sebelum Mataram Islam, beberapa kerajaan kuno pernah memindahkan ibu kota kerajaannya, di antaranya sebagai berikut:

Mataram Kuno
Ibu kota Mataram Kuno atau Medang misalnya, paling tidak pernah pindah dua kali pada periode Jawa Tengah. Buktinya dalam Prasasti Siwagraha (778 Saka/856 M) dan Prasasti Mantyasih I (829 Saka/907 M) disebutkan Mamratipura dan Poh Pitu sebagai ibu kota.
Dalam Prasasti Siwagraha disebutkan Dyah Lokapala ditahbiskan pada 778 Saka di Keraton Medang di Mamaratipura. Sementara Prasasti Mantyasih I mengisahkan seorang raja pada masa lalu yang tinggal di Keraton Medang di Poh Pitu.
Boechari menjelaskan ada beberapa desa bernama Medang tersebar antara Purwodadi-Grobogan dan Blora di bagian utara Jawa Tengah sekarang. Namun apakah dulunya desa-desa itu bagian dari pusat Kerajaan Mataram Kuno pada masa lalu, itu belum bisa dibuktikan.
Pada era Mpu Sindok atau Sri Isyana Vikramadhammatunggadeva sekira 929 M, kerajaan ini dipindahkan ke Jawa bagian timur. Banyak pendapat soal alasan kepindahannya.

Kahuripan
Airlangga pendiri Kerajaan Kahuripan, pernah memindahkan kerajaannya dua kali. Ibu kota pertama dibangun ketika dia ditahbiskan menjadi raja setelah hancurnya pemerintahan Dharmawangsa Tguh. Lokasinya di Wwatan Mas, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Cane (943 Saka/1021 M). Dalam Prasasti Kamalagyan (959 Saka/1037 M), Kahuripan disebutkan sebagai lokasi keraton Airlangga.
Boechari berpendapat, perpindahan ini disebabkan adanya invasi musuh. Pendapatnya didasarkan pada Prasasti Terep dari 954 Saka (1032 M).
Ada kemungkinan juga kerajaan ini kembali dipindahkan ke Dahana(pura). Itu ditunjukkan dengan kemunculan kata “dahana” yang diukir dalam aksara kuadrat besar pada Prasasti Pamwatan (964 Saka/1042 M). Namun tak ada bukti soal alasan kepindahan ibu kota yang kedua ini.

Majapahit
Kerajaan Majapahit kemungkinan juga telah berpindah-pindah ibu kota beberapa kali. Penguasa pertamanya, Wijaya, membangun kerajaan di Tarik atau Trik yang ada di delta Sungai Brantas, sebelah timur Kota Mojokerto saat ini. Pendirian itu dikisahkan dalam naskah Pararaton, Nagakartagama, Kidung Ranggalawe, Kidung Harsawijaya, serta diabadikan dalam Prasasti Kudadu (1294 M) dan Prasasti Sukamrta (1296 M).
Sedikit sekali dari ibu kota pertama Majapahit ini yang tersisa sampai sekarang. Namun, belum lama ini, warga mendapati bekas bangunan bata, fosil kayu, dan hewan di areal persawahan dan makam di Dusun Kedungklinter, Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Sidoarjo. Diduga situs ini merupakan cikal-bakal Kerajaan Majapahit.
Berbeda dengan ibu kota pertamanya itu, lebih banyak bukti arkeologis ditemukan di Trowulan, Mojokerto. Hal ini yang menambah kemungkinan untuk menunjuk wilayah itu sebagai ibu kota Majapahit berikutnya.

Mataram Islam
Babad Tanah Jawi memberi bukti adanya perpindahan ibu kota pada masa Kerajaan Mataram Islam. Ki Ageng Pamanahan membangun sebuah permukiman di Kuta Gede, di mana Kota Gede, Yogyakarta kini berada. Kemudian anaknya, Panembahan Senapati, penguasa pertama Mataram, membangun tembok di sekelilingnya.
Cucu Panembahan Senapati, Sultan Agung, membangun keraton baru di Karta. Sementara anak dan pewaris takhta berikutnya memindahkan lokasi keraton ke Plered.
Pada 1677, ibu kota baru itu diserang pasukan Trunajaya yang memaksa Amangkurat melarikan diri ke barat dan tewas di Tegalarum. Setelah serangan itu, ibu kota baru dibangun di Wanakarta yang kemudian diberi nama baru Kartasura.
Pada 1724, Kartasura digempur oleh Cakraningrat IV dari Madura. Kemudian setelah takhta dikuasai Susuhunan Pakubuwono II, sebuah tempat baru dibangun di Surakarta pada 1744.


Minggu, 29 September 2019

Kamu Tidak Harus Memuaskan Semua Orang

Tepat satu tahun yang lalu saya menulis mengenai mengapa tidak harus menjadi "Be Yourself" melainkan "Be the Best Version of You", menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri. link di sini Be Yourself ! (Be Careful). Entah kenapa satu tahun kemudian saya mendapatkan "sasmito" untuk menulis kembali kelanjutan dari link tersebut, tapi dari sebuah sudut pandang yang berbeda.

Dalam perjalanan menjadi manusia yang lebih baik, kita tidaklah boleh berhenti belajar dan menerima masukan dari siapapun. Bagi seorang spiritualis, hal-hal kecil yang terlihat di jalanan saja bisa disadari sebagai sebuah "petunjuk" tergantung seberapa peka kita bisa menerima itu sebagai sebuah hikmah/petunjuk/lessons/sasmito dari semesta kepada kita. Bahkan apa yang dikatakan seseorang tak dikenal di depan kantor sekalipun bisa menjadi sebuah masukan untuk kita menjadi lebih baik.

Namun demikian, dalam perjalanan menjadi manusia yang baik itu tadi seringkali kita tersesat dalam sebuah pemikiran bahwa manusia yang baik adalah manusia yang disenangi oleh semua orang. Sehingga dalam melakukan tindakan kita menjadi sangat hati-hati dan berusaha untuk menyenangkan semua orang. Kita berusaha membuat orang tua kita senang, kakak kita senang, adik kita senang, paman kita senang, bibi kita senang, pacar kita senang (kalau punya), teman kantor senang, atasan kita senang, atasan kita di atasnya atasan kita senang, tetangga sebelah kanan senang, tetangga sebelah kiri senang, pak RT senang, satpam kompleks senang. Pokoknya semua orang yang kenal dengan kita harus senang kepada kita.

Disinilah arah orientasi menjadi manusia yang lebih baik menjadi berubah, kita move on tidak berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik, melainkan kita move on untuk berusaha menyenangkan orang lain (semua orang). Tapi memang sah-sah saja jika itu pilihan hidup yang kamu ambil, tapi ada alasan bahwa apa yang kamu kerjakan untuk bisa menyenangkan semua orang mungkin akan sia-sia.

Tidak semua orang punya pikiran yang sama
Kamu harus ingat bahwa setiap orang punya pikiran dan pandangan yang berbeda dalam menyikapi hidup, tergantung dari seberapa luas wawasan dan seberapa banyak pengalaman hidup. Ayahmu menginginkanmu menjadi tentara, ibumu menginginkanmu menjadi dokter, kakakmu menginginkanmu menjadi atlet, pamanmu menginginkanmu menjadi pengusaha dan lain lain. Jika kamu ingin menyenangkan hati semua orang, kamu akan menjadi dokter tentara yang berprestasi dalam bidang olahraga yang juga sukses sebagai pengusaha. Tapi tentu saja itu butuh perjuangan, dan itu baru hati 4 orang yang kamu senangkan, belum yang lain.

2.     Standart kepuasan hidup setiap orang berbeda
Mungkin kamu sudah merasa cukup dengan memiliki rumah sederhana tanpa harus kontrak rumah atau kos, tapi ada juga orang yang baru merasa cukup jika memiliki rumah yang luas, berlantai 3, dan ada juga yang baru merasa cukup jika tinggal di kastil dan bernyanyi dari balkon kastilnya setiap pagi. Begitu juga jika kamu mau menuruti kepuasan mereka semua, maka perjuanganmu tidak akan ada habisnya.

3.      Semua orang bertanggung jawab atas hidupnya masing-masing
Tetanggamu sebelah kanan listriknya diputus karena tidak mampu bayar listrik, semenjak dia di-PHK. Tetangga sebelah kirimu terancam bercerai karena sering bertengkar mengenai orang ketiga. Teman kantormu harus naik angkot setiap hari karena kendaraannya dicuri orang. Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, dan setiap orang juga bertanggungjawab atas hidupnya masing-masing. Jika kamu ingin menyenangkan semua orang, tentunya kamu tidak akan membiarkan mereka semua dalam masalah. Tapi ingat, kamu bukan Superman, atau juga bukan Al Masih yang menjadi juru selamat atas penderitaan semua orang. Tuhan memberikan ujian kepada setiap individu yang tentu saja sudah diukur sesuai kemampuan masing-masing. So, jangan bebani hidupmu dengan permasalahan orang lain, jika kamu ingin membantu orang lain maka bantulah sesuai kemampuanmu.

4.     
Banyak orang yang senang melihat kamu jatuh
“Banyak” disini bersifat subjective, tergantung seberapa baik lingkunganmu berada. Jika kamu berada dilingkungan kompetitif, maka hukum rimba seolah berlaku disini, siapa yang kuat maka dia-lah yang akan bertahan hidup, maka jangan heran jika ada saja orang yang menginginkan kamu lemah dan jatuh. Kelemahanmu akan mereka jadikan pijakan untuk melebihimu.

5.      Banyak pendapat yang hanya sekedar pendapat
Mungkin tidak semua, tetapi banyak sekali di dunia ini orang yang memberi nasehat tapi tidak mengaplikasikan apa yang katakan untuk dirinya sendiri. Seseorang mengatakan “Kamu itu jangan moody, ada orang kok gampang emosi” tapi dia sendiri mengatakan itu dengan emosi dan nada tinggi. Banyak juga yang memberi masukan kepadamu tapi juga sekedar masukan saja, dia tidak terlalu peduli apakah kamu akan benar-benar mengerjakan masukan darinya atau tidak.

6.      Orang bisa membenci tanpa alasan
Aku nggak suka kamu karena kamu sok ‘yes’ !” atau bisa juga “aku nggak suka sama dia karena nggak suka aja” , “nggak sukanya kenapa?”, “ya pokoknya nggak suka aja
Well, jangan dikira orang seperti itu tidak ada, setidaknya ada satu diantara 10. Sekeras apapun kamu mencari simpati orang seperti ini, tetap saja akan ada yang kurang dari mu di mata-nya. Lain lagi ceritanya kalau ada orang bilang “aku nggak suka sama kamu karena mukamu ngeselin” So, there’s nothing you can do?

7.      Nabi saja punya musuh
Sedih mah kalo inget banyak nabi-nabi terdahulu yang baik-baik dan pasti masuk surga tapi dimusuhi oleh kaumnya sendiri. Nabi Muhammad SAW saja sampai berpindah ke Madinah karena terus akan dibunuh oleh penduduk kampung beliau sendiri di Mekkah. Bahkan Nabi Isa AS yang menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati saja diperbolehkan untuk dibunuh oleh para alim ulama jaman itu (Yahudi). Apalagi kamu yang punya banyak keterbatasan, lupa nyuci gelasmu sendiri saja, sudah bisa bikin OB (office boy) kantor cemberut sama kamu.

Jika mau disebutkan lebih banyak, maka akan menjadi sebuah disertasi, tapi 7 alasan di atas sudah cukup untuk mewakili yang lain.

Ada banyak alasan mengapa kamu harus tetap focus memperbaiki diri, tapi tentu saja tidak termasuk supaya kamu disenangi semua orang. Semakin kamu berubah menjadi lebih baik, semakin mudah impian hidup kamu capai, dan semakin cepat kesialan hidup menghindarimu. Dan kabar baiknya efek dari perubahan hidupmu yang lebih baik, akan mendatangkan simpati orang di sekitar kepadamu. Setidaknya kamu tidak perlu memperhatikan satu orang yang membencimu jika kamu punya sembilan orang yang mencintaimu. Life is not that hard, isn’t it?

Surabaya, 30 September 2019
R. Shantika Wijayaningrat




Sumber Referensi

Amalia, Farizza Nour  (2018) Cara Mengubah Kebiasaan Buruk. Jakarta: Anak Hebat Indonesia
Edgerton, Franklin (1965The Panchatantra. Translated from the Sanskrit. London: George Allen and Unwin Ltd.
Koch, Richard. (2019). The 80 / 20 Principle. London: MIC 
Ranggawarsita, R.Ng. (1873) Serat Sabdajati. Karaton Surakarta Hadiningrat: Sasana Pustaka
Suseno, Franz Magnis. (1984) Etika Jawa: Sebuah analisis falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa, Jakarta: PT Gramedia

Sabtu, 31 Agustus 2019

Kenapa Kamu Sering Sial?


Beberapa waktu yang lalu saya menerima kunjungan teman lama, rasanya sudah lama sekali saya tidak bertemu dengannya, mungkin tiga tahunan. Kami mengobrol banyak sekali, hingga saya menanyakan bagaimana pekerjaannya, ekspresinya agak berubah seolah tidak ingin mendengar pertanyaan itu dari saya. Sayapun sebetulnya juga tidak keberatan jika pertanyaan saya tidak dijawab, tapi kemudian teman saya ini mulai menceritakan usahanya yang diambang pailit, hutang membengkak, dan keluarganya pun mulai renggang akibat tidak kuat dengan keadaan. Cerita semakin sedih ketika dia mengingat masa lalunya yang juga penuh ujian. Di akhir cerita dia mengatakan bahwa mungkin nasibnya ditakdirkan buruk, dipenuhi dengan ujian. Dia mengatakan sering dapat musibah, dijatuhkan oleh saingan dan berbagai cerita kesialan nasibnya. Bahkan dia menanyakan kepada saya apakah ada cara untuk mengusir nasib buruk yang selalu menimpanya.

Meskipun saya orang Jawa, tapi saya tidak mungkin langsung mengatakan bahwa mungkin dia orang yang sukerta atau orang kotor yang hidupnya ditakdirkan penuh ujian. Dan cara mengatasi nasib sial yang tiada henti adalah dengan cara di-ruwat yaitu serangkaian upacara untuk melepaskan diri dari cengkeraman Bathara Kala  atau kesialan.

Pada dasarnya kesialan dan keberuntungan adalah sesuatu yang subjective menurut sudut pandang. Ketika adik saya mengalami kecelakaan parah hingga koma dan operasi tempurung kepala yang menghabiskan biaya bukan main-main, nenek saya mengatakan "alhamdulilah isih diwenehi selamet, duwit iso digoleki, nyawa ora ono sing dodol" yang artinya "alhamdulillah masih diberi keselamatan, uang bisa dicari, tapi nyawa tidak ada yang jual". Sebuah pemikiran orang jawa ketika musibah terjadi, maka yang dilihat adalah sisi terbaik dari musibah itu. Maka tidak asing bagi orang jawa ketika diberi kesialan maka responnya mungkin "untung ora...." atau "slamete isih.... "

Kembali lagi mengenai bad luck, seringkali kita melihat itu semua sebagai ujian tanpa alasan dari Tuhan, ya mungkin juga bisa jadi tanpa alas an, kan suka-suka Tuhan, Dia Yang Maha Kuasa – kamu hanya sekedar makhluk yang menjalankan. Tapi saya meyakini bahwa Tuhan tidak bermain dadu, tidak menciptakan segala sesuatu secara acak. Selalu ada maksud dari segala sesuatu yang terjadi yang kadang baru kita sadari setelah hal tersebut terjadi, mungkin baru disadari besoknya, atau bulan depan, atau tahun depan, atau bertahun-tahun kemudian, atau bahkan tidak pernah kita sadari karena kita tidak mampu membaca hikmah dibalik semua kejadian.

Selasa, 30 Juli 2019

Hidup Ini Ternyata Tidak Adil

"Dia mah dari lahir udah kaya, mau bikin usaha apa aja ada modalnya. Makin lama makin kaya. Kalo kita cuma punya ide, mau dijalanin gak ada modalnya. Ya gini hidup, harus banting tulang"

"Dia kan anak orang kaya, bisa kuliah, lulus gampang cari kerja yang gajinya gede. Kita boro2 kuliah, bisa SMA aja udah untung, gaji pas-pasan udah alhamdulillah"

"Dia kan cantik dari lahir mbak, mana anak orang kaya lagi, bisa perawatan mahal. Jelas kinclong lah, jodohnya merapat dari segala penjuru"

Rasanya keluh kesah semacam di atas bukan hal asing bagi kita. Ada saja di sekitar kita yang mengeluhkan sesuatu yang tidak bisa diubah. Jika memang kita lahir dari keluarga tidak mampu, apakah masih mungkin kita minta Tuhan me-reset ulang kita lahir dari keluarga kaya. Atau jika kita lahir dengan wajah atau penampilan yang tidak terlalu good looking, apakah kita bisa minta Tuhan melahirkan kita dengan wajah bule Perancis, sementara kedua orang tua kita berwajah njawani, yang ada malah kamu dikira anak hasil selingkuhan.

Saya memiliki seorang teman yang sering sekali mengeluh bahwa hidup ini tidak adil. Dia mengeluhkan orang tuanya yang miskin dan bercerai, sehingga kini hidupnya juga ikut miskin. Sementara bosnya yang lahir dari keluarga kaya, semakin kaya karena usahanya pesat dengan modal yang besar. Berkali-kali dia mengatakan bahwa dunia ini benar-benar tidak adil, tapi ketika saya tanyakan "terus yang adil bagaimana?" dia juga bingung harus menjawab.