Minggu, 24 Juni 2018

FILOSOFI PATAH HATI


             Walaupun saya tidak sedang patah hati tapi artikel ini saya dedikasikan untuk teman-teman yang sedang patah hati atau bahkan yang sering patah hati.


Saya ingat ketika dulu SMP, saya sering dicari teman-teman yang baru saja ‘putus’ atau ‘nembak terus ditolak’ untuk sekedar curhat atau meminta masukan. Ada yang curhatnya santai sambil minum fanta di kantin, ada juga yang curhatnya sambil berurai air mata di ruang UKS. Pada waktu itu kami masih sama-sama remaja, tapi entah mengapa teman-teman begitu percaya kepada saya, untuk menjaga rahasia, untuk memberi masukan, bahkan untuk memotivasi mereka untuk bangkit lagi. Dan itu terus berlanjut sampai SMA, kuliah bahkan sampai sekarang dengan berbagai permasalahan mulai yang ringan sampai yang super complicated. Mungkin benar kata Bunda Febri (salah satu motivator terkenal dari Solo) bahwa saya memiliki aura yang ‘mengundang’. A healing aura that attract damaged people. #lol


Kata orang, pengalaman adalah guru yang paling baik (walaupun juga guru yang paling tanpa ampun). Bagi orang yang baru pertama mengalami patah hati, mungkin sakitnya indescribable. Akan sulit untuk memulai sebuah hubungan baru lagi, karena takut patah hati lagi. Tapi seiring berjalannya waktu, luka yang lama perlahan sembuh dan muncul gairah untuk memulai sebuah hubungan lagi. Meskipun kata orang yang melihat dari sudut pandang biologis, cinta dan ketertarikan terhadap lawan jenis adalah dipengaruhi oleh hormon. Namun tetap saja itu adalah sebuah kebutuhan yang dirasakan oleh setiap individu.

Kembali ke pengalaman, ketika kita belajar memasak pertama kali, awalnya mungkin kurang asin, ditambah garam, ternyata jadi terlalu asin, ditambah air, rasanya jadi agak hambar, tambah bumbu lagi, tambah ini-itu dan diperbaiki lagi sampai semuanya terasa pas di lidah.

Cinta juga seperti itu, ada yang langsung berjodoh (tapi jarang), ada juga yang harus mengalami patah hati berkali-kali baru ketemu jodoh yang pas. Even though ada juga yang putus-nyambung putus-nyambung baru terasa pas.

Patah hati akan membuat kamu belajar banyak hal. Pertama, membuat kamu belajar bahwa tidak semua hal di dunia sesuai dengan keinginanmu. Kedua, membuat kamu belajar bahwa karakter manusia itu bermacam-macam. Semakin sering patah hati, kamu semakin menyadari bahwa setiap orang itu memiliki keunikan yang ada pada diri mereka. Kamu jadi tahu bagaimana menghadapi orang dengan berbagai karakter.

Mungkin mantan pertama kamu adalah orang yang super posesif, harus ngasih kabar sepanjang waktu, dia harus tahu agenda kamu dan dengan siapa saja. Mantan selanjutnya super manja, kalau nggak diingetin makan, dia nggak makan, kalau nggak dijemput dia nggak berangkat. Berikutnya mantan super sensitive, sedikit-sedikit ngambek, sedikit-sedikit marah, masalah sepele bisa jadi perang. Lalu mantan super cuek, punya pacar serasa jomblo, kalau nggak ditanya duluan dia nggak ada kabar.

Jika ternyata kamu pernah menghadapi mantan-mantan semacam itu, maka kamu layak mendapat gelar Master. Kamu sudah cukup matang untuk memulai sebuah hubungan yang lebih dewasa, karena kamu sudah berpengalaman menghadapi banyak masalah dan tahu cara mengatasinya. Dan tidak perlu ragu untuk melangkah ke jenjang berikutnya.

Perkara kamu dicap orang rapuh karena sering patah hati, tidak masalah. Daripada kamu telanjur berkomitment dan kemudian menyesal di belakang. Toh orang hanya penonton, tidak merasakan apa yang kamu rasakan.

Lalu bagaimana dengan yang patah hati berkali-kali dengan orang yang sama? I have to say, it’s wasting time. Berarti keduanya tidak belajar dari kesalahan yang sama. Lalu bagaimana dengan yang takut memulai hubungan karena takut patah hati? Artinya dia tidak percaya Tuhan, seolah-olah Tuhan akan meninggalkan dia begitu saja di tengah jalan. Bagaimana mau belajar nyetir kalau dari awal pikirannya sudah masuk jurang, nabrak tebing, mobil mogok, tertimpa pohon tumbang, terseret lahar dingin tanpa membayangkan tujuan yang dicapai dalam perjalanan.

Pada akhirnya, generasi patah hati adalah generasi yang sedang dididik oleh semesta, bahwa tidak semua jalan yang kita lalui selalu mulus dan lancar, mungkin kita akan melewati tanjakan, turunan dan tikungan tajam. Entah itu berulang-ulang atau tidak, tergantung seberapa cepat kita belajar. Tapi setidaknya mereka yang mengambil langkah, jauh lebih baik daripada mereka yang takut untuk mencoba.



Surabaya, 24 Juni 2018
R. Shantika Wijayaningrat
                                           
Klik juga Life is Sawang Sinawang agar kamu lebih bersyukur akan hidupmu


Sumber Referensi
http://shantikawijaya.blogspot.com/2016/05/life-is-sawang-sinawang.html
Mangkunegara IV. Serat Wedhatama. Reksa Pustaka Mangkunegaran
Pradiansyah, Arvan. 7 Laws of Happiness. 2015. Jakarta : PT Integritas Lestari Manajemen
Susanto, Dedy. Pemulihan Jiwa. 2012. Jakarta: Transmedia Pustaka

Jumat, 11 Mei 2018

Apa Makna Usia 30 Buat Kamu?

           Satu minggu setelah ulang tahun saya yang ke 28, saya duduk sendirian di ruang meeting Ndalem Sasana Mulya, waktu sudah hampir pukul 11 malam tapi saya masih belum ingin beranjak untuk beristirahat dan tidur. Laptop masih menyala, berisi design publikasi yang rasanya tidak selesai-selesai, playlist music sudah habis satu jam yang lalu tapi tidak ada niatan untuk me-replay lagi. Seems like a lot of things rushing in my head. Membayangkan usia 20an akan segera berakhir dan ada banyak hal yang belum saya lakukan, membayangkan langkah di tengah kabut untuk memulai umur 30an. Rasanya antara dada sesak, kepala berat ke belakang dan pundak seperti memanggul sakaguru di pendopo Sasana Mulya.

            Enam bulan kemudian saya membaca sebuah artikel di Huffingtonpost, berjudul Apa Makna Usia 30 Tahun Bagi Seseorang di Seluruh Dunia (ori: What Turning 30 Years Old Means to People Around the World) yang memberi kesimpulan kepada saya bahwa apa yang saya rasakan 6 bulan yang lalu, juga pernah dirasakan oleh sebagian orang di seluruh dunia ini. Meskipun latar belakang gender, pendidikan, budaya, pekerjaan dan keluarga memberikan pengaruh yang berbeda bagi setiap orang.

Contohnya Stefanie, seorang penulis & model yang tinggal di New York. Dia mengatakan “I don’t really care about being 30, I am confident enough to just not care

Oscar, seorang pekerja tambang asal Potosi, Bolivia mengatakan “Turning 30 did not change much in life. I got my first children quite early (21 yo) and all responsibilities came that time”.

Anne, seorang konsultan yang tinggal di Paris mengatakan “I am 30, I don’t feel old, I am young at heart. That’s what really matters!

Sementara Beatrice, seorang entrepreneur asal Malawi, Afrika, mengatakan “I am old, because 30 is a lot of years. I have 3 children already, the oldest is 11. That almost as if the next generation was already there. It seems like my life is already settled and won’t deviate much from what it is now in the future

          Mungkin bagi Stefanie & Anne yang tinggal sebuah kota besar di negara maju, usia hanyalah sekedar angka yang sama sekali tidak akan mempengaruhi apapun tentang dirinya, maupun pandangan orang lain akan dirinya. Masyarakat negara maju memahami betul bahwa usia bukanlah sebuah ukuran untuk menilai seseorang, bahkan mereka juga tidak terlalu peduli untuk menilai orang lain.


          Berbeda dengan Oscar & Beatrice yang tinggal di negara berkembang, dimana adat, budaya & pandangan masyarakat masih menjadi semacam pakaian yang sulit dilepas. Usia 30 adalah usia settled dimana semua orang haruslah sudah mapan di usia itu, sudah memiliki anak, sudah menjalani kehidupan sebagaimana orang-orang pendahulu mereka yang bekerja keras dan bukan saatnya lagi untuk memulai pekerjaan atau hal-hal baru.

      Saya mencoba bertukar pikiran dengan beberapa orang teman yang sama-sama hampir mengakhiri 20an, dan ternyata pandangan mereka membuka mata saya.

          Sebut saja Mas Indra yang November nanti genap 30, dia sudah mempersiapkan akan menikah setelah lebaran nanti, dia sendiri dengan jujur mengatakan bahwa siap tidak siap harus memenuhi target menikah sebelum usia 30, sebuat target yang dia buat sendiri, dan secara konsisten dia penuhi sendiri. Bagi Indra usia 30 adalah usia untuk memulai sebuah kehidupan yang settled, kehidupan yang secara konsisten dia jalani dengan penuh komitmen, menjalankan rencana yang sudah dirancang sejak usia 20an, menikah, punya anak, punya rumah sendiri, nggak pindah-pindah kerja lagi, tidak berlarian mencari pengalaman, melainkan mulai memanfaatkan pengalaman yang sudah didapat selama ini dan menekuni apa yang sudah dimulai. That’s it.

          Beda lagi dengan mbak Nia yang sudah resmi 30 sejak Februari kemarin. Bagi Nia yang sudah berkeluarga dan punya anak 1, usia 30 adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan karier. Anaknya yang sudah berumur 4 tahun sudah bisa ditinggal dengan kesibukan-kesibukan kantor dan bisa lebih leluasa berbagi tugas dengan suami. Mbak Nia juga sudah mempersiapkan budget sejak kelahiran anaknya agar bisa memasukan anaknya ke sekolah usia dini yang fullday agar dia bisa lebih fokus terhadap karier. Baginya, anak dan keluarga adalah motivasi terbesarnya untuk meningkatkan karier, supaya masa depan lebih mudah.


          Berlawanan dengan Mbak Andri yang berusia 30 di Januari tahun depan, dia malah berencana resign dari pekerjaan agar bisa lebih fokus dengan keluarga. Apalagi dia berencana ingin punya anak kedua di usia 30 nanti. Bagi Andri, usia 30 adalah usia yang tepat untuk memantapkan tujuan hidup, dia secara sadar dan penuh tanggungjawab memantapkan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Dia sadar ketika usianya masih 20an banyak sekali ambisi dan target yang dia kejar. Meskipun tidak semuanya terpenuhi, dia merasa bahwa usia 30 adalah sudah bukan saatnya lagi untuk mengejar sesuatu yang muluk-muluk, melainkan menetapkan target hidup yang lebih realistis, apalagi yang sudah berkeluarga maka harus secara rasional membagi waktu, materi dan energy antara cita-cita dan keluarga. Bagaimana dengan ambisi yang tidak terpenuhi? Well, dia sudah mengikhlaskannya. Baginya prioritasnya saat ini adalah keluarga kecilnya.

          Now, Dani yang berulangtahun ke 30 di bulan Juni tahun depan. Baginya usia 30 hanyalah perubahan dari yang biasanya dipanggil “Mas” oleh reception kantor menjadi dipanggil “Pak”. Menjadi anak bungsu di keluarganya meyakinkan dia bahwa orang tuanya sudah cukup bangga dengan pencapaian kakak-kakaknya, karena itu dia memilih untuk menikmati setiap detik dalam hidupnya untuk mencapai target yang dia buat sendiri tanpa terpengaruh tuntutan untuk menjadi “seseorang” dan tuntutan untuk bebas pertanyaan “kamu kapan nikah?” saat halal bihalal lebaran. Meskipun belum ada rencana menikah, bahkan calonpun belum ada, Dani mulai secara konsisten menabung dan memikirkan keamanan finansial di masa depan. Dani awalnya banyak menghabiskan uang untuk trip & jalan-jalan, seperti backpacker-an ke Raja Ampat, Komodo, Jepang, Macau, dll. Kini mendekati 30, dia akan fokus menggunakan uang untuk mempersiapkan masa depan. Setidaknya selama ini dia menggunakan uangnya untuk mendapatkan pengalaman & petualangan yang 'immortal', bukan untuk membeli benda-benda yang 'mortal' seperti pakaian bermerek, suplemen atau aksesoris yang sebetulnya tidak benar-benar dia butuhkan.

          Ada lagi Jeng Tia, dia sama sekali tidak mau diingatkan bahwa sebentar lagi usianya 30, bahkan tidak mau mendengar kata “tiga puluh” atau melihat angka 30. Cukup unik memang yang satu ini.

          Tapi semua itu hanyalah sebuah random sampling opini dan stereotype yang setiap orang bebas memiliki pendapatnya sendiri. Saya sendiri yang sebentar lagi memasuki dekade ke 3 awalnya merasakan sesuatu yang nano-nano. Antara senang, sedih, deg-degan, bingung what to do next, dan perasaan-perasaan lain yang unexplainable. Perasaan antara nilai keterikatan sosial orang timur dengan nilai kebebasan individu orang barat.


          Kini saya lebih banyak menikmati sisa 20an saya dengan target-target yang secara realistis bisa saya lakukan. Saya lebih banyak bersyukur dengan mengenang kembali apa yang telah saya capai. Bersyukur atas perjalanan hidup yang mungkin memang tidak mulus seperti yang direncanakan, tapi perjalanan itu membawa saya kepada sebuah keadaan yang penuh petualangan hidup. Bersyukur merasakan moment yang begitu intim dengan Tuhan pada saat-saat keterpurukan. Tapi juga bersyukur setidaknya pernah merasakan pulang hampir subuh dengan linglung dan mulut berbau alcohol. Bersyukur pernah bertemu dengan orang-orang hebat, dan berteman dengan orang-orang baik meskipun mereka datang dan pergi silih berganti.

          Kini menyambut usia 30, saya tidak akan terlalu serius dan kaku dengan keadaan, toh memang kita tidak diciptakan untuk bisa memenuhi harapan semua orang. Saya juga tidak akan banyak menuntut diri sendiri dan orang lain dengan standart yang saya buat. Kita banyak menentukan standard di usia 20an, karena memang usia 20an adalah usia pencarian jatidiri. Kita membuat list pekerjaan, lifestyle, posesi, obsesi, pasangan hidup, pesta pernikahan dengan standart setinggi mungkin yang bisa kita buat. Di usia 30an kita akan menentukan secara lebih jernih siapa diri kita sebenarnya sebagai seorang individu dan juga sebagai bagian dari system sosial. Berbagai masalah dan kesukaran yang kita alami di usia 20an akan menuntun kita menuju hidup yang lebih terarah di usia 30

          Kita akan lebih bijaksana terhadap keadaan, lebih empati terhadap orang lain dan lebih bersyukur atas apa yang telah dilalui. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan, toh buat apa membuang energy untuk sesuatu yang tak dapat kita tolak?

Surabaya, 11 Mei 2018
R. Shantika Wijayaningrat


Sumber Referensi
Jenny Zhang, What Turning 30 Years Old Means to People Around the World. Huffingtonpost. 2015: New York
https://www.psychologytoday.com/articles/199409/learning-love-growing-old
Midi-life Crisis. Cambridge University Press
Serat Wulangreh (Paku Buwono IV)
Serat Wedatama (Mangkunegara IV)


Rabu, 25 April 2018

Let's Go Nyadran 2


From Previous Post Let's Go Nyadran 1

Sedangkan bagi kerabat keraton, baik itu di Solo maupun Jogja, tradisi nyadran meskipun lebih sederhana yaitu hanya berziarah dan mendoakan para leluhur, namun seperti yang saya sebut diawal menjadi tidak terlalu sederhana mengingat lokasi makam yang diziarahi terpencar di beberapa kota. Ada 2 jenis nyadran yang biasa dilakukan oleh kerabat keraton, yaitu sebut saja nyadran full dan nyadran shortcut. Nyadran full biasanya dilakukan dengan berziarah ke:
  1. Makam Raja-Raja di Kotagedhe – Yogyakarta,
    Makam Raja-Raja di Imogiri – Bantul,
    Makam Kyai Ageng Nis di Laweyan – Solo,
    Makam Manang – Sukoharjo,
    Makam Kyai Ageng Pengging – Sri Makurung di Boyolali,
    Makam Bathara Katong – Ponorogo,
    Makam Amangkurat Agung – Tegal,
    Makam Sunan Kalijaga – Masjid Demak di Demak,
    Makam Kyai Ageng Selo – Kyai Ageng Tarub di Grobogan
    Makam-makam leluhur keraton lain seperti Kartasura, Balakan, Majasto, Giring, Butuh, Prawoto, Banyu Sumurup, Girilaya, Gunung Kelir, Giri Kedhaton, dll. (Tentative)
Nyadran Full, selain membutuhkan waktu yang longgar juga membutuhkan tenaga yang besar, karena makam leluhur yang dikunjungi tidak sedikit, terutama pada waktu di Imogiri. Di Imogiri saja kita
Abdi dalem jurukunci membawakan bunga di Imogiri
harus nyekar paling tidak 15 raja beserta permaisuri masing-masing yang terbagi dalam 5 kedhaton (5 kompleks makam) yang berarti kita harus naik turun bukit 5 kali dengan memakai pakaian jawi jangkep (beskap) & kemben bagi perempuan. 

Belum lagi kalau kita juga masih ada garis keturunan dari Keraton Yogyakarta, maka kita bisa naik turun bukit sampai 8 kali. Tidak jarang di makam terakhir pakaian sudah kusut penuh keringat, nyamping (jarik) sudah hampir jebol, sanggul sudah hampir lepas dari kepala. Karena sebelum ke Imogiri biasanya selalu didahului ke Makam Kotagedhe dengan kostum yang sama, jadi seharian penuh sampai hampir tengah malam ber-jawi jangkep.

Makam Sunan Paku Buwono XII
Nyadran full juga membutuhkan biaya yang besar, apalagi memasuki bulan Ruwah harga bunga tabur naik secara drastis. Mawar yang biasanya seharga Rp.200.000,- /kantong, naik hingga mencapai harga Rp. 850.000,-/kantong. Padahal untuk berziarah ke Kotagedhe & Imogiri saja paling tidak membutuhkan 10 kantong bunga, belum lagi melati ronce, melati tabur & kenanga yang harganya tidak kalah fantastis, masih ditambah biaya tindih abdi dalem juru kunci yaitu semacam tips yang diberikan kepada petugas makam yang jumlahnya mencapai 50 orang. Karena itu nyadran full biasanya diadakan secara kolektif atau bersama-sama oleh kerabat keraton, sehingga biaya yang dikeluarkan terasa lebih ringan.

Sementara Nyadran Shortcut, bisa lebih fleksibel dengan waktu yang lebih singkat. Hanya tiga makam utama yang dikunjungi yaitu Makam Kyai Ageng Nis, Makam Kotagedhe dan Makam Imogiri. Di Makam Imogiri inipun juga masih di shortcut lagi, yaitu makam Sultan Agung langsung menuju makam Sunan Paku Buwono X atau menuju raja pancer dari keluarganya masing-masing. Nyadran jenis ini bisa dilakukan cukup satu hari saja, dengan biaya yang tidak terlalu besar. Karena bunga satu kantong saja sudah cukup, tips petugas makam juga tidak terlalu banyak karena tidak semua makam dibuka.

Tangga menuju makam Sunan Paku Buwono X
Terlepas dari dari jenis nyadran mana yang biasa kita lakukan, berziarah ke makam orang tua dan leluhur memiliki manfaat yang besar bagi kita. Nyadran menyadarkan kita bahwa hidup ini adalah menanam, yang kita tanam selama hidup akan kita tuai setelah mati.

Menyadarkan apakah bekal yang kita kumpulkan sudah cukup untuk mencapai kehidupan yang abadi nanti.

Menyadarkan bahwa tanpa perjuangan mereka, doa mereka, tirakat mereka, kita tidak mungkin bisa hidup seperti saat ini. Toh tidak ada orang tua yang mendoakan anak keturunannya kelak akan hidup susah dan kekurangan. Pasti mereka mendoakan kehidupan kita lebih baik dari mereka

Menyadarkan apakah anak cucu kita nanti tidak lupa mendoakan kita, sebagaimana kita tidak lupa mendoakan leluhur kita. Kembali lagi, apa yang kita tanam pasti akan kita tuai, hidup ini bertimbal balik.

Surabaya, 25 April 2018

R. Shantika Wijayaningrat

Sumber Referensi :
Suseno, Franz Magnis. Etika Jawa. 1984. Jakarta: PT. Gramedia
Ringkasan Fiqih (Imam Syafii)
Serat Bauwarna (R.Ng. Ranggawarsita)
Serat Tatatjara (Ki Padmasusastra)
Serat Lelampahan Raden Mas Purwalelana (R.Adp.Arya. Candranagara)
wikipedia.org/sradha
wikipedia.org/atmawedana
pictures by google image
pictures by R.T. Priyantodipura

Let's Go Nyadran 1


Memasuki bulan ruwah dalam kalender Jawa tahun ini, ada satu hal yang membuat saya sedih sebetulnya, yaitu nggak bisa ikut nyadran. What is nyadran?

Nyadran dalam kebiasaan masyarakat Jawa adalah tradisi berziarah ke makam orang tua dan leluhur yang telah meninggal, yang dilakukan selama bulan ruwah/ sebelum ramadhan. Sebetulnya simple saja sih, cuma sekedar berziarah, kemudian berdoa untuk leluhur (eyang, buyut, canggah dst), tapi bagi yang memiliki hubungan dengan keraton, nyadran menjadi tidak terlalu simple mengingat banyaknya leluhur yang harus diziarahi dan didoakan, dan lagi banyak makam yang terpisah di kota-kota yang berbeda, sehingga membutuhkan waktu yang betul-betul longgar untuk melakukannya, hati juga harus betul-betul longgar, karena nyadran bukan sekedar kegiatan fisik, melainkan juga kegiatan spiritual. 

Saya akan mencoba bercerita sedikit mengenai asal-usul nyadran.

Upacara Shraaddha di tepi Sungai Gangga, India
Nyadran berasal dari Bahasa Sansekerta 'Shraaddha' yang berarti menunjukan bakti, sebuah ritual Hindu kuno. Umat Hindu di India maupun di Jawa Kuno melakukan upacara Shraaddha di bulan Shraaddha atau Badra (Agustus-September) menurut kalender Hindu. Upacara ini dilakukan untuk menunjukan tanda bakti kepada orang tua atau leluhur yang telah meninggal. Upacara Shraaddha biasanya dilakukan di kuil-kuil di tepi Sungai Gangga & Yamuna dengan disertai pemberian sedekah untuk para Brahmana dan orang-orang miskin.

Di Indonesia sendiri upacara Shraaddha di masa Jawa Kuno biasa dilakukan oleh keluarga raja di candi-candi dengan membuat makanan & persembahan untuk leluhur berwujud puspasharira yaitu patung yang terbuat dari bunga-bunga. Upacara ini dilakukan di candi karena jenasah leluhur pada masa itu dikremasi dan abunya ditempatkan di candi-candi. Ketika agama Islam masuk ke pulau Jawa, upacara shraaddha tidak betul-betul dilarang oleh para wali, melainkan diformat ulang dan diisi muatan islami di dalamnya. Menurut para wali melanjutkan tradisi nyadran tidak serta merta menjadikan seorang muslim menjadi Hindu (auto-murtad) karena upacara nyadran dalam Islam dianggap masih sesuai dengan perintah Rasulullah yang memerintahkan umatnya untuk berziarah kubur agar dapat mengingat kematian, meskipun orang-orang Jahiliyah  sebelum datangnya Islam juga biasa melakukannya, bahkan terbiasa tawaf, puasa dan kurban.
Upacara Atmawedana (Mamukur) oleh umat Hindu Bali

Umat Hindu Bali yang masih melanjutkan tradisi Majapahit, menyelenggarakan upacara Shraaddha ini dengan sebutan upacara Atmawedana atau Mamukur. Upacara ini ditujukan untuk mensucikan atma atau jiwa mereka yang telah meninggal. Sementara umat Islam di Jawa, melakukan upacara nyadran ketika memasuki bulan Ruwah. Kata 'ruwah' itu sendiri diyakini berasal dari kata arab 'arwahu' yang berarti roh atau jiwa. Karena itulah kadang nyadran ini disebut ruwahan atau barikan yang berarti memohon berkah.

Nyadran, Banguntapan - Yogyakarta
Meskipun tradisi nyadran sudah semakin luntur, akan tetapi sebagian masyarakat pedesaan Jawa masih melestarikan tradisi ini sebagai wujud bakti kepada orang tua yang telah meninggal. Upacara nyadran di pedesaan Jawa diawali dengan berkumpulnya seluruh keluarga di desa tersebut dengan membawa tumpeng beserta sesajen. Tempat berkumpul biasanya adalah lapangan atau jalanan dekat makam desa. Setelah didoakan secara islami oleh modin atau sesepuh setempat, tumpeng yang telah didoakan tersebut dimakan bersama-sama. Setelah itu acara diakhiri dengan membersihkan makam dan menaburkan bunga.

Di sebagian masyarakat Jawa yang lain, tradisi ruwahan hanyalah membersihkan dan berziarah di makam saja tanpa ada acara makan bersama.

Continued to Let's Go Nyadran 2

Sabtu, 31 Maret 2018

Sesaji: A Story






                Masyarakat Jawa dalam setiap siklus kehidupannya selalu menandainya dengan dengan ritual-ritual yang menghubungkan dirinya dengan Tuhan YME, sejak dirinya masih berada dalam kandungan hingga bertahun-tahun setelah ia meninggal.

                Dimulai dari tiga bulanan, tujuh bulanan, kelahiran, sepasaranselapananwetonansupitan, tetesan, tarapan, pernikahan, tumbuk ageng,  pemakaman, 3 harian, 7  harian, 40 harian, 100 harian, 1 tahunan, 2 tahunan hingga 1000 harian bahkan kol-kolan (haul). Belum lagi upacara-upacara khusus yang dilakukan untuk menandai sebuah moment yang tidak biasa seperti ruwatan, pindah rumah, membangun rumah, membuat tungku, membuat sumur, membeli kendaraan baru dan lain-lain.

                Upacara-upacara tersebut menandakan bahwa dalam keyakinan masyarakat Jawa segala hal yang terjadi dalam kehidupan manusia merupakan sebuah proses berurutan yang tak pernah putus yang merupakan kehendak Tuhan YME.

                Dalam upacara-upacara tersebut masyarakat Jawa selalu mempersiapkannya dengan baik dan membuat sesaji sesuai dengan momentumnya. Setiap upacara yang berbeda sesajinyapun juga berbeda. Bahkan saking pentingnya sesaji ini dalam masyarakat Jawa, hingga menganggap kesalahan dalam menyiapkan sesaji dapat berakibat proses kehidupan manusia tersebut akan terganggu, atau mendapatkan musibah. Sebetulnya apa yang membuat sesaji begitu signifikan dalam kehidupan masyarakat Jawa?

                Sesaji atau sajen secara literal berarti “sesuatu yang disajikan atau dipersembahkan”, dalam variasi lain di Jawa Timur disebut juga sandingan yang berarti “yang mendampingi”. Dalam KBBI sajen didefinisikan sebagai makanan (bunga-bungaan dan sebagainya) yang disajikan kepada orang halus dan sebagainya. Saya secara pribadi kurang begitu sreg dengan definisi yang disebutkan oleh KBBI karena dalam definisi tersebut, sesaji identik dengan penyembahan makhluk halus dan klenik untuk tujuan yang bertentangan dengan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat kita. Padahal tidak demikian.

Secara kontekstual sesaji dapat bermakna makanan, minuman, barang yang dipersembahkan kepada Tuhan dalam sebuah upacara ritual. Object dari persembahan ini adalah Tuhan, karena doa-doa yang diucapkan ditujukan kepada Tuhan. Akan lucu kiranya jika sesaji dikatakan dipersembahkan kepada makhluk halus tetapi doa yang dibaca memohonnya kepada Tuhan. Nggak nyambung.

Para ulama Keraton Surakarta mendoakan sesaji sebelum dibagi


Pemberian persembahan atau sesaji dapat dikatakan sejak manusia mengenal bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan. Dalam kitab-kitab suci agama samawi (Taurat, Injil & Alquran) menceritakan anak-anak Nabi Adam A.S. (Habil & Qabil) yang memberikan persembahan kepada Allah berupa binatang dan biji-bijian. Allah menerima persembahan Habil karena persembahannya merupakan yang terbaik yang bisa dia berikan. Sedangkan persembahan Qabil (Khain dalam versi Taurat & Bible) ditolak oleh Allah karena persembahan yang dia berikan asal-asalan, sedangkan yang terbaik Qabil makan sendiri. Cerita Habil-Qabil ini merupakan sebuah catatan kapan sesaji/sajen pertama kali dibuat

Hampir semua agama memilliki referensi persembahan kepada Tuhan. Agama Hindu mengatur tatacara persembahan dengan begitu detail dan kompleks dalam kitab Yajurweda dan Upanishad. Begitu pula dengan agama Konghucu dalam kitab Li Jing nya. Bagaimana dengan agama samawi? (Yahudi, Kristen & Islam). Jangan dikira agama samawi adalah agama yang bebas persembahan fisik atau sesajen. Dalam Taurat, Allah menyebutkan secara detail kepada Musa & Harun mengenai tatacara persembahan, mulai dari macam-macam binatang, buah-buahan, roti, biji-bijian, kemenyan dan minyak wangi yang harus dipersembahkan kepada Allah pada waktu upacara-upacara tertentu di Baitul Maqdis di Yerusalem (baca bagian Imamat & Ulangan). 

Alquran surah Almaidah ayat 27 juga menceritakan pertama kalinya manusia memberikan persembahan kepada Allah berupa binatang & biji-bijian, meskipun di masa kemudian Islam hanya mengenal onta, sapi & kambing sebagai kurban yang dipersembahkan kepada Allah SWT pada saat Idul Adha & Aqiqah.
Membakar bukhur (kemenyan)  di depan Kaabah

Beruntungnya kita tidak hidup di zaman Aztec di Mexico yang menjadikan nyawa dan tubuh manusia sebagai persembahan kepada dewa-dewa mereka.

Masyarakat jawa sendiri mengenal sajen sejak zaman purba sebelum mengenal agama Hindu. Hal ini terbukti dari ditemukannya berbagai macam benda & tulang binatang yang diletakan di dalam sarkofagus peti mati manusia purba. Kemudian ketika agama Hindu-Buddha masuk, sajen diatur dengan lebih detail mengikuti Weda & Upanishad yang disesuaikan dengan apa yang tersedia di sekitar masyarakat. 

Memasuki zaman Islam, para wali tidak melihat sesaji adalah suatu hal yang harus dihilangkan sama sekali karena bertentangan dengan agama Islam. Jika seandainya dianggap bertentangan dengan Agama Islam pastilah hari ini kita tidak bisa melihat orang membuat sajen lagi karena sudah dimusnahkan oleh para wali 500 tahun yang lalu. Tapi kenyataannya tradisi membuat sesaji masih ada sampai saat ini, hal ini membuktikan bahwa sesaji termasuk hal yang tidak dilarang oleh para pemuka agama Islam di masa lalu. Berbeda dengan tradisi membuat candi & arca dewa yang sudah punah sejak zaman Kesultanan Demak, karena memang dilarang keras oleh para pemuka agama di masa itu.

Namun demikian, muatan yang terkandung dalam sesaji kemudian diubah oleh para wali. yang awalnya sesaji merupakan persembahan kepada dewa-dewi, kemudian berubah menjadi simbol-simbol permohonan kepada Allah SWT. Saya ambil contoh yang paling gampang misalnya adalah pangider-ider, sajen pangider-ider berwujud tumpeng nasi kecil-kecil atau kadang bubur yang diberi warna kuning, merah, putih, hitam dengan posisi empat arah mata angin tertentu. Dalam agama Hindu empat warna ini merupakan lambang dari dewa – dewa lokapala yang berkuasa menjaga alam semesta dari empat arah mata angin. 

Putih     = Iswara di timur,
merah   = Brahma di selatan,
Image result for jenang 4 warna
Pengider ider

kuning = Mahadewa di barat,
hitam    = Wisnu di utara
campuran warna = Siwa di tengah.

Ketika agama Islam mulai masuk, muatan pangider-ider ini diganti sebagai symbol nafsu manusia yang harus dikendalikan, dan pangider-ider menjadi symbol permohonan kepada Allah SWT agar kita diberi kekuatan untuk mengendalikan nafsu.

Putih     = Nafsu Mutmainah
merah   = Nafsu Amarah
kuning = Nafsu Aluamah (Alwamah)
hitam    = Nafsu Mulkamah (Mulhamah)
campuran warna = Kamilah (Insan Kamil)

Tuwuhan
Contoh lain adalah Tuwuhan, yaitu sesajen yang selalu ada di pintu masuk rumah atau gedung pertemuan saat upacara pernikahan berlangsung. Tuwuhan selalu ada sepasang di kanan kiri pintu. Terdiri dari pisang raja beserta batangnya, tebu wulung, buah kelapa, daun beringin, padi, daun alang-alang, daun apa apa, daun keluwih, daun girang dan daun andong. Semua unsur dalam tuwuhan memiliki makna filosofi yang tinggi bagi pengantin, orang tua pengantin dan tamu undangan yang hadir. Jadi tuwuhan bukanlah sekedar dekorasi penghias ruangan.
Unsur-unsur dalam tuwuhan:
Pisang Raja
Bentuk sisiran pisang yang melengkung ke atas seperti tangan yang menengadah melambangkan permohonan doa kepada tamu yang hadir agar pengantin berdua memiliki kehidupan tenteram dan bahagia
Tebu Wulung
Tebu = AnTEBing kalBU melambangkan kemantaban hati untuk membina rumah tangga
Kelapa muda
Kelapa muda juga disebut sebagai Cengkir = kenCENGing piKIR melambangkan permohonan agar senantiasa diberi pikiran yang lurus
Padi
Melambangkan permohonan supaya tidak kekurangan dalam hal apapun termasuk sandang pangan
Daun Beringin
Melambangkan pengayoman keluarga dan keteduhan sebagaimana pohon beringin yang selalu menjadi tempat berteduh
Daun Alang-alang
Melambangkan permohonan supaya dijauhkan dari segala rintangan (Alangan)
Daun Apa-apa
Melambangkan permohonan supaya dijaukan dari segala musibah (Ora ana apa-apa)
Daun Keluwih
Melambangkan permohonan supaya kehidupan pengantin selalu berkelebihan (luwih-luwih)
Daun Girang
Melambangkan permohonan supaya kehidupannya diberkahi dengan kebahagiaan (tansah girang)
Daun Andong
Pohon andong yang selalu lurus dan biasa dipakai untuk pagar bermakna keluarga yang baru selalu mendapatkan perlindunan dari segala fitnah dan musibah
 


 Makna dari bunga 3 warna (Kembang Telon) yang selalu ada ketika ziarah ke makam, selamatan atau upacara-upacara lain.



                Zaman Hindu
Bunga Merah
Brahma
Pencipta alam
Bunga Hijau
Wisnu
Pemelihara alam
Bunga Putih
Siwa
Penghancur alam

Zaman Islam
Bunga Merah
Tasbih
Subhanallah
Bunga Hijau
Tahmid
Alhamdulillah
Bunga Putih
Takbir
Allahu akbar



Dan masih banyak lagi jenis jenis sajen yang mungkin akan menjadi disertasi doctoral  jika harus dijabarkan maknanya disini satu-persatu. Karena setidaknya ada 96 jenis jenang (bubur), 54 jenis tumpeng, belum lagi ratusan macam sesaji lainnya. Sangat sedih kiranya jika sajen diidentikan dengan penyembahan setan, pesugihan, mencari kesaktian apalagi makanan makhluk halus, toh makhluk halus juga tidak makan makanan semacam itu (they told me by themselves). Apalagi kalau mengingat sesajen itu enak dimakan bersama-sama setelah didoakan.

Sejujurnya saya sangat menyenangi melihat sesajen dan menangkap semua makna luhur dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya. Tak ada satupun dalam sajen itu yang memiliki makna buruk atau mengajak manusia untuk menjauhi Penciptanya. Sajen hanyalah simbol-simbol atau kata-kata sandi yang berisi permohonan kepada Allah untuk kebaikan manusia dan keharmonisan alam semesta.

Surabaya, 31 Maret 2018
R. Shantika Wijayaningrat 

Artikel ini ditulis dengan menggunakan sudut pandang sejarah & budaya, BUKAN sudut pandang agama.

Sumber Referensi
Suseno, Franz Magnis. Etika Jawa. 1984. Jakarta: PT Gramedia
Dipokusumo, KGPH. Dari Sesaji Menuju Makanan Siap Saji. 2017. Surakarta
Al Quran Al Karim (Kemenag RI 1999)
The Holy Bible (King James Version)
Tafsir Al Jalalain (Imam Jalaludin)
Tafsir Al Misbah (Prof. Dr. Quraish Shihab)
Ringkasan Fiqih (Imam Syafii)
Serat Centhini (Paku Buwono V)
Serat Bauwarna (R.Ng. Ranggawarsita)
Serat Tatatjara (Ki Padmasusastra)